Irene sudah tidak sabar ingin segera bertemu Junmyeon. Namun, ia terpaksa membendung rindu yang membuncah itu lebih lama saat dalam perjalanan pulang, Manajer Song mendapat telepon dari agensi.
"Pimpinan Park ingin kau menemuinya di kantor. Ada sesuatu yang perlu dibahas katanya," ujar manajernya, melirik Irene dari kaca spion depan.
Irene tidak punya pilihan. Meskipun jadwalnya telah berakhir dan waktu baru menunjukkan pukul empat sore, ia tidak mungkin mangkir tanpa alasan yang jelas. Apalagi mengakui bahwa ia ingin buru-buru menemui kekasihnya.
Setibanya di gedung agensi, masih dalam balutan gaun merah bekas syuting tadi, Irene melangkah masuk ke ruangan Pimpinan Park. Pria berusia pertengahan lima puluhan itu menyambut dengan senyum yang tak sampai ke mata, lalu mempersilakan Irene duduk di kursi kulit yang dingin.
"Bagaimana syutingmu hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?" tanyanya.
Irene tahu itu sekadar basa-basi. Dari gestur Pimpinan Park yang tampak berhati-hati, ia yakin 'sesuatu' yang ingin ia bicarakan ini jauh lebih serius.
"Syukurnya semua berjalan baik, Pimpinan," jawab Irene sopan. "Anda ingin membahas apa denganku?"
Pria itu menegakkan tubuh, berdeham sebentar seolah sedang menyusun kata demi kata di kepalanya.
"Aku sudah berdiskusi dengan tim performance terkait lagu yang diusung Produser Park."
Hati Irene mencelos. Dia sudah menduga ini akan terjadi, bahwa Chanyeol tidak akan menyerah begitu saja selama ia masih memiliki privilesenya sebagai putra pemilik agensi.
"Ini sebenarnya hanya persoalan teknis, Joohyun-ah. Kau benar, lagu ini terlalu berisiko. Tapi jika kita bisa mengeksekusi dengan baik dan hati-hati, lagu ini bisa jadi warna baru di kancah musik kita," lanjut Pimpinan Park.
"Lagu ini seperti kelinci percobaan bagi kami, Pimpinan. Persentase keberhasilannya fifty-fifty," sahut Irene, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Aku hanya tidak ingin mengecewakan penggemar dan semua tim yang bekerja keras mempersiapkan comeback ini."
Pimpinan Park tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggungnya, menatap Irene dari balik kacamata dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Joohyun-ah," panggilnya pelan. "Apakah kau bersikeras menolak lagu ini karena terlalu takut akan kegagalan atau... karena ada unsur pribadi?"
Pertanyaan itu menghantam Irene tepat di ulu hati. Dia terdiam, lidahnya mendadak kelu.
"Aku tahu hubungan kalian kurang baik di masa lalu," lanjut Pimpinan Park tanpa menunggu jawaban Irene. "Tapi cobalah untuk lebih profesional. Aku sudah mengenalmu sejak kau masih remaja, dan aku tahu kau adalah sosok yang selalu menjunjung tinggi keprofesionalan. Bukankah begitu?"
Irene menarik napas dalam, membiarkan oksigen menenangkan debaran jantungnya. Alih-alih menunjukkan amarah atau rasa takut, ia berusaha menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Anda benar, Pimpinan. Hubungan kami memang kurang baik, bahkan sampai detik ini." Irene mengakui. Dia kemudian mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Jika aku boleh berpendapat, terlepas dari Produser Park adalah putra Anda, bukankah terlalu berisiko memberi kepercayaan penuh pada produser baru untuk menangani lagu utama grup kami? Seandainya, dia memproduseri lagu-lagu B-side, mungkin tidak jadi masalah. Tapi ini lagu utama kami. Taruhannya terlalu besar, Pimpinan."
Bibir Pimpinan Park mengatup rapat. Pandangannya lurus ke depan, tajam dan dingin seolah sedang mencari titik lemah untuk menumbangkan lawan di hadapannya. Dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi, pria itu memperbaiki letak kacamatanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
Fiksi PenggemarSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
