Junmyeon menyesap minuman sodanya perlahan. Setelah puas berkeliling di pusat kota, ia dan Irene memutuskan pulang ke apartemennya. Tatapan Junmyeon melekat pada dua kaleng makgeolli di atas meja: yang satu tergeletak kosong, sementara satunya lagi masih berdiri tegak.
Karena harus menyetir, ia tidak berbagi minuman itu dengan Irene. Namun, fakta bahwa kekasihnya menenggak minuman beralkohol di jam segini membuat hatinya terusik. Junmyeon paham betul, saat sedang banyak pikiran, Irene akan melampiaskannya dengan minum-minum meski pertahanannya cukup kuat untuk tidak membuatnya jatuh mabuk.
Kalau alasan Irene minum sekadar untuk mengusir lelah akibat jadwal yang begitu padat, itu tak akan jadi masalah. Namun, Junmyeon khawatir jika ternyata alasannya tidak sesederhana itu.
Tiba-tiba, ponsel Irene bergetar di atas meja. Pemiliknya masih berada di kamar mandi. Didesak oleh rasa cemas, Junmyeon gagal menahan diri untuk tidak menyentuh benda itu. Dia menyalakan layar dan menemukan rentetan notifikasi di sana.
Ada pesan dari manajer, juga obrolan grupnya yang cukup ramai. Namun, mata Junmyeon terpaku pada satu baris pesan dari nomor tak dikenal.
Dasar wanita jalang!
Tunggulah, sebentar lagi orang-orang akan tahu betapa busuknya kau!
Ini bukan kali pertama Junmyeon melihat ujaran kebencian yang ditujukan pada Irene. Sebagai bintang besar, hal itu sudah biasa ditemukan di lama media sosial atau artikel-artikel terkait kekasihnya itu. Namun, mendapati pesan itu dikirim langsung ke nomor pribadi Irene seketika membuat darah Junmyeon mendidih.
Apa ini yang membuat Irene tampak lebih gelisah dari biasanya?
Buru-buru, Junmyeon mengambil ponselnya sendiri. Tanpa ragu memotret nomor itu beserta pesannya. Begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka, secepat kilat ia meletakkan kembali ponsel Irene ke posisi semula. Tepat di samping kaleng makgeolli yang masih tersisa.
Irene keluar dengan wajah yang tampak lebih segar meski sinar matanya tetap menyiratkan kelelahan yang dalam. Dia mendekat sambil mengeringkan wajah dengan handuk kecil yang tersampir di leher.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya.
Junmyeon melirik ponselnya sejenak, "Hampir pukul sebelas."
"Aku sebaiknya pulang sekarang."
Junmyeon bangkit dari kursi, melangkah ke arah Irene. Dia melingkarkan lengan di pinggang wanita itu, menariknya lembut ke dalam dekapan.
"Sayang, ini sudah larut malam. Menginap saja di sini," bisik Junmyeon, menyesap aroma vanila dari rambut kekasihnya. "Aku akan siapkan air hangat untuk mandi, lalu kau bisa tidur dengan nyenyak."
Irene melepas pelukan itu perlahan, menatap Junmyeon dengan tatapan menyesal. "Aku ingin sekali, Sayang. Tapi aku harus pulang. Besok, pagi-pagi sekali aku sudah harus kembali ke ruang latihan."
Junmyeon menelan kekecewaan. Irene masih ada di hadapannya, tapi rindu sudah menyusup lebih dulu ke celah hatinya. Dia ingin menahan wanita itu lebih lama, tapi ia sadar itu hanya akan memangkas waktu istirahat kekasihnya.
"Baiklah, kalau begitu biar kuantar pulang," ucapnya mengalah.
Irene mengangguk, menyunggingkan senyum tipis. Dia kemudian meraih ponselnya dari atas meja, tanpa menyadari bahwa Junmyeon telah melihat 'ancaman' di sana.
Setelah mengantar Irene sampai ke depan gedung apartemennya, Junmyeon tidak langsung tancap gas. Dia menunggu hingga sosok Irene menghilang dari pandangan sebelum menyalakan ponsel.
Dia menatap kembali potret ancaman yang ia ambil tadi. Dengan satu ketukan, ia mengirimkan gambar itu kepada sekretarisnya. Tak butuh waktu lama, ia menempelkan ponsel ke telinga.
KAMU SEDANG MEMBACA
No One Knows
FanfictionSURENE FAN FICTION Irene Bae debut bersama empat gadis lain dalam sebuah grup musik bernama Red Velvet. Kecantikannya yang luar biasa tak hanya menjadi ikon grup, tapi juga sukses menjelma sebagai persona hiburan Korea Selatan. Karirnya penuh dengan...
