Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

31 - / Terimakasih, Mas Radito /

55 3 4
                                        

***

"Sal.." Lirih lelaki bertubuh tegap yang sedari tadi sudah sangat panik. Pandangan nya tidak lepas dari gadis yang kini ada dipangkuan nya.

Tidak terhitung berapa kali tetesan minyak angin yang ia oleskan pada ujung telunjuk tangan kanan nya untuk diarahkan ke area hidung Salma. Namun gadis itu masih belum sadarkan diri.

"Bangun, Nak..." Ucap seorang perempuan paruh baya yang ikut merasakan panik. Terlihat raut wajahnya sangat cemas.

Radito dan Mama nya saling melirik. Upaya untuk membangunkan Salma dari pingsan nya masih belum membuahkan hasil. Sementara tamu terus berdatangan ke rumah Salma.

"Sayang, bangun Nak. Istighfar.." ucap Mama Radito seraya terus mengusap lembut pucuk kepala calon menantu nya itu.

"Ma, Radit mau coba bawa Salma ke kamar supaya lebih tenang. Tolong panggilkan Rara untuk susul Radit ya." Ucap Radito. Tak butuh waktu lama, ia langsung menggendong Salma menuju kamar belakang, yang ia ketahui itu adalah kamar Salma.

Radito melangkahkan kaki nya mendekati ranjang tempat tidur Salma. Ia dengan hati-hati menurunkan tubuh Salma dari pangkuannya.

"Pak Radito, gimana keadaan Salma?" Tanya Rara seraya menghampiri Radito.

"Masih belum sadar. Tadi saya coba bawa ke kamar supaya lebih tenang, kalau di ruang tengah cukup riuh." Jawab Radito.

"Di depan yang menerima tamu ada siapa?" Tanya Radito sambil membukakan selimut untuk Salma.

"Ada tante nya Salma kalau gak salah Pak. Diluar dibantu sama Adam dan beberapa teman Salma." Jawab Rara.

"Kamu tolong jaga Salma dulu ya. Saya mau menemui tamu dulu sebentar diluar." Ucap Radito.

"Iya Pak."

Radito melangkahkan kaki nya keluar dari kamar. Otaknya terus memutar memori yang pernah terekam dikepalanya. Tenda putih yang berdiri kokoh, papan karangan bunga yang berjejer sepanjang kompleks, dan semerbak aroma bunga sedap malam serta lantunan bacaan al-quran yang terdengar olehnya membuat Radito tak sadar meneteskan air mata.

Kini mata nya tertuju pada sebuah karangan bunga yang begitu jelas mencantumkan nama sang calon mertua. Ya, Ayahanda Salma telah berpulang. Tak lama berselang dari obrolan serius antara dirinya dan Salma mengenai pernikahan di rumah sakit itu.

"Ayah, Radit mohon maaf belum bisa jadi suami untuk Salma. Jangan khawatirkan Salma, sudah jadi tanggung jawab Radit untuk menjaga nya." Ucap Radito dalam hati seraya menatap jenazah Ayahanda Salma.

Radito menyeka butiran air mata yang tak terasa jatuh membasahi pipi. Begitu jelas beberapa momen manis antara Radito dan Ayah Salma.

Ada perbedaan yang jauh antara dulu dan sekarang. Radito sempat menemani Salma di momen berduka ketika Ibunya berpulang kala itu, dan hari ini, kepahitan itu harus dialami kembali oleh Salma untuk kedua kalinya.

"Pak Radit, sampaikan salam takziah saya untuk Ibu Salma. Mohon maaf saya tidak sempat bertemu, tadi saya dengar beliau masih belum sadarkan diri ya." Ucap Prof. Haedar dengan lembut pada Radito.

"Terimakasih Prof sudah menyempatkan takziah. Nanti saya sampaikan salam nya ke Salma ya." Radito menyambut uluran tangan Prof. Haedar yang akan berpamitan meninggalkan rumah duka.

"Dit, Salma masih belum sadar?" Tanya Rio menghampiri Radito.

"Iya, dia masih di kamar ditungguin Rara. Gue tadi keluar sebentar buat temuin beberapa kolega nya Salma." Jawab Radito.

"Kasian dia pasti terpukul. Losing parents untuk kedua kalinya, not easy." Tambah Dava.

Tak lama kemudian, terlihat Adam menghampiri Radito yang masih sibuk menyalami tamu yang hadir takziah bersama keluarga Salma.

Workholic LecturerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang