Di markas besar kelompok Evidance yang terdiri dari lima lantai ini, setiap anggota bebas keluar masuk untuk mengurusi keperluan mereka. Baik untuk mengambil makanan, obat-obatan, atau sekedar ke kamar mandi.
Jumlah mereka memang tidak terlalu banyak, tapi kurasa cukup untuk membuat satu lantai sesak jika mereka masuk semua ke sini. Karena itu jumlah yang boleh masuk terlihat dibatasi. Survivor biasa juga tidak pernah kulihat tidur di dalam markas besar. Orang-orang itu diberi tempat di tenda luar untuk memudahkan pergantian shift penjagaan wilayah milik Evidance.
Lantai 4 ini selalu terlihat hidup tiap kali aku diizinkan keluar dari kamar Alex di siang hari. Orang berlalu-lalang, kecuali satu tempat. Sebuah ruangan yang jauh di ujung lorong, dan selalu terlihat gelap bahkan di siang hari sekalipun.
Aku pernah kesana sekali, bersama Alex. Dan sekarang aku diminta datang sendirian, langsung oleh pemilik kamarnya. Jimmy.
Tanganku meraba dinding lorongnya sambil melangkah pelan, berusaha tidak terlalu berisik dan agar tidak jatuh karena mataku yang belum terbiasa melihat di tempat minim cahaya seperti ini.
Tidak usah mengetuk, langsung dorong saja pintunya. Tidak dikunci.
Tanganku berhenti bergerak dengan posisi mengepal siap mengetuk. Lalu akhirnya menurunkannya dan melakukan sesuai perintah Jimmy.
Pintu itu agak sedikit berat, tapi aku masih bisa membukanya. Di dalam, laki-laki itu tampak sedang duduk di sebuah kursi putar, di depan layar lebar yang terbagi antara gambar seluruh sudut wilayah Evidance dan kode-kode yang terus bergerak dengan tulisan kecil berwarna putih.
Berbeda denganku yang terpana dengan apa yang kulihat, Jimmy justru tidak sedang benar-benar melihat ke layar karena digenggamannya sudah ada gameboy yang terus berbunyi beep beep.
"Masuklah, tutup lagi pintunya." Katanya tanpa melepas pandangan dari permainan di tangannya.
Akupun menutup pintu yang kemudian secara otomatis berbunyi klik seperti terkunci. Dan mencoba untuk tidak terlalu memikirkan kenyataan kalau kini aku terjebak di kamar ini bersama Jimmy.
Lama dia tidak menoleh, dan kuputuskan untuk tetap di depan pintu itu saja sambil memandangi lantai dengan hamparan kabel serta kumparan yang tidak kumengerti.
Kamar ini sangat jauh berbeda dengan milik Alex yang lebih kecil dengan barang-barang seperlunya. Berada disini serasa seperti singgah ke dimensi lain.
"Ah sial!"
Aku tersentak dari kegiatanku mengamati waktu Jimmy tiba-tiba mengupat dan mengerang pelan. Musik game over mengalun dari permainan itu menjadi lagu pengiring kekalahan Jimmy.
"Padahal sedikit lagi aku bisa mengalahkan rekorku minggu lalu." Jimmy meletakkan benda tersebut dan mulai memutar kursinya ke arahku.
"Kau tahu cara bermain tetris?" Tanyanya tiba-tiba. Aku sempat bingung dengan pertanyaan tanpa diduga itu, tapi akhirnya kepalaku tetap mengangguk.
"Iya aku tahu."
Wajah Jimmy berubah sumringah, tidak biasanyanya.
"Nah, bagus! Sekarang kutantang kau untuk mengalahkan rekorku. Aku dapat 1. 572.240 minggu kemarin."
Mataku membelalak, "1. 572. 240?"
Berapa lama yang dia habiskan untuk mendapat skor sebanyak itu?
Jimmy tertawa bangga. "Jangan kaget begitu, aku tahu aku hebat. Jadi bagaimana, mau melakukannya? Kalau kau menang aku akan menuruti semua permintaanmu." Katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Wall (Behind The Wall Trilogy #1)
Bilim KurguCover By @an-apocalypse Bayangkan, dengan keadaan survivor di luar dinding yang mulai kehilangan rasa kemanusiaannya. Dan sanggup membunuh hanya demi sebotol air, rasanya hampir mustahil untuk gadis 17 tahun yang tuli, lemah dan penakut sepertiku un...
