Be Natural

72 9 12
                                        

Junmyeon kini duduk di area VIP yang dijaga ketat. Dari ketinggian, di balik kaca jendela besar, ia memantau stadion yang mulai menggelap, tanda konser akan segera masuk ke segmen berikutnya. Sesekali ia melirik layar ponselnya, menghitung waktu, berharap konser ini segera berakhir agar ia bisa kembali menemui Irene.

Jika bukan karena misi utamanya menjaga Irene, ia tidak begitu tertarik menonton penampilan artis-artis lain—ia bahkan tak tahu siapa mereka. Baginya hiruk-pikuk di bawah sana hanyalah distraksi bagi pikirannya yang belakangan ini dipenuhi banyak pertanyaan tak terjawab.

Lampu kembali menyoroti panggung. Musik menggelegar lagi, memicu teriakan ribuan penonton yang berubah menjadi lautan cahaya dari lightstick yang dikibas-kibaskan ke udara dengan ritme seragam.

"Lama tidak berjumpa, Junmyeon-ssi."

Suara berat seorang lelaki seketika membuat Junmyeon menoleh. Dia mendapati Chanyeol berdiri di sana, tampak santai dalam balutan oversized hoodie hitam dan celana kargo senada. Sebuah headset teknis melingkar di lehernya, memberi kesan bahwa ia adalah salah satu otak di balik kemegahan acara malam ini.

Meskipun berasal dari SMA yang sama dan sebelumnya sudah pernah diperkenalkan oleh Jongin, atmosfer di antara mereka tetap saja terasa kaku. Sambil mengulas senyum formal, Junmyeon bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Chanyeol.

"Apakah ruangan ini cukup nyaman untukmu?" tanya Chanyeol. Matanya menyapu interior mewah dalam ruangan sebelum kembali menatap Junmyeon.

"Tentu saja. Sangat nyaman," jawab Junmyeon tenang.

"Kalau perlu sesuatu katakan saja padaku." Chanyeol tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang apik. "Bagaimanapun, kau adalah tamu istimewa kami malam ini."

"Terima kasih atas perhatianmu, Kawan."

Perhatian keduanya sontak teralihkan ketika alunan intro musik yang powerful menggelegar memenuhi seisi stadion, berpadu dengan sorotan lampu merah yang meriah di tengah panggung. Kelima member Red Velvet kini bergerak penuh irama dengan senyum manis menghiasi wajah mereka.

Junmyeon menajamkan mata, langsung mengunci sosok Irene yang berada di posisi tengah dengan kostum merah bergaris hitam. Rasa cemas sekaligus kagum berperang di dada Junmyeon saat melihat wanita itu menari penuh energi seolah demam yang membungkus tubuhnya beberapa saat lalu tak pernah ada.

"Dia selalu terlihat memukau saat berada di panggung. Apa pun yang terjadi," kata Chanyeol. Tatapannya terpaku lurus ke arah panggung sambil melipat kedua tangan di depan perut.

"Sejujurnya, aku cukup khawatir. Dia sedang sakit, makanya aku sampai nekat ikut ke sini," sahut Junmyeon pelan namun tegas. "Aku tidak peduli lagi dengan agensi atau paparazi yang selalu dia takuti di luar sana."

Chanyeol menyeringai tipis, "Tidak perlu khawatir. Dia tidak selemah dan sepenakut yang kau pikirkan."

Junmyeon sontak menoleh, terkejut dengan nada bicara Chanyeol yang seolah lebih memahami kapasitas Irene dibanding dirinya. Sementara itu, tatapan Chanyeol masih lurus ke bawah, hingga detik berikutnya ia menoleh perlahan. Sekali lagi ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya.

"Ah, aku cukup mengenalnya dengan baik. Kami pernah menjalani masa pelatihan bersama-sama."

"Kau... juga seorang trainee?" tanya Junmyeon, mencoba mengendalikan rasa penasarannya yang membuncah.

Chanyeol mengangguk santai, "Tapi bukan sebagai penyanyi. Sebelum fokus menjadi produser, aku sempat menjalani masa pelatihan sebagai komposer. Ayahku tidak cukup baik hati untuk memberikan perusahaan ini secara cuma-cuma padaku tanpa aku harus merasakan dinginnya lantai ruang latihan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

No One KnowsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang