Monster

77 7 10
                                        

Suasana di belakang panggung Gayo Daejun terasa begitu kacau sekaligus megah. Aroma parfum mahal bercampur dengan bau hairspray menyengat di udara. Beberapa staf berlarian ke sana kemari, sementara di lorong sempit menuju panggung utama, anggota Red Velvet dan Aespa berdiri berdampingan. Mereka sibuk melakukan pengecekan terakhir sebelum menampilkan kolaborasi spesial mereka.

Irene berdiri diam, membiarkan penata rias menambahkan lipstik di bibirnya. Matanya yang tajam tak sengaja menangkap sesuatu yang berkilau di bawah lampu neon. Tepat di lengan kostum hitam yang dikenakan Jimin, sebuah jarum pentul masih menancap. Bagian ujungnya yang runcing menyembul keluar, siap melukai kulit jika Jimin melakukan koreografi yang intens.

Tanpa ekspresi, Irene melangkah mendekat. Dia meraih lengan Jimin hingga membuat gadis itu terkejut.

"Irene Eonni? Ada apa?" tanya Jimin dengan nada manis yang dibuat-buat.

Irene tidak menjawab. Dia melempar tatapan ke arah stylist Aespa yang berdiri tak jauh dari sana.

"Ada jarum di lengannya. Ambil sekarang kalau kau tidak mau dia berdarah di atas panggung," ucapnya dingin dan memerintah.

Si stylist pucat pasi. Dengan tangan gemetar, ia segera mencabut jarum itu sembari membungkuk meminta maaf berkali-kali. Jimin tampak tertegun, menatap lengannya lalu menatap Irene.

Irene membiarkan tatapan mereka bersirobok sejenak, sebelum ia berbalik dan menjauh tanpa sepatah kata pun.

Sepuluh menit kemudian, penampilan kolaborasi mereka sukses besar. Riuh tepuk tangan dan teriakan penonton masih terdengar saat mereka turun dari panggung. Ketika melewati lorong yang minim cahaya, Irene merasakan seseorang menyentuh punggungnya, membuatnya spontan menoleh. Rupanya itu Jimin bersama dengan senyumnya yang lebar—penuh kepalsuan.

"Irene Eonni, terima kasih soal tadi," ucap Jimin lantang, berpacu dengan dentuman musik yang menggetarkan lantai. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Eonni tidak melihat jarum itu. Eonni benar-benar malaikat pelindungku."

Irene begitu malas meladeni, tapi ia juga sudah muak menyaksikan kemunafikan juniornya itu. Dia pun menyejajarkan langkah, lalu mencondongkan wajah.

"Jimin-ah, ikut denganku sebentar. Ada yang ingin kubicarakan."

Jimin terlihat ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. Irene menuntun Jimin melewati deretan flight case yang disusun tinggi, area teknisi kabel, hingga mereka tiba di sebuah koridor sempit di dekat pintu keluar darurat yang jarang dilalui.

Dentuman musik dari panggung utama kini terdengar seperti detak jantung yang teredam dinding beton. Jauh lebih tenang, jauh lebih mengintimidasi.

Irene berbalik, lalu bersedekap, menatap Jimin yang kini tampak gelisah.

"Kenapa diam? Tadi kau punya banyak sekali kata-kata manis untukku di depan orang-orang." Irene memecah kesunyian dengan nada yang cukup tenang.

"Eonnie, aku tidak mengerti apa maksudmu." Jimin memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar. "Aku hanya ingin berterima kasih."

"Angktingmu sangat payah, Jimin-ah," seringai Irene. Dia maju selangkah, membuat Jimin terpojok ke dinding di belakangnya. "Aku tahu kau membenciku. Kau menyebutku idol terburuk yang pernah kau temui dan ikut menyebarkan rumor sampah tentang bagaimana aku bisa debut."

Mata Jimin membelalak. Topengnya retak seketika.

"E-Eonnie... Itu..."

Irene sontak mendekatkan wajah, membiarkan Jimin merasakan aura dingin yang memancar darinya. "Kau pikir dengan menjelek-jelekkanku, kau akan naik ke levelku? Sadarlah, posisimu bahkan belum cukup kuat untuk sekadar menyentuh bayanganku."

No One KnowsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang