Sunny Afternoon (Bag. 1)

197 29 13
                                        

Junmyeon membuang jas ke sembarang arah sebelum memasrahkan raga pada sofa merah gelap di sudut kamar. Dasinya sudah dilonggarkan, tapi rasa tercekik masih tinggal. Sambil memijit-mijit pelipis, pikirannya larut dalam pembicaraan ayah dan kakeknya yang ia dengar diam-diam saat pertemuan keluarga tadi.

"Abeoji, aku menghargai keputusanmu jika ingin menyerahkan kursi pimpinan pada ayah Minho. Tapi aku tidak setuju kalau Abeoji menyerahkan pengelolaan bisnis ritel sepenuhnya pada Minho, sedangkan Junmyeon hanya berkutat di kantor pusat sebagai pimpinan divisi. Ini tidak adil."

Terdengar kekehan kakeknya yang lebih mirip ejekan, "Apa yang bisa kupercayakan padanya kalau membangun keluarga sendiri saja belum bisa?"

"Mengapa itu harus jadi tolak ukur? Dunia sudah banyak berubah, Abeoji. Bagi generasi mereka, pernikahan bukan sesuatu yang mesti disegerakan apalagi dipaksakan."

Hati Junmyeon mencelus. Ayahnya bukan orang yang dibutakan ambisi. Dengan kebesaran hati ia menerima keputusan Kakek yang lebih memilih menantunya sebagai penerus ketimbang dirinya, anak bungsu sekaligus anak laki-laki semata wayang. Namun, mendengar ayahnya memperjuangkan hak Junmyeon berhasil menjejalkan rasa bersalah dalam dadanya. Seandainya, ia bisa lebih baik dari Minho, bukan hal mustahil takhta itu akan diberikan pada sang ayah.

Dari celah kecil antara dua daun pintu geser yang terbuat dari kayu berpetak-petak dilapisi kaca buram, Junmyeon bisa melihat Kakek menyesap teh dengan tenang.

"Bagaimana dia bisa bertanggung jawab atas ribuan karyawan kalau bertanggung jawab pada satu perempuan saja dia enggan. Aku tidak memaksanya agar segera menikah, tapi yang harus dia pahami bahwa kesuksesan seorang laki-laki tidak terlepas dari perempuan di baliknya."

Seandainya, mereka tahu betapa Junmyeon ingin menikahi wanita yang dicintainya. Dia pun merasa sudah sangat siap mengemban tugas sebagai kepala keluarga, tapi Irene belum menyalakan lampu hijau. Gadis itu bahkan belum bersedia dikenalkan ke keluarga besarnya.

Junmyeon mendesah panjang. Napasnya semakin berat saat ia tidak menemukan satu notifikasi pun dari kekasihnya di layar ponsel. Hubungan mereka sepertinya memang tidak ada artinya bagi Irene. Getir rasanya hanya ia seorang yang memupuk harapan, sementara Irene mungkin menganggap kehadirannya hanya sekadar selingan di kala penat.

Jika terjadi hal terburuk sekalipun, sudah bisa ditebak siapa yang akan terpuruk dalam kabut kegalauan. Irene akan tetap bersinar dan ada ratusan bahkan mungkin ribuan lelaki yang siap menggantikan posisi Junmyeon. Sebelum itu terjadi, ia segera mendekatkan ponsel ke kuping, meredam segenap ego sembari menanti suara kekasihnya di balik sambungan dengan segenggam kata maaf. Namun hingga pangg dilan kedua, ia hanya disambut suara operator yang memintanya meninggalkan pesan.

Junmyeon mengusap wajah, tenggelam dalam penyesalan. Akibat tekanan dari keluarga, ia jadi terlalu sensitif akhir-akhir ini dan tanpa sadar malah membebani kekasihnya. Dia akan menemui Irene besok, jam berapa pun bahkan selarut apa pun. Tanpa diduga-duga, keesokannya saat ia baru saja merampungkan kerjaan di kantor dan hendak menghubungi Irene, ia malah mendapat telepon dari ibunya.

"Pulang ke apartemenmu sekarang juga! Kau harus menjelaskan apa yang ibu temukan di sini." Junmyeon bisa merasakan amarah ibunya menjalar hingga ke pori-pori, tapi ia gagal menerka apa yang sebenarnya terjadi, memangnya apa yang ada di apartemennya, sampai sebuah pesan masuk ke ponsel.

Cepat kemari!
Aku di apartemenmu dan
ibumu tiba-tiba datang.

Seperti sebuah tinjuan mengenai tepat di dadanya. Jantungnya berdegup kencang melebihi derap langkahnya menuju parkiran basemen sampai ia mengabaikan sapaan salah seorang manajer. Dengan tangkas ia masuk ke mobil dan melejit pergi.

Mempertemukan Irene dengan ibunya adalah hal yang paling ingin ia lakukan, tapi jelas bukan dengan situasi semacam ini.

****

Tanpa buang-buang waktu, Irene bergegas mengambil topi di lemari dan masker yang masih terbungkus dalam kemasan lalu menyambar kunci mobil di atas nakas kamarnya. Sungguh kabar yang menggembirakan bahwa jadwal syuting hari ini dibatalkan karena pemeran utama wanita yang akan beradu akting dengannya tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit akibat sesak napas. Anggota lain sedang disibukkan dengan jadwal individu dan ia terlalu bodoh kalau menyia-nyiakan waktu emas ini sendirian di apartemen.

Dia merapatkan topi hitam bertuliskan Nike agar menutupi wajahnya, melenggang cukup percaya diri ke dalam sebuah swalayan di Cheongdam-dong. Hari ini ia akan ke apartemen Junmyeon diam-diam, membuat bulgogi dan budae jjigae kesukaannya, dan meminta maaf dengan setulus-tulusnya. Dia sangat mencintai Junmyeon dan tidak ingin kehilangannya. Kalau diminta menepikan ego demi menemukan jalan keluar terbaik bagi hubungan mereka, maka ia siap melakukannya.

Langit terbingkai cerah dari jendela apartemen yang setinggi langit-langit ketika Irene hampir selesai dengan masakannya. Tinggal menambahkan mi instan dan keju ke dalam kuah merah mendidih dan menunggu hingga matang. Irene melirik layar ponsel yang menunjukkan setengah empat lewat sedikit. Masih ada setengah jam untuk melenyapkan bau tumisan yang menempeli tubuhnya sebelum menyambut kepulangan Junmyeon. Bagaimanapun, penampilannya harus lebih menggoda dibanding hidangan di meja makan.

Namun, ia baru saja meninggalkan kamar mandi dengan rambut terbungkus handuk saat terdengar tombol sandi apartemen yang ditekan-tekan. Junmyeon sepertinya pulang lebih cepat dan seberkas kekecewaan segera menyapa. Irene bahkan belum sempat berdandan. Tapi kalau dipikir-pikir, menyambut kekasihnya hanya dengan mengenakan jubah mandi bukan ide yang buruk. Mereka mungkin bisa membuka perjumpaan dengan ciuman panas dan bermain-main sesaat di ranjang. Sejujurnya, dia sudah sangat merindukan kekasihnya, juga belaiannya.

Dengan senyuman malu-malu, berharap wajahnya tak semerah kuah budae jjigae, Irene berlarian kecil menuju pintu depan. Langkahnya seketika membeku menemukan dua sosok yang baru saja masuk. Meskipun belum pernah bertemu, ia langsung mengenali salah satu dari mereka.

"Siapa kamu?" sergah wanita yang mengenakan gaun hijau daun selutut. "Kenapa kau ada di rumah anakku?" Tatapannya yang tajam bercampur kaget memperhatikan Irene dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Bibir Irene kelu. Suaranya tenggelam ke dasar kerongkongan. Dia menelan ludah, tapi rasanya seperti menelan beling. Mengapa harus di saat begini bahkan dengan wujudnya yang serampangan?

"Junmyeon! Junmyeon!" Wanita itu memekik penuh amarah, melintasi Irene menuju bagian dalam apartemen.

"Ju-junmyeon belum pulang." Suara Irene hampir tidak keluar. Dia pernah berlatih menyanyi hingga tenggorokannya sakit, tapi tak pernah sesakit ini. Pita suaranya seolah ditarik sampai putus. Walaupun pandangannya tertunduk, hanya berani menatap lantai, ia bisa merasakan tatapan ibu Junmyeon menghunjamnya.

Tamat sudah riwayatnya.

No One KnowsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang