Karlo yg memasuki kamar rawat Alva memandang bingung Devan, kenapa laki-laki ini ada disini? Batinnya, ah tapi dia bodoamat, nanti saja dia tanyakan, langkahnya menghampiri Alva yg duduk di ranjang.
"Alvaaa.. Lo gak papa, Va? Gue deg-deg banget denger kabar Rendi kayak gitu, lo juga gak bisa di hubungin!" Ujarnya memeluk sahabatnya itu,
"Buset, perban lo banyak banget, Va." Celetuk anak itu menyentuh perban yg melilit lengan tangan kanannya, matanya memindai kaki Alva yg di perban tebal juga, telapak tangan kiri juga di perban, bawah dagu dan pelipis anak itu juga di perban kecil yg hanya menutupi lukanya, dan beberapa luka goresan yg tercetak di tubuhnya.
"Aduh! Jangan di pegang!" Protes Alva, Karlo menekan tepat di luka itu, membuat rasa nyut-nyut dari dalam yg.. Entahlah, Alva tidak bisa mendeskripsikannya.
"Ya, maaf!"
"Rendi gimana? Kok bisa masuk ICU?" Tanya Alva
"Kalo dari penjelasan warga disana sih, dia kejebak di dalem bus, dia anak terakhir yg bisa di selametin dari dalam bus yg udah kebakar." Ujar Karlo yg membuat Alva, juga Sania dan Devan membulatkan matanya ngeri.
"Empat belas anak luka-luka ringan, delapan anak meninggal, dua belas anak mengalami luka parah termasuk Alva sama Rendi, sisanya belum di temukan.. Udah hangus kebakar, aku yakin." Jelas Karlo membuat Sania ngeri-ngeri sedap,
"Harusnya gue cari Rendi dulu waktu itu, apalagi tempat duduk dia di belakang gue pas! Tapi gue malah keluar langsung dari bus."
"Enggak! Kalo lo ngebantuin Rendi atau yg lain dulu, mungkin lo sekarang udah kayak dia. Di keadaan genting kek gitu, pikirin diri lo sendiri dulu, baru orang lain." Sangkal Karlo,
"Rendi keadaannya parah banget, Va. Luka bakar sekujur tubuh, patah tulang selangka sama patah tulang rusuk, tiga tulang rusuk yg patah nembus menusuk ke paru-parunya. Nanti malam dia operasi, nyatuin tulang iga pake pen dan kawat. Dan lo.. Kalo lo bantuin Rendi dulu waktu itu, bus juga udah kebakar, udah wallahu alam gak tau gimana nasib lo berdua." Ujar Karlo
"Tuh kan, nggak bunda aja yg bilang, Karlo juga. Kamu udah bener selametin diri sendiri dulu, mumpung masih sadar, iya kan, Kar? Kalo udah gak sadar di dalam..."
Karlo mengangguk atas pertanyaan itu, "Udah, alamat." Sahut Karlo
"Tapi dia sadar?"
"Ya, enggaklah, bego! Kan gue udah bilang Rendi masuk ICU, dia gak sadar dari sebelum di bawa ke RS sampe sekarang masuk ICU, lo juga baru sadar kan?" Tanya Karlo, pasalnya dari awal ia mendapat kabar bus Alva dan Rendi kecelakaan, dia sama sekali tidak bisa menghubungi Alva, baru ini tadi tiba-tiba Sania menelponnya, dan suara Alva yg menyahut.
"Santai dong!" Ujar Alva
"Tan, abis kecelakaan anaknya jadi agak goblok gini." Ujar Karlo
Sania terkekeh, dia sudah biasa dengan mulut blak-blakan keduanya, jadi tidak ada kata sakit hati kalau itu Karlo yg mengucapkan, "Gak tau, otaknya rada geser kali ... Enggak, tuh." Ujar Sania dengan kedua tangan yg sudah memegang kepala Alva, seolah mengecek apakah otaknya bergeser atau tidak.
"Gue kemaren masuk ICU sadar, anjir." Sahut anak itu, tidak mau di salahkan, harus nampak cool depan bapaknya,
"Keadannya beda, Va. Gue cium juga lu!" Ujar Karlo yg gemas, Alva menatapnya jijik.
"Kamu pernah nyium Alva, ya?" Tanya Devan dengan kekehannya,
"Enggak!!" Alva menyahut lebih dulu,
"Enggaklah, om. Bisa di gibeng aku sama anak om." Ujar Karlo
KAMU SEDANG MEMBACA
Surenders
Fiksi RemajaDeskripsi? Tidak ada. Datanglah, siapa tau membuatmu betah. #sickstoryarea Jangan salah lapak, berakhir menghujat.
