Aku ada waktu malam ini, mau bertemu?
Irene mengirim pesannya kepada Junmyeon saat beristirahat sejenak di sudut sofa. Seluruh tenaganya terasa menguap di ruangan berpindingin itu setelah menghabiskan hampir empat jam berlatihan dance untuk penampilan mereka di konser tur dunia yang diadakan oleh agensi dua pekan depan.
Di antara lelah, ucapan Chanyeol diam-diam kembali menyusup ke dalam benaknya. Berdengung pelan, tapi menyakitkan.
Ponsel di tangannya bergetar.
Tentu. Mau kujemput di mana?
Aku baru saja ingin mengirim pesan bahwa aku merindukanmu, Sayang.
Irene menarik sudut bibirnya membentuk senyum. Dia butuh Junmyeon. Dia butuh pengingat bahwa di luar gedung yang penuh intrik dan hantu masa lalu ini, masih ada dunia tempat ia bisa merasakan cinta yang tulus.
Namun, belum sempat ia membalas pesan Junmyeon, Wendy tiba-tiba duduk di samping Irene. Buru-buru, ia mematikan layar ponsel.
"Eonni," panggil Wendy pelan. "Tentang lagu tadi... apa kau tidak ingin mempertimbangkannya lagi?"
Irene menoleh, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meski tak menduga Wendy akan membahas hal ini.
"Aku mengerti kekhawatiranmu soal vokal kita yang mungkin tertutup orkestra," Wendy melanjutkan dengan hati-hati. "Tapi menurutku lagu itu punya peluang besar. Belum ada grup yang mencoba membawakan konsep orkestra yang seanggun dan semegah itu. Dan itu bisa jadi identitas baru kita yang sangat kuat."
"Justru itu," Joy menyela dari arah lain, ikut mendekat ke sofa. "Secara teknis lagunya terlalu sulit, makanya sampai sekarang belum ada yang pernah mencoba konsep semacam itu. Kalau kita beruntung, kita bisa jadi yang pertama. Tapi bagaimana kalau gagal? Kita akan jadi olok-olokan netizen dan junior-junior kita."
"Tapi aku setuju dengan Seungwan," kata Seulgi menyebut nama asli Wendy. Umur mereka yang sepantar membuat mereka lebih dekat satu sama lain. "Musiknya memberi kesan mahal. Aku bisa membayangkan konsep visualnya nanti, itu akan sangat ikonik. Rasanya sayang kalau kita melewatkannya karena alasan teknis yang sebenarnya bisa kita bicarakan lagi dengan tim produksi."
Sementara, Yeri si maknae hanya menyimak sambil menyeka keringat di lehernya.
Irene menatap satu per satu adik-adiknya dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia sadar yang dikatakan Wendy dan Seulgi benar. Secara musikal, lagu Chanyeol cukup menarik. Namun hati kecilnya tak ingin membiarkan Chanyeol memproduseri lagu comeback mereka.
Entahlah, Irene merasa ingin menggunakan pengaruhnya di agensi agar Chanyeol tak berani bermain-main dengannya.
"Kalian benar-benar menyukai lagu itu?" tanyanya dengan suara agak berat.
Wendy dan Seungwan kompak mengangguk. Irene kemudian melirik Yeri, ingin memperjelas di mana posisi gadis itu berada.
"Lagu itu menyenangkan," sahut Yeri singkat.
"Aku rasa kita bisa mengatasi lagu itu, Eonni." Wendy kembali buka suara. "Kita bisa minta Chanyeol Oppa menyesuaikan ritme instrumen agar vokal kita tetap menonjol."
Irene tidak berkutik. Dalam sebuah grup, keputusan yang bijaksana bukan berasal dari leader atau anggota tertua, melainkan suara terbanyak. Apalagi posisi Wendy sebagai vokalis utama membuat Irene tidak punya alasan untuk menolak. Jika ia tetap berkeras, ia hanya akan terlihat egois.
"Baiklah, aku akan mendiskusikannya lagi dengan Performance Director, sembari menunggu revisi dari Produser Park." ucap Irene akhirnya.
Wendy dan Seulgi mengangguk, terlihat lega. Begitu para anggotanya kembali ke tengah ruangan untuk melanjutkan latihan, Irene merasa dunianya makin menyempit. Dia kembali menyalakan layar ponsel, melihat pesan Junmyeon yang belum terbalas.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
FanfictionSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
