Bad Boy

72 12 5
                                        

Mungkinkah Chanyeol sengaja mengirim seseorang untuk mempermainkannya?

Pikiran itu masih menguasai kepala Irene ketika ponsel dalam genggamannya bergetar. Dia segera mengalihkan pandangan dari lampu-lampu kota yang berpendar di balik jendela mobil menuju layar ponsel yang menyala.

Pertujukannya berjalan lancar, Sayang?
Semoga kiriman dariku bisa sedikit menghibur lelahmu.

Tanpa pikir panjang, Irene mengirimkan potret buket mawar yang tadi sempat tertunda. Tak butuh waktu lama, pesan balasan masuk kembali.

Semoga kau menyukainya, Sayang.
Lain kali aku yang akan langsung mengantarnya, sekalian berkenalan dengan calon ipar-iparku. Hehe.

Irene tersenyum tipis. Sangat tipis sampai para anggota yang semobil dengannya mungkin tak menyadari.

Rupanya bunga itu memang dari Junmyeon. Ada percikan rasa lega saat mengetahui fakta itu walau sedetik kemudian, rasa dingin kembali menjalari tubuhnya.

Membayangkan seseorang menyelinap masuk ke ruang tunggu dengan pengamanan yang cukup ketat membuat Irene bergidik ngeri. Orang itu pasti memiliki akses khusus. Entah itu staf, atau siapa pun, Irene makin yakin bahwa ini ulah Chanyeol. Hanya lelaki itu yang memiliki motif dan kuasa untuk memanipulasi keadaan semacam ini.

Keesokan harinya, suasana di ruang rapat lantai enam gedung SC Entertainment terasa begitu kaku. Beberapa eksekutif agensi duduk mengelilingi meja oval besar, termasuk Pimpinan Park yang menempati kursi utama di ujung meja.

Chanyeol berdiri di hadapan audiens, tampak percaya diri dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Dia baru saja memperdengarkan demo lagu bergenre dance-pop yang mengombinasikan keanggunan orkestra dengan struktur bass yang eksperimental. Lagu yang digadang-gadang akan menjadi lagu utama untuk album comeback Red Velvet.

"Ini adalah warna baru bagi Red Velvet. Kesannya elegan, megah, sekaligus nostalgik. Lagu ini juga akan memperkuat citra grup sebagai Queens of Harmony. Para member bisa menggunakan teknik vokal berlapis yang akan menonjolkan tekstur suara masing-masing, tapi tetap terdengar menyatu sempurna," papar Chanyeol.

Pimpinan Park mengangguk-angguk, sekilas tampak terkesan. Lelaki paruh baya itu kemudian memalingkan pandangan ke arah anggota grup.

"Bagaimana menurut kalian?"

Irene melirik rekan-rekannya bergantian. Saat lagu diputar tadi, ia sempat mengamati ekspresi mereka satu per satu, dan reaksinya cukup positif. Sejujurnya, Irene sendiri menikmati komposisi itu, namun kali ini ia tidak akan membiarkan Chanyeol menang dengan mudah.

Perlahan, Irene meletakkan tabletnya di meja.

"Sejujurnya..." Irene menjeda, membiarkan keheningan mengambil alih suasana selama beberapa detik. "Ini terlalu berisiko."

Semua mata seketika tertuju padanya. Terlebih Chanyeol. Pria itu menatap tajam ke arah Irene seolah berkata 'Terima saja dan tutup mulutmu. Kau hanya perlu menyanyi.'

Irene tidak peduli. Dia justru membalas dengan tatapan yang lebih sengit sambil melanjutkan ucapannya.

"Lagu ini terlalu sibuk. Antara instrumen string yang megah dan beat yang eksperimental, aku khawatir warna vokal kita justru tenggelam. Kita butuh lagu yang menonjolkan suara, bukan lagu di mana kita harus 'berlomba' dengan orkestra."

No One KnowsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang