"Terima kasih, Eonni. Sentuhan tanganmu benar-benar mahakarya." Irene menatap puas pantulan dirinya di cermin yang tampak elegan dengan riasan bernuasan coral dan rambut bergelombang yang terurai di sisi kanan pundaknya.
"Terima kasih atas pujiannya, tapi hasilnya tidak akan seperti ini tanpa kecantikanmu. Percayalah, aku hanya memoles sedikit," sahut Stela yang bertanggung jawab atas penampilan Irene dan grupnya yang akan melakukan wawancara sekaligus pemotretan dengan sebuah majalah mode populer.
Irene menggeleng, "Justru aku tidak akan secantik ini tanpa riasanmu, Eonni."
"Kau bisa saja." Stela tampak tersanjung. Dia kemudian berpamitan pada Irene karena harus segera berpindah ke ruangan lain. "Kalau butuh sesuatu katakan saja pada Eunbi," pungkasnya.
Kepergian Stela segera meninggalkan keheningan. Eunbi tampak sibuk merapikan peralatan rias, sementara Irene masih enggan beranjak dari tempatnya. Dia ingin bercakap lebih banyak dengan Eunbi, tapi tidak tahu bagaimana harus memulai. Eunbi yang mungkin menyadari dirinya diperhatikan akhirnya menoleh.
"Ada lagi yang bisa kubantu?" tanyanya sopan.
"Kurasa tidak ada." Irene tersenyum ramah. "Kudengar kau baru bergabung di sini?"
"Iya, sudah berjalan dua bulan sejak aku diterima sebagai karyawan magang."
Irene manggut-manggut, teringat sikap sinis orang-orang salon terhadap Eunbi karena kabar yang mengatakan ia diterima bekerja karena memiliki koneksi. Sebagai salah satu salon ternama yang kebanyakan menangani konsumen kelas atas, perekrutan karyawannya memang terkenal sukar, yang bergabung pun rata-rata telah mumpuni di bidangnya.
"Sejak remaja aku sangat suka merias. Aku sering diam-diam membawa make up ke sekolah dan mendandani teman-temanku," ungkap Eunbi dengan senyuman malu-malu di wajahnya. "Bisa berada di sini bahkan diberi kesempatan ikut dalam tim yang merias Irene-ssi benar-benar terasa mimpi bagiku."
"Kau sudah bekerja keras. Kau pantas berada di sini," ucap Irene. Melihat kesigapan Eunbi sebagai asisten perias selama sesi make up tadi, Irene tahu Eunbi berusaha membuktikan kemampuannya.
"Terima kasih. Irene-ssi ternyata tidak hanya cantik, tapi juga sangat berkarisma."
"Jangan bilang begitu, nanti aku besar kepala." Irene terkikik, bertambah senang saat menyaksikan senyum gadis berambut sepunggung di hadapannya yang semakin lepas. "Oh ya, umurku dua puluh delapan tahun. Bagaimana denganmu?"
"Sungguh?" Eunbi melebarkan pupil. "Usiaku dua puluh enam, tapi Irene-ssi tampak jauh lebih muda dariku."
"Kau benar-benar pandai memuji." Irene menyipitkan pandangan yang kembali disambut tawa Eunbi. "Karena kita hanya terpaut dua tahun dan menurutmu aku terlihat lebih muda, bicara santai saja denganku."
"Apa tidak apa-apa?" Eunbi tampak ragu, tapi Irene segera mengangguk yakin. Sesaat Eunbi menggigit bibir bawahnya sebelum melanjutkan, "Kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu Eonni? Sejujurnya, aku tidak memiliki saudara dan belum bisa bergaul dengan baik di sini."
"Kebetulan sekali, aku juga anak tunggal." Dengan girang Irene bangkit dari kursi rias dan menjulurkan tangan pada Eunbi. "Baiklah, mulai hari ini kau adalah adikku!"
Bibir Eunbi yang mungil seperti buah ceri membentangkan senyuman lebar. Dia menjabat Irene dengan kedua tangan. Ketegangan yang menyertai rautnya lenyap tak berbekas. Sayang, kegembiraan mereka mesti terhenti ketika wajah Manajer Song tiba-tiba menyembul dari balik pintu. Lelaki itu membungkuk sebentar pada Eunbi sebelum meminta Irene bergegas untuk menuju lokasi pemotretan.
****
Irene menghela napas pelan sebelum kembali melahirkan senyum, membalas sapaan orang-orang, bahkan melayani segelintir manusia yang meminta berfoto bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
Hayran KurguSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
