MINE!

227 33 7
                                        

.
.
.
.
.

Sejak pertama kali bertemu, aku merasa sangat menyukainya. Ia memiliki wajah yang sangat cantik. Sangat lembut, seperti gula kapas. Matanya sangat indah. Aku sangat menyukai matanya ketika memantulkan wajahku ketika kita sedang bersama.

Milikku.

Semua berawal dari beberapa tahun yang lalu, ketika keluarga kami bertemu. Ia sangat imut, dengan jari-jari mungil dan pipinya yang jika disentuh seakan bisa mengeluarkan jus delima. Suaranya sangat manis seperti madu. Aku berandai, apakah rasanya sama seperti madu jika aku mencium bibir mungil itu?

Kita bersekolah di tempat yang sama. Aku selalu menjaganya sejak kecil. Aku juga tidak ingin dia didekati oleh anak lain selain diriku. Aku tidak rela. Aku hanya tidak ingin kehilangannya. Kehilangan suara lembut yang memanggil namaku.

Milikku.

Iris matanya sangat cerah. Emerald, sangat berharga. Namun, hari ini mata itu bersinar terlalu terang. Aku menyukainya, tetapi juga membencinya. Karena kini ia berada di pelukan orang lain.

Memaksakan senyum untuk kebahagiaannya itu terasa sangat menyakitkan. Apakah kamu pernah berada di posisiku? Pahamkah kamu?

"Sakura... mengapa bukan aku? Apa yang dia miliki tapi aku tidak memilikinya? Apa.. yang kurang dari diriku? Aku pikir kita dekat... Sangat dekat bahkan jika dipisahkan, kita akan terus mencari satu sama lain!!!"

Pertanyaan itu terus mengalir di kepalaku. Memenuhi otakku. Mempengaruhi pikiranku.

Sakura, apa kamu tahu? Kepalaku sedang diselimuti oleh kabut. Jika aku berkata aku sudah gila karenamu, mampu melakukan apapun demi memilikimu, apakah kamu akan ketakutan?

Tidak.

Milikku tak akan menolak ku.

Haha.

Sampai kapanpun, kamu itu milikku.

Milikku.

Yah, orang itu tidak pantas untukmu, sayang. Akan aku perlihatkan mengapa dia tidak pantas. Demikian, aku membawamu ke sebuah restoran. Di sana kamu dan aku melihat orang itu mencium gadis lain.

Kali ini mata indah itu bersedih. Kehilangan sinarnya. Air mata jatuh seperti hujan. Aku membencinya, tapi aku juga menyukainya. Lihatlah orang yang selalu kamu puja itu. Yang namanya selalu kamu sebut di setiap cerita indah yang kamu katakan kepadaku.

Setelahnya, beberapa hari kamu tidak menghubungiku. Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu. Lagipula, aku sangat pandai menunggu. Aku melihat ke arah kamar berdarah. Entah mengapa, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Sekarang, aku harus membuang pria sampah itu pada tempatnya. Ah, ini sangat menyenangkan.

Seperti yang diharapkan, Sakura datang kepadaku. Bersandar kepadaku lagi seperti dahulu. Benar-benar gadis yang malang. Dan entah mengapa, suasananya sangat bagus. Malam itu, aku perlahan menyentuhnya. Kami melewati batas persahabatan yang selalu menjadi penghalang. Saling menghangatkan dan berbagi kenyamanan. Tidak ada yang lebih indah dari hari ini. Aku sangat menyukainya.

Tapi mengapa kebahagiaanku selalu saja berakhir singkat? Aku mendengar bahwa dia mendapatkan kekasih baru. Tanganku mengepal sangat erat. Tak peduli jika darah mulai membasahi tanganku. Hatiku lebih sakit dari luka manapun yang pernah aku alami.

Sepertinya aku harus menyadarkanmu lagi, Sayang. Bahwa hanya aku yang bisa membahagiakanmu. Kemarilah, akan aku tunjukkan bahwa hanya aku yang pantas bersamamu.

Hari ini Sakura dan pria itu akan berkencan. Kasihan sekali gadis itu. Pria itu tak akan pernah datang lagi. Aku sudah memastikan bahwa pria itu tidak akan pernah bisa melihat wajahmu yang sangat indah itu. Memastikan bahwa mata itu hanya memantulkan diriku. Hanya aku!

Hujan mulai membasahi taman bermain itu. Kamu menunggu seperti gadis bodoh di sana. Aku tahu dari caramu duduk di sana dengan bahu yang bergetar, kamu menangis lagi. Aku tersenyum dan mengendarai mobilku menjauh dari tempat itu dan pulang. Aku bisa membayangkan wajahmu yang hancur dan penuh dnegan kekecewaan tersebut.

Saat itu sudah malam dengan hujan lebat dan petir yang menyambar ketika terdengar suara bel rumahku berbunyi. Benar saja, saat kamu melihatku, kamu langsung memelukku. Aku berpura-pura kebingungan dan menawarkan kehangatan kepadamu yang pastinya akan kamu terima dengan penuh ketidak berdayaanmu itu. Sakura, seharusnya kamu sadar. Dekapanku adalah tempat yang paling tepat untukmu. Bukan dekapan pria-pria bajingan itu.

Karena kamu itu milikku.

Tepat hari kelulusan kita di universitas, kita berfoto bersama. Seperti yang kuharapkan, foto kita berdua terlihat sangat serasi. Kita memang diciptakan untuk satu sama lain.

Saat itu, aku ingin melamarmu. Karena aku yakin kita memiliki perasaan yang sama tanpa harus mengungkapkannya lagi. Aku sudah mengeluarkan kotak cincin dan menunjukkannya padamu. Namun tak kusangka, kamu sedang mengandung anak dari pria lain. Aku hanya bisa kebingungan dan tercengang. Kamu pergi meninggalkanku sekali lagi. Memilih bersama pria lain dan memutuskan untuk menikah dengannya.

Baiklah. Karena kamu tak pernah memikirkan perasaanku. Aku juga tak akan pernah memikirkan perasaanmu lagi. Kamu selalu melakukan apapun semaumu, dan akupun akan begitu. Apa yang bisa kamu lakukan tanpa aku pada akhirnya? Bahkan ketika aku memaksamu meninggalkan hari pernikahanmu, aku tidak peduli! Lagipula kamu itu sudah menjadi milikku seorang.

Aku mengikatmu bersamaku seperti ular. Mencekikmu dan memaksamu menyerahkan jiwa dan ragamu padaku. Menyuntikkan racun agar kamu tahu betapa aku sangat terluka dengan sikap dan pilihanmu yang konyol itu. Menempatkanmu di dalam kandang yang aku ciptakan untukmu. Di pulau ini, hanya ada rumah kita satu-satunya. Membuatmu seakan hanya bisa bernapas jika ada aku di dekatmu.

Suatu ketika bayi itu terlahir dengan wajah yang tak pernah aku bayangkan sangat mirip dengan diriku. Aku memandangi wajah bayi yang merupakan perpaduan sempurna antara aku dan sakura. Aku melihat ke arah gadis itu dengan bingung. Anehnya, wanita cantik itu hanya tersenyum. Senyumnya membuat jantungku berdebar lebih kencang. Seketika menyadarkanku dengan kebodohanku selama ini.

Saat itu, aku hanya bisa tertawa sangat kencang hampir gila.

Menyadari bahwa aku telah jatuh ke dalam permainan wanita licik ini.

Gadis itu menyentuh pipiku dengan kegilaan yang sama sepertiku terpancar dimatanya. Bibirnya mengatakan sesuatu yang membuat pria itu berlutut untuknya.
.
.
.
Gadis itu hanya bisa terkekeh pelan ketika ia melihat Sasuke yang membuang kantong plastik berisi daging manusia di tempat sampah.

Sejak kecil, ia tidak mungkin tidak menyadari obsesi dari anak laki-laki yang manis itu. Hanya saja, Sakura adalah gadis yang mudah bosan. Oleh karena itu, marilah kita poles pria ini menjadi mainan yang lebih menarik!

Mata gelap itu tak disangka terlihat sangat luar biasa indah di saat terbakar oleh api kecemburuan. Sakura memperhatikannya dan sangat menikmati perasaan di puja gila-gilaan seperti ini.

Menyakiti dan mengobati. Terus seperti itu. Menghancurkan dan memperbaiki satu sama lain. Darah menetes dari hidung Sakura. Matanya mabuk oleh kesenangan yang tak berujung ini. Sedikit lagi, dan akhirnya permainan ini mencapai akhir yang memuaskan.

Gadis itu memandangi pria yang berlutut  sembari memegang bayi mereka. Ia mengelus pelan pipi pria tersebut, "Milikku."

.
.
.
.
.

-

END-

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 12 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cerita Random SasuSakuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang