Sore itu, cafeteria kampus sedang ramai-ramainya. Suara baki beradu, aroma gorengan baru matang, dan antrean yang mengular sampai hampir menyentuh pintu masuk.
Yeonjun berdiri di antara teman-temannya, satu tangan memegang tray kosong, satu tangan lagi memasukkan kembali rambut yang jatuh ke dahinya.
Mereka mengobrol ringan soal kelas, tugas, dan dosen yang terlalu cepat menjelaskan rumus. Sesekali tawa kecil tercampur dengan suara sendok dan panci dari balik counter dapur.
Ketika tiba giliran mereka, lelaki tersebut mengambil nasi sedikit saja, lalu memilih lauk ayam goreng crispy yang renyah, sup hangat, dan beberapa side dish kecil yang menggugah selera.
Teman-temannya juga sibuk memilih sesuai dengan seleranya. Setelah pembayaran, mereka mencari meja kosong dekat jendela. Cahaya matahari mengalir lembut, membuat suasana makan siang terasa nyaman.
Mereka mulai makan tanpa banyak kata. Bunyi sendok garpu terdengar tenang. Hingga tiba-tiba, salah satu temannya menatap Yeonjun dan bertanya begitu saja setelah mengingat sesuatu yang lewat di kepala.
“Yeonjun punya adik ya?”
Yang ditanya mengangguk pelan, alisnya terangkat sedikit. Ia menjawab singkat, "Iya, kenapa?" tanpa benar-benar merasa itu hal yang menarik.
Teman-teman lainnya langsung ikut menoleh. “Serius? Laki-laki atau perempuan? Kami kira anak tunggal," kata yang lain sambil masih mengunyah.
Rasa penasaran itu berkembang cepat, seolah informasi itu penting untuk memahami keseluruhan eksistensinya.
Yeonjun terdiam sebentar, menelan makanannya dulu sebelum berkata, “Adikku laki-laki. Memang belum pernah cerita ya?”
Seluruh temannya menggeleng bersamaan, gerakan mereka hampir kompak.
Ada yang tertawa pelan sebelum berkomentar, “Enak ya punya adik. Ada temen mainnya. Apalagi laki-laki juga.”
Ada juga yang menimpali sambil menyeruput supnya, “Iya, pasti akur banget kalo sesama laki.”
Yeonjun menahan senyum. Terdengar seperti kalimat yang biasanya ditulis dalam brosur keluarga harmonis : kakak dan adik rukun, saling menyayangi dan sering bermain bersama.
Tapi kenyataan di kepalanya jauh berbeda.
Ia tertawa kecil bukan tawa lucu, tapi tawa tipis yang tidak terlalu sampai ke matanya sambil menunduk menatap sendoknya. Pikiran itu muncul begitu saja, bergema pelan dalam hati.
Entahlah, kita akurnya waktu tidur saja.
Tapi omongan temannya memang tidak salah mengenai 'enaknya mempunyai adik, apalagi laki-laki'. Secara tak sadar, ia tersenyum kecil. Lalu ia lanjut makan, seolah tak ada apa-apa.
-------------------------------------
⛓️ 𝐂𝐇𝐀𝐈𝐍 ⛓️
-------------------------------------
KAMU SEDANG MEMBACA
Chain [Short Story]
Short StoryKakak beradik yang hidupnya penuh dengan : ribut soal hal sepele, saling jebak dengan keusilan, tapi tetap nggak bisa hidup tanpa satu sama lain. Dalam setiap keributan mereka, terselip momen manis yang menunjukkan bahwa di balik semua pertengkaran...
![Chain [Short Story]](https://img.wattpad.com/cover/333659552-64-k233783.jpg)