Make sure you watch the video guys. Stressed Out by Twenty One Pilot.
*Enjoy*
****
Mia
Kukatakan padamu, orang di belakangku ini tidak waras. Semua orang kurasa sudah tidak waras, entah karena radiasi atau karena hal-hal yang mereka hadapi setiap hari. Termasuk pria bertopeng tengkorak yang sekarang mulai membelokkan motornya tanpa mengurangi kecepatan menuju jalanan sempit yang kumuh. Tidak ada orang yang sehat jiwanya, berkendara seperti dia. Seperti maniak. Dia terus tertawa waktu orang berusaha menembaki kami dari arah belakang, dari atas gedung, dari manapun. Aku tidak tau apa orang-orang Tyaga memang bodoh, atau pria ini yang sangat jago menghindar tapi tak segores pun luka berhasil mereka torehkan saat dia melaju kencang dan menghindari mayat-mayat bergelimpangan di aspal.
Aku aman di bawah tubuhnya, tapi pria ini merupakan target terbuka, seperti sasaran tembak. Dan walaupun begitu, dia masih tertawa keras, menertawakan mereka yang tidak bisa menyentuhnya. Atau menertawakan kematian yang tidak mampu menjangkaunya.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi saat pandanganku dengan takut-takut mengadah ke atas setelah mendengar lolongan tawa yang rendah dan mengejek, dia menunduk. Warna jelas kedua mata berkabut itu memang tidak terlihat, tapi yang jelas aku tau kalau dia tidak takut sedikitpun. Mata itu justru berbinar, seperti bocah di toko permen.
Dia gila. Semua orang sudah gila. Aku juga mungkin sudah gila.
Aku tidak tau sejak kapan, tapi perlahan suara tembakan itu mulai tertinggal di belakang kami. Motor yang melesat ini akhirnya perlahan mengurangi kecepatan setelah memasuki jalanan sempit yang memisahkan dua gedung di kiri dan kanan. Tempat ini cukup jauh dari lokasi Eagle Eyes di taklukkan. Aku tau karena tempat ini berbeda, juga terlalu tenang untuk ukuran daerah konflik. Tempat ini juga jauh lebih tertutup dari pada Eagle Eyes yang selalu terbuka dan berisik seolah mengundang musuh untuk menantang mereka beradu kekuatan.
Perlahan tetapi pasti, semua suara mengerikan itupun menghilang. Tidak ada lagi suara tembakan yang menyakiti telinga, teriakan perintah untuk membalas tembakan, dan suara selongsong kosong yang jatuh ke tanah. Semuanya sunyi.
Aku masih menutup wajahku dengan kedua tangan waktu itu, menangis seperti pengecut sepanjang perjalanan hingga wajah dan rambutku basah karena air mata. Bayangan Tyaga yang bertubuh besar dan kuat jatuh ke tanah karena pria di belakangku ini tidak sanggup membuatku menghentikannya dan berusaha tegar seperti biasa. Tyaga memang tidak sepenuhnya tulus melindungiku, tapi tetap saja aku aman bersamanya. Dia memperlakukanku seperti adik dan kekasihnya, kedua peran yang dia cintai dan di limpahkan kasih sayang serta perlindungan. Sekarang dia tidak ada, di tambah lagi dengan ketidaktahuanku terhadap tempat dan orang baru yang akan kuhadapi sebentar lagi. Semuanya terlalu berat untuk dihadapi orang sepertiku.
Tak lama Pria bertopeng tengkorak itu benar-benar menghentikan motornya setelah kami sampai di belakang sebuah gedung yang di kelilingi kawat berduri. Dia mulai turun dari posisinya, panas tubuh Pria bertopeng tengkorak meninggalkan punggungku yang hanya di balut seprai basah air selokan. Seluruh badanku kotor dan bau.
Aku masih belum berani mengangkat kepalaku, tapi hearing-aid yang sampai sekarang terpasang membuatku mampu mendengar kalau kami tidak hanya berdua. Ada banyak kendaraan yang berhenti. Pintu yang terbuka dan di banting dengan keras. Derap langkah survivor, juga mesin-mesin yang tidak ku ketahui dan terasa asing. Mereka berhasil menghancurkan Eagle Eyes.
"Ayo turun, kita sampai."
Aku menggeleng dan mulai terisak lagi walaupun kelelahan setengah mati. Bayangkan terjaga dari malam hingga saat ini, ketika matahari mulai muncul kembali dengan cahayanya yang terlalu terang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Wall (Behind The Wall Trilogy #1)
Ficção CientíficaCover By @an-apocalypse Bayangkan, dengan keadaan survivor di luar dinding yang mulai kehilangan rasa kemanusiaannya. Dan sanggup membunuh hanya demi sebotol air, rasanya hampir mustahil untuk gadis 17 tahun yang tuli, lemah dan penakut sepertiku un...
