Makan malam telah usai, tetapi suasana canggung masih membelit Irene. Kini, ia duduk di ruang tengah, dikelilingi keluarga Junmyeon dengan jamuan teh dan kudapan ringan yang nyaris tak ia sentuh.
"Aku pernah ditawari agensi untuk ikut pelatihan, tapi Eomma menolak mentah-mentah," kata Minjeong yang tampaknya belum juga puas bercakap dengan Irene.
"Fokus saja ke pendidikanmu. Eomma lebih suka kau berbisnis seperti kakakmu ketimbang jadi artis," sahut ibunya sebelum menyesap teh dalam cangkir di genggamannya.
Minjeong mengerucutkan bibir. "Menjadi terkenal dan dicintai banyak orang lebih menyenangkan daripada berkantor dan melakukan hal yang sama setiap hari. Betul, kan, Eonni?"
Irene menelan ludah. Otot-otot wajahnya seketika terasa kaku. Meski ada beberapa hal yang belakangan membuatnya tidak nyaman, ia tetap mencintai pekerjaannya. Hanya saja, mendengar ucapan ibu Junmyeon barusan membuatnya tidak berani membanggakan jalan yang telah ia pilih.
"Apa pun pekerjaannya, semua punya kelebihan dan kekurangan. Tidak perlu membanding-bandingkan, Minjeong," sahut Junmyeon. "Kau tidak tahu kesulitan apa yang sudah Irene lalui sebagai artis, dan kau juga tidak tahu kepuasan apa yang sudah kudapatkan selama bekerja di kantor."
Ucapan Junmyeon membuat Irene sedikit lega.
"Makanya bujuk Eomma agar membiarkanku memilih jalanku sendiri," gerutu Minjeong.
"Tahu apa kau soal hidup," desis ibunya.
"Sudah, sudah. Kita sedang kedatangan tamu spesial, tapi kalian malah ribut," Ayah Junmyeon menengahi, lalu tersenyum kepada Irene. "Maafkan kami, ya."
Irene buru-buru mengibas kedua tangannya di udara. "Tidak apa-apa, Tuan."
"Jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja ayah, seperti Junmyeon memanggilku."
Irene terdiam. Rasa panas menjalari wajahnya, sementara perutnya terasa digelitik ribuan kupu-kupu. Di saat yang sama, ia merasakan hangat jemari Junmyeon menyelinap di antara sela jari-jarinya.
"Cepat atau lambat, aku akan menjadikanmu bagian dari keluarga ini, Sayang. Jadi biasakan dirimu," ujar lelaki itu lembut.
Ayah Junmyeon dan Minjeong serempak mengangguk dengan wajah sumringah. Berbeda dengan ibu Junmyeon yang sejak tadi menutup mulut rapat-rapat di sofa seberang. Tatapan matanya yang menusuk dingin membuat Irene tak berani menatapnya sering-sering.
"Jadi, kau tinggal di mana, Irene?" Ayah Junmyeon kembali membuka percakapan.
"Aku tinggal di Apgujeong, bersama anggota grupku."
"Orang tuamu?"
"Ibuku tinggal di Incheon. Sebelum pindah ke Seoul, aku tinggal dengannya di Daegu. Aku lahir di sana."
"Ayahmu?"
Irene tidak langsung menjawab. Dia tidak pernah suka membicarakan sosok satu itu. Namun di sini, ia tidak punya pilihan.
"Orang tuaku sudah bercerai, dan aku sudah tidak pernah mendengar kabarnya lagi."
Keheningan menyeruak sejenak, sebelum kembali dipecahkan oleh suara ayah Junmyeon.
"Kapan-kapan, kita makan malam bersama lagi. Undang ibumu juga."
Kedua sudut bibir Irene terangkat membentuk senyum. Dia lega karena ayah Junmyeon tidak melanjutkan pertanyaannya lebih jauh—dan yang terpenting, lelaki itu tampak tidak mempermasalahkan keluarganya yang tak lagi utuh.
Irene pun mengangguk dengan senang hati.
Waktu terus berdetik. Tibalah waktunya Irene berpamitan. Keluarga Junmyeon mengantarnya sampai ke depan rumah. Dia baru bisa bernapas sedikit lebih lega ketika mobil yang dikendarai Junmyeon meninggalkan pelataran rumah yang luas.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
FanfictionSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
