Lady's Room

79 12 12
                                        

Seperti yang sudah Irene bayangkan, kabar kedatangannya bersama Junmyeon ke Tokyo segera meledak di kalangan internal agensi. Bisik-bisik para staf terdengar di sela-sela kesibukan di belakang panggung, bahkan para anggota tak henti-hentinya menodongkan pertanyaan perihal lelaki yang datang bersamanya.

"Eonni, kau sungguh punya kekasih?" tanya Seulgi–entah sudah yang ke berapa kali–dari kursi riasnya di sebelah Irene.

"Jadi dia benar-benar cucu langsung pemilik K-Group? Penerus generasi ketiga?" timpal Wendy, kepalanya menyembul dari balik bahu Seulgi dengan mata melebar penuh ingin tahu.

"Bukankah itu perusahaan yang mengelola jaringan hipermarket terbesar di sini?" Yeri yang duduk di sisi lain Irene tidak mau ketinggalan.

Irene menghela napas panjang sebelum mengiakan semua pertanyaan itu dengan anggukan.

"Akhirnya, kakak ipar diperkenalkan juga," sahut Joy yang duduk di bangku paling ujung. Dia terkikik sambil memandangi kuku-kukunya yang baru selesai dipulas.

"Mwoya? Kau tau Eonni punya pacar?" sergah Yeri, menoleh cepat ke arah Joy.

"Tentu saja," jawab Joy dengan nada bangga yang terdengar sedikit sombong.

"Eonni, kenapa hanya Sooyoung yang diberitahu?" protes Yeri sambil memanyunkan bibir ke arah Irene.

"Waktunya selalu tidak tepat, makanya baru sekarang bisa kuperkenalkan."

"Kalau Eonni tidak pingsan dan laki-laki itu tidak nekat menerobos semua keamanan di rumah sakit demi menemuimu, kita mungkin tidak akan pernah diberitahu sampai kalian akan menikah," seloroh Wendy.

Irene hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Wendy sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Dia diam bukan hanya karena bibirnya sedang dipoles lipstik, tapi juga karena ia memang tidak tahu harus berkata apa.

"Apa-apaan ini? Jadi tinggal aku saja yang tidak punya pacar?" keluh Seulgi.

"Masih ada Seungwan Eonni." Yeri mencoba menghibur.

"Dia tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, Maknae-ya. Jadi jangan hitung dia," timpal Joy, mengundang tawa seluruh orang di ruangan itu.

Kecuali Irene.

Di balik riasannya yang hampir selesai—cukup sempurna untuk menutupi kegusaran di wajahnya, pikirannya masih terbebani dengan kenyataan bahwa hubungannya sebentar lagi atau mungkin malah sudah sampai ke telinga Pimpinan Park. Memperkenalkan Junmyeon pada dunia adalah satu hal, namun memperkenalkan kekasihnya pada pria itu adalah hal paling terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini.

Sentuhan lembut di bahunya segera menyadarkan Irene dari lamunan.

"Eonni, kau baik-baik saja?" tanya Eunbi khawatir. "Make-up memang berhasil menutupi wajahmu yang pucat, tapi dari sorot matamu, kau jelas terlihat sedang tidak dalam kondisi yang baik. Apa sebaiknya Eonni istirahat saja?"

Irene tersenyum tipis, menatap Eunbi yang berdiri di balik punggungnya melalui cermin besar di hadapan mereka. Sorot mata Eunbi terasa begitu tulus.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Eunbi-ya," sahut Irene, mencoba meyakinkan stafnya itu meski tangannya sendiri masih terasa dingin.

Ketukan pintu segera mengalihkan perhatian keduanya, juga para anggota yang masih asyik bersenda gurau. Pintu kemudian terbuka, menampakkan Manajer Song yang melangkah masuk diikuti oleh sosok yang langsung menyita seluruh atensi di ruangan itu.

Junmyeon tampak mengukir senyum terbaik yang ia miliki. Kali ini, bukan dengan setelan jas formal seperti yang sering ia kenakan. Dia tampil lebih kasual dengan jaket kulit hitam yang membungkus kaus putih polos. Kendati demikian, aura karismatiknya tetap mendominasi ruangan. Di belakangnya, dua orang staf bersetelan serba hitam membawa beberapa kotak besar yang dihiasi pita sutra elegan.

Manajer Song berdeham, menarik perhatian para anggota yang masih terpaku.

"Semuanya, karena situasinya sudah seperti ini, aku ingin memperkenalkan secara resmi. Ini adalah Tuan Kim Junmyeon, kekasih Irene."

Ruangan mendadak sunyi senyap. Junmyeon melangkah maju, masih dengan senyum hangat di wajahnya. Dia membungkuk hormat kepada para anggota—sebuah gestur yang sangat sopan bagi seseorang dengan status sosial setinggi dirinya.

"Halo semuanya. Senang akhirnya bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan kalian," sapa Junmyeon. "Aku Junmyeon, dan maaf jika perkenalan ini harus terjadi dalam kondisi seperti ini."

"Jangan minta maaf, Oppa—aku boleh memanggilmu seperti itu, kan?" Joy tersenyum manis hingga matanya menyipit, dan langsung mendapat anggukan ramah dari Junmyeon. "Kalau kondisinya tidak jadi begini, Eonni pasti masih terus menyembunyikanmu rapat-rapat."

"Irene sama sekali tidak berniat menyembunyikan hubungan kami dari kalian. Kami hanya masih mencari waktu yang tepat," bela Junmyeon lembut sembari melirik ke arah Irene, memberi senyum hangat.

"Kami juga sangat senang akhirnya bisa berkenalan dengan seseorang yang sangat berarti bagi kakak kami. Setelah bertemu dengan Anda, kurasa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Tolong jaga Irene kami yang cantik," tutur Wendy dengan tulus.

Junmyeon mengangguk mantap, mirip seorang prajurit yang baru saja menerima mandat besar. "Aku berjanji pada kalian. Dia adalah prioritasku, bukan hanya hari ini, tapi setiap hari. Setiap detik."

Di sela kehangatan yang menjalar di hatinya, Irene merasakan lengannya disikut pelan oleh Seulgi.

"Eonni, kau dapat di mana pria seperti dia? Kenalkan juga padaku seseorang yang sepertinya," bisik Seulgi, sukses membuat Irene tertawa pelan.

"Oh ya, ini ada beberapa paket perawatan stamina dan tea set untuk membantu kalian tetap rileks selama di Tokyo," kata Junmyeon kemudian, mengarahkan telapak tangannya ke arah kotak-kotak yang sudah tersusun rapi di atas meja. "Tolong diterima sebagai tanda perkenalanku."

"Wah, calon kakak ipar kita rupanya sangat pengertian!" Yeri berseru antusias menghampiri kotak-kotak itu.

"Terima kasih, Junmyeon-ssi. Kami akan menggunakannya dengan baik," ucap Wendy sopan.

"Tolong jaga Irene selama konser berlangsung," pinta Junmyeon kepada Wendy dan anggota lainnya.

"Jangan khawatir, Oppa. Kami akan menjaganya dengan ketat," sahut Joy.

Irene kemudian mengambil beberapa langkah mendekati Junmyeon. Tidak banyak waktu tersisa sebelum mereka harus bersiap menuju panggung, tapi kerinduan terasa sudah menumpuk di dadanya.

Namun, di sela kerinduan itu, ada perasaan waswas yang menyusup ke relung hatinya. Sebuah ketakutan bahwa begitu ia melangkah ke atas panggung, Junmyeon akan menghilang dari pantauannya.

"Aku akan segera menemuimu setelah konser selesai," ucapnya lembut, menatap lekat manik Junmyeon.

"Aku menantimu, Sayang," balas Junmyeon.

Dia mengulurkan tangan, mengelus lembut pucuk kepala Irene dengan penuh kasih sebelum akhirnya berpamitan meninggalkan ruangan itu.


____

Author's note:
Happy reading, guys.
Maaf yaa baru bs update hari ini🙏
Jangan lupa ninggalin vote dan komen, yaa.. gomawooo❤️

No One KnowsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang