Koper-koper dengan bermacam warna berjajar di lorong. Lima buah paspor tergeletak di meja ruang tengah, sementara langkah kaki yang tergesa-gesa saling bersahutan.
"Wendy Eonni, kau melihat charger ponselku?" Joy berseru dari dalam kamarnya, terdengar frustrasi.
"Coba cek di laci nakas samping tempat tidurmu," sahut Wendy yang sibuk memasukkan beberapa vitamin ke dalam kotak kecil. "Yeri-ya, jangan lupa taruh paspormu di meja tengah. Jangan sampai kelupaan lagi!"
"Sudaahh..." teriak Yeri entah dari arah mana.
Irene menghela napas panjang. Semua anggota tampak sibuk dengan urusan masing-masing, sementara ia hanya duduk diam di sofa ruang tengah. Dia sudah siap dengan hoodie ukuran besar dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Namun, di balik masker itu, napasnya terasa berat dan panas.
Hari ini mereka akan terbang ke Tokyo sebagai rangkaian tur konser agensi. Tetapi sejak Irene terbangun dari tidur, dunianya seperti berputar. Pening luar biasa menghantam kepalanya dan setiap persendiannya terasa ngilu.
"Eonni, jam berapa manajer datang?" Seulgi menghampiri, gulungan rambut masih melekat di poninya.
"Dia sudah di jalan, mungkin sepuluh menit lagi tiba."
"Aku mau buang air dulu."
"Pergilah," ucap Irene lirih.
"Pencernaanmu benar-benar merepotkan," gerutu Wendy, merapat ke ruang tengah dengan tas jinjing yang tampak begah. "Jangan terlalu lama, kita sudah tidak punya banyak waktu!"
Joy melenggang keluar dari kamar, duduk di sofa panjang yang juga diduduki Irene. Aroma oud berpadu mawar hitam menguar mewah dari tubuhnya.
"Sepertinya kita akan lewat jalur VIP. Tidak ada cukup waktu untuk menyapa wartawan dan fans di bandara," timpalnya. "Apalagi Irene Eonni sedang tidak enak badan."
"Eonni, apa sebaiknya kau ke dokter saja dulu? Kau bisa mengubah jadwal penerbanganmu," ujar Wendy khawatir.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya demam biasa," sahut Irene.
Sebenarnya ia sudah menelan dua butir obat penurun demam seusai sarapan tadi, tapi hingga detik ini badannya masih meriang. Mungkin ia hanya perlu beristirahat selama penerbangan nanti, menunggu obat bekerja dengan maksimal.
Setelah beberapa menit menunggu, Manajer Song dan beberapa staf datang mengangkut barang-barang. Irene dan rekan-rekannya segera melangkah keluar menuju dua buah van mewah yang sudah menanti di depan lobi.
Udara luar yang panas menyambar wajah Irene, membuatnya makin pening. Namun, belum sempat kakinya menapak ke dalam van, pandangannya tiba-tiba berputar hebat. Kekuatan di lututnya seketika lenyap. Tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga perlahan segalanya berubah gelap.
Irene kehilangan kesadaran.
****
Junmyeon melirik arloji di pergelangan tangannya. Masih ada waktu sekitar dua puluh menit sebelum rapat mingguan dimulai. Di ruang kerjanya yang sunyi, ia menyandarkan punggung, membiarkan tubuhnya rileks sejenak setelah berkutat dengan dokumen operasional yang akan dilaporkan nanti.
Namun, pikirannya terus melayang pada Irene. Sejak pembicaraan singkat mereka tadi pagi, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Suara Irene terdengar lemas, meski wanita itu berusaha meyakinkan bahwa ia hanya butuh sedikit istirahat. Karena tidak tenang, Junmyeon meraih ponselnya, memutuskan untuk melakukan satu panggilan singkat, sekadar memastikan kekasihnya telah tiba di bandara.
Nada sambung berbunyi. Satu kali, dua kali, hingga pada dering kelima, sambungan itu terangkat.
"Halo, Sayang? Kau sudah di bandara?" tanya Junmyeon lembut, senyum tipis tersungging di bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
FanfictionSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
