Mata itu mengerjap perlahan setelah berjam-jam terpejam erat dalam damai, jiwanya yg baru sadar langsung di sambut sesak yg masih mendera dan pusing yg masih menyiksa.
Matanya menatap buram langit-langit kamar ini, akhirnya dia bisa keluar dari tempat sempit penuh asap yg menyesakkan dada itu, dia tidak bisa membayangkan dirinya mati mengenaskan di dalam bus karena tidak bisa keluar.
"Alva?.. Sayang? .." Panggil Sania yg sadar Alva sudah membuka matanya,
Matanya mengedar ke samping mencari suara bundanya, belum juga memfokuskan pandangannya, wanita itu sudah memeluknya erat, anak itu tersenyum di balik masker oksigennya, "Tenang, bunda.. Anakmu ini kuat!"
"Bunda rasanya kayak mau mati, tau gak sih, nak?" Ujar Sania mencium rambutnya.
Alva hanya terkekeh dengan senyumnya yg belum hilang, anak itu malah balik bertanya, "Bunda kok bisa ada disini?" Tanya nya, seingatnya dia belum sampai di kotanya, perjalanan masih jauh, dia masih di dalam hutan panjang.
"Denger kabar kamu kecelakaan gimana bunda gak langsung kesini? Jantung bunda rasanya kayak mau copot!"
Anak itu hanya tersenyum, Sania melepaskan pelukannya, "Lihat ke samping deh, ada siapa ..." Ujar wanita itu, Devan hanya diam menatap interaksi itu dengan senyum dan mata berkaca-kaca.
Alva menoleh ke samping mengikuti arah pandang Sania, Alva melihat sosok ayahnya, tubuhnya mendadak kaku, matanya fokus terpaku pada sosok tinggi gagah itu, dia tidak salah lihatkan? dia tidak halusinasi kan? matanya menyerngit dalam, mengamati apakah ini nyata atau sekedar bayangan halusinasi nya saja.
"Alva," panggilnya lemah, dan rapuh
Jantungnya menggelegar mendengar
panggilan itu, matanya berkaca-kaca, Alva yakin kali ini nyata.
Devan mengambil nafas berat, "Alva
maafin, maafin ayah," sesalnya
"Selama ini ayah jahat banget sama kamu, kamu boleh hukum ayah, asal maafin ayah .. Tolong terima ayah, kasih ayah kesempatan buat tebus semua dosa ayah sama kamu, tolong maafin,"
Belum juga Devan melanjutkan kalimatnya, anak itu sudah bangkit dengan sisa tenaga dan rasa nyeri luka yg teramat, demi bisa menggapai tubuh ayahnya itu. Devan yg paham, langsung merengkuh tubuh anak itu, di dekapnya erat raga yg ia sia-sia kan selama ini, tidak ada yg paham se-menyesal apa dirinya, air mata keduanya mengalir bebas, ini adalah momen yg sangat Alva dambakan selama ini.
"Ayah nyesel banget!!.. Kasih ayah kesempatan buat ngulang semuanya, kita mulai dari awal, maafin ayah, Alva." Ujar Devan, anak itu hanya mengangguk dalam tangisnya,
"Aku udah lama nungguin waktu ini, ayah meluk aku," Devan semakin mengeratkan pelukannya mendengar itu, tanpa sadar malah menekan sumber rasa sakit Alva.
"Ss-aakh ..." Ringisnya karena luka di lengan yg tertekan, tapi raut mukanya malah tersenyum dengan kekehan ringan, bukan nyerngitan sakit.
"Ehh-- Maaf, maaf.." Ia lepas reflek dekapannya, tapi Alva malah memeluknya lagi, ia menoleh pada bundanya, merentangkan satu tangannya mengajak sang bunda bergabung pada hangatnya pelukan, mereka saling mendekap hangat, seolah menemukan titik keajaiban yg hilang.
Entah ini mimpi atau bukan, tapi Alva harap bukan. Momen ini terasa sangat nyata, Alva harap bukan bunga tidurnya, bukan halusinasinya, "Bunda, aku nggak mimpi, kan?"
"Enggak, sayang, enggak."
"Ini beneran ayah, kamu gak lagi mimpi, ayah beneran disini." Potong Devan, ia lepas dekapannya, ia pegang kedua pundaknya dan di tatapnya anak itu, "Ayah tobat.." Ujar Devan yg mendapat kekehan ringan Alva,
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Fiksi RemajaDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
