Pagi itu sebenarnya berjalan tenang. Matahari sudah naik tapi sinarnya masih lembut, udara juga tidak terlalu panas. Yeonjun baru selesai sarapan, cangkir kopinya masih setengah penuh, dan ia sedang menikmati momen sunyi itu ketika ponselnya tiba-tiba bergetar tak henti.
Nama yang muncul di layar sudah cukup menjelaskan apa yang akan terjadi.
Begitu panggilan diangkat, suara berisik langsung memenuhi telinganya. Adiknya itu terdengar terburu-buru, napas naik turun, seperti sedang berjalan cepat sambil berbicara.
Ia mengatakan totebag-nya tertinggal di ruang tamu yang berisi kertas-kertas penting untuk penampilan band-nya nanti. Instruksi disampaikan tergesa, seolah seluruh sistem planet akan runtuh bila tas itu tidak sampai dalam beberapa menit ke depan.
Yeonjun hanya mendengarkan dalam diam, menatap meja sarapannya yang masih berantakan. Lalu pandangannya beralih ke totebag hitam yang tergeletak begitu santai di sofa, tidak terlihat penting sama sekali.
Mau tidak mau, ia bangkit. Ia mengambil tas itu, mengembuskan napas panjang, mengenakan jaket, lalu berangkat dengan rasa malas yang menempel di seluruh tubuhnya.
Pagi yang cerah, tapi hidupku tidak pernah ikut cerah kalau dia sudah mulai panik, pikirnya.
Perjalanan tidak lama, tapi venue yang ia tuju penuh dengan kendaraan parkir dan orang-orang sibuk membawa alat musik. Van band, mobil staf, kabel-kabel digulung, suara soundcheck samar-samar terdengar. Ia memarkir mobilnya di dekat gate utama, lalu menelfon Beomgyu karena ia tidak tahu harus mengantar tas itu ke mana.
“Gyu, aku sudah di depan. Ini aku mesti kemana?”
Dari seberang terdengar suara gaduh, seperti seseorang sedang berlari sambil bicara.
“Aku ke sana! Tunggu aja di mobil!”
“Kenapa aku harus—”
“Hyung tunggu aja! Aku OTW!”
Sambungan langsung mati.
Beberapa menit kemudian, sosok yang di nanti akhirnya muncul. Ia benar-benar berlari bukan berjalan cepat, dengan gitar masih menyampir di bahunya, rambut sedikit acak-acakan, wajah setengah panik. Yeonjun turun dari mobil sambil membawa tasnya.
“Kau lebih muda tapi lebih pikun,” katanya, nada kesalnya tidak disembunyikan sama sekali.
Lelaki dengan gitarnya itu langsung membungkuk dalam-dalam, berkali-kali, dramatis seperti pemain teater.
“Aku terharu sekali, Hyung! Kau datang! Aku hampir hancur sebagai lelaki tampan!” katanya sambil pura-pura menyeka mata, suaranya dibuat serak seolah menangis.
“Terima kasih! Terima kasih! Kau menyelamatkan reputasi band, dunia, dan masa depanku!”
Yang dipuja puji oleh sang adik hanya menatapnya datar. “Jangan dramatis. Ambil tasnya.”
Beomgyu mengambilnya dengan kedua tangan seolah menerima artefak suci. Tapi tetap saja ia membungkuk beberapa kali lagi sambil menarik napas panjang-panjang seolah emosional.
Yeonjun hanya menghela napas, lalu masuk kembali ke mobil.
Beomgyu melambaikan tangan berlebihan sebelum berlari lagi ke arah panggung.
"Ah, apa sebaiknya aku menontonnya saat ia tampil nanti?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengetuk-ngetuk jarinya pada setir mobil.
-------------------------------------
⛓️ 𝐂𝐇𝐀𝐈𝐍 ⛓️
-------------------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
Chain [Short Story]
ContoKakak beradik yang hidupnya penuh dengan : ribut soal hal sepele, saling jebak dengan keusilan, tapi tetap nggak bisa hidup tanpa satu sama lain. Dalam setiap keributan mereka, terselip momen manis yang menunjukkan bahwa di balik semua pertengkaran...
![Chain [Short Story]](https://img.wattpad.com/cover/333659552-64-k233783.jpg)