Irene membolak-balik naskah di pangkuannya, sibuk menghapalkan dialog yang akan dieksekusi hari ini. Udara dalam ruang tunggu studio terasa dingin, kontras dengan cuaca di luar yang sedang mencapai puncak musim panas. Telapak tangan Irene menjadi lembab.
Mungkin, karena ini adalah hari terakhirnya syuting untuk comeback dramanya setelah sekian lama membuatnya cukup gugup. Masih ada satu jam sejam sebelum syuting dimulai, tapi rasanya semua lensa kamera sudah menyorot ke arahnya.
"Bagaimana bisa masih di jalan?!" Manajer Song tiba-tiba masuk ke ruangan. Ponsel menempel di telinganya, sementara wajahnya dibanjiri kepanikan. "Kita tidak punya waktu lagi!"
"Oppa, ada apa?" tanya Irene begitu manajernya menurunkan ponsel.
"Stela terjebak macet. Ada kecelakaan beruntun di tol dan lokasinya masih agak jauh dari sini. Dia sudah dipastikan terlambat, padahal kau seharusnya sudah dirias sekarang," jelas sang manajer frustrasi.
Irene melirik jam di layar ponselnya dengan cemas. Kalau menunggu perias utamanya tiba, artinya jadwal syuting akan bergeser dari waktu seharusnya. Sebagai bintang besar, keberadaannya di lokasi syuting memang cukup disegani. Namun, ia tidak ingin membuat Sutradara Kang, seluruh kru, bahkan artis-artis lain menunggu hanya karena masalah riasan.
"Eunbi-ya," panggil Irene tiba-tiba, menoleh pada gadis muda yang duduk di sudut ruangan. Asisten perias itu sudah stand by sejak pagi bersama seorang penata busana.
"Ne, Eonni?" Gadis itu segera menghampiri Irene.
"Kau saja yang meriasku."
"Aku? Tidak, tidak mungkin!" Eunbi menggeleng panik. "Ini akan menjadi adegan terakhirmu dalam drama, Eonni. Penampilanmu harus sempurna dan berkesan. Aku hanya asisten. Tidak mungkin aku bisa meriasmu sebaik Stela Eonni."
Irene memutar kursinya menghadap Eunbi, lalu meraih kedua tangan gadis itu. Dia menatap dalam-dalam, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia sendiri pun sebenarnya sedang usahakan.
"Kau sudah cukup lama bersamaku, Eunbi-ya. Kau yang selalu menyiapkan semua keperluan riasku, melihat bagaimana Stela Eonni meriasku. Kau tahu setiap sudut wajahku lebih baik dari siapa pun di sini," ujar Irene dengan nada meyakinkan. "Aku percaya padamu. Lakukan saja seperti biasanya."
Situasi kian terbantu ketika Manajer Song memberi ide untuk melakukan panggilan video dengan Stela. Melalui layar ponsel, sang mentor memantau dan memberikan instruksi demi instruksi kepada Eunbi.
Tangan Eunbi yang semula gemetar mulai bergerak lincah. Sapuan demi sapuan kuas mulai mewarnai wajah Irene, membentuk kesan elegan namun juga rapuh di saat bersamaan untuk menonjolkan karakter gadis kaya raya yang pada akhirnya harus merelakan tunangannya berbahagai dengan wanita lain.
Tiga puluh menit kemudian, Irene telah siap dengan gaun merah selutut yang menjuntai anggun. Rambutnya tergerai indah, membingkai wajahnya yang sangat cantik sekaligus melankolis.
"Terima kasih, Eunbi. Kau hebat," kata Irene sebelum melangkah menuju set.
Begitu kamera menyala dan sutradara meneriakkan aba-aba "action", Irene seolah bertransformasi. Rasa gugupnya menguap, digantikan oleh tatapan penuh kesedihan. Dialog demi dialog, adegan demi adegan yang sarat akan luka namun dibumbui dengan keikhlasan dieksekusinya dengan sangat apik.
"Cut!"
Seruan itu datang dari sang sutradara di balik monitor. Pria berkacamata itu bangkit dari kursi dan bertepuk tangan, menandakan bahwa seluruh rangkaian syuting benar-benar sudah sampai di titik akhir.
Riuh tepuk tangan kini saling bersahutan. Irene menyeka sisa air mata di pipinya—bekas aktingnya yang memukau—dan membungkuk berkali-kali kepada semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
FanfictionSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
