"Bagaimana dengan penerbangan ke Tokyo? Anggota yang lain sudah berangkat, kan?"
Irene mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Hatinya masih berat membayangkan hubungannya akan dicampuri agensi, tapi ia sadar terus memperdebatkan hal itu hanya akan melukai perasaan Junmyeon yang terlanjur berada di sini.
Manajer Song mengangguk pelan, "Mereka berangkat sesuai jadwal. Kau tidak perlu khawatir, Seulgi dan Wendy memastikan semuanya terkendali. Tapi mengenai partisipasimu di konser..." Dia menjeda kalimatnya, melirik Junmyeon sebentar sebelum melanjutkan, "Agensi sedang berdiskusi dengan pihak promotor mengenai pembatalan kehadiranmu."
"Tidak. Jangan dibatalkan," sergah Irene.
"Kau tetap ingin hadir?" Manajer Song tampak terkejut.
Irene memberi anggukan mantap, "Setelah cairan infusku habis, aku bisa menyusul dengan penerbangan sore atau malam. Aku hanya perlu istirahat beberapa jam lagi."
"Tidak, Joohyun-ah." Junmyeon menginterupsi, suaranya rendah namun tajam. "Kau pingsan dengan suhu tubuh hampir empat puluh derajat. Kau tidak akan ke mana-mana sampai dokter menyatakan kau benar-benar pulih."
"Aku leader-nya, Junmyeon-ah. Aku tidak bisa membiarkan grupku tampil pincang di konser agensi," balas Irene defensif. "Kami sudah berlatih keras dan ingin menyapa para penggemar dengan gembira, bukan dengan kabar aku jatuh sakit."
"Pikirkan dulu dirimu sebelum memikirkan orang lain!" Junmyeon menyambar, kali ini dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah. "Kau tetap di sini, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun maskapai yang mau menerbangkanmu hari ini."
Suasana seketika jatuh dalam keheningan pekat. Irene tahu Junmyeon tidak main-main dengan ucapannya. Dengan segala kuasa yang ia miliki, mewujudkan hal itu bukanlah perkara sulit.
"Kumohon, Junmyeon-ah," ucap Irene, menatap nanar sang kekasih. "Aku hanya akan semakin sakit jika kau seperti ini."
Waktu seolah membeku di antara mereka, namun Irene bisa merasakan genggaman Junmyeon kian erat.
"Baiklah," kata Junmyeon akhirnya. "Jika kau berkeras ingin pergi, aku tidak akan melarangmu. Tapi dengan satu syarat."
Irene menatap penuh tanya, menanti Junmyeon melanjutkan kalimatnya.
"Kau akan ke Tokyo bersamaku. Dengan pesawat pribadiku," tegas Junmyeon. "Aku akan memastikan kau sampai di hotel dengan aman, dan aku akan berada di sana selama konser berlangsung. Jika aku melihatmu goyah sedikit saja, aku sendiri yang akan menyeretmu turun dari panggung."
"Itu terlalu berisiko, Junmyeon-ah," bantah Irene. "Agensiku tidak akan suka hal yang mendadak seperti ini. Aku harus menjelaskan pada mereka tentang hubungan kita pelan-pelan."
"Soal itu, biar aku yang urus," sahut Manajer Song tiba-tiba. Lelaki itu menatap Irene dengan tatapan meyakinkan. "Aku akan membicarakannya dengan agensi baik-baik. Mereka pasti bisa mengerti. Toh, ini buka pertama kalinya mereka menghadapi artis yang berkencan. Hubungan kalian juga tidak bocor ke publik. Tidak ada yang perlu dikhawatir."
Manajernya salah besar. Begitu banyak hal yang kini membuat Irene cemas, tapi ia tidak lagi punya celah untuk membantah.
"Istirahatlah," kata Junmyeon di sela keheningan. "Keputusanku sudah bulat, Joohyun-ah. Kau hanya bisa memilih pergi bersamaku atau tidak ke mana-mana."
****
Jet pribadi milik keluarga Junmyeon kini mengudara, membelah awan sore dengan stabil. Junmyeon duduk bersandar pada recliner yang empuk. Dia tidak menyentuh laptop atau dokumen kerjanya sama sekali—yang kerap ia lakukan selama penerbangan.
Tatapannya melekat pada wanita yang duduk di hadapannya. Sejak pesawat meninggalkan landasan, Irene bungkam seribu bahasa. Sambil berselimut kasmir, Irene menatap kosong ke arah jendela yang membingkai hamparan langit kuning keemasan berhias gumpalan-gumpalan awan.
"Bagaimana kondisimu? Sudah merasa lebih baik?" tanya Junmyeon lembut. Tangannya terulur menyentuh dahi Irene. Panas tubuhnya sudah cukup menurun.
Irene mengangguk pelan. Bibirnya tak bergerak sedikit pun. Matanya hanya menatap Junmyeon sekilas sebelum kembali beralih pada pemandangan di luar jendela.
"Kau marah padaku?" todong Junmyeon akhirnya, tak tahan dengan keheningan yang menyesakkan itu.
Irene menatapnya lagi, kali ini dengan helaan napas kecil. Dia menggeleng, "Aku tidak marah. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap pada semua orang setelah sampai di Tokyo nanti."
"Bersikap saja seperti biasa, Joohyun-ah. Memangnya apa yang salah dengan hubungan kita?" Junmyeon bertanya dengan nada tenang yang berwibawa. "Ini juga bukan pertama kalinya agensimu tahu kau punya kekasih, kan?"
Tentu saja Junmyeon tahu Irene pernah berkencan dengan senior seagensinya jauh sebelum menjalin hubungan dengannya. Fakta itu cukup menjadi sinyal bahwa agensi Irene sebenarnya bisa berkompromi dengan hubungan asmara artisnya.
"Selama hubungan kita tidak bocor ke publik, artinya aman, kan?" desak Junmyeon. Dia mencongkan tubuh, meraih lembut tangan Irene. "Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kenyamananmu adalah kenyamananku juga."
Kali ini Irene menatap Junmyeon lebih lama. Keheningan panjang merayap di antara mereka, menyisakan deru mesin pesawat hingga akhirnya Irene mengangguk bersama senyum yang terlihat agak dipaksakan–setidaknya, itu yang ditangkap Junmyeon dari sinar matanya yang redup.
"Ada lagi yang membuatmu khawatir, Sayang?" tanya Junmyeon lembut.
Sekali lagi, Irene hanya menggeleng tanpa suara. Dia menarik selimutnya lebih tinggi seolah ingin bersembunyi di baliknya.
Junmyeon tidak bertanya lebih jauh. Dia memilih menghargai keheningan itu, namun kini pikirannya tidak setenang wajahnya. Pesan teror yang sempat ia lihat di ponsel Irene kembali menyusupi benaknya.
Apakah pesan penuh kebencian itu masih terus mengusik Irene?
Kegelisahan Jumnyeon kian memuncak, mengingat penyelidikannya yang menemui jalan buntu. Dia sudah mengerahkan segala upaya dan koneksinya, tapi informasi tentang kematian gadis bernama Kim Sowon itu begitu minim. Jangankan penyebab kematiannya, bahkan informasi mengenai di mana abu kremasinya disemayamkan pun tidak ditemukan di catatan mana pun.
Kebuntuan yang terasa tak wajar itu berhasil membangkitkan pemikiran liar di kepala Junmyeon. Mungkinkah kematian gadis itu dipalsukan? Jika benar dia masih hidup, apakah sungguh sosoknya yang berada di balik pesan ancaman itu?
____
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
FanfictionSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
