Author's Note (You Can skip it if you think it's not that important):
Maafkan keterlambatan posting yang terlampau sering ini. Ini dikarenakan penulis tengah dirundung galau karena laporannya terus ditolak. Jadi perlu waktu untuk menulis bahkan secuil chapter ini.
Sorry, that's all I could say.
***
"Apa terlalu ketat?"
Aku menggeleng. Tanganku masih bisa bergerak sedikit walaupun kini sudah terikat oleh sebuah tali tambang kasar yang membuat kulit tanganku gatal.
"Oke. Tunggu disini." Ujarnya lagi, lalu pergi keluar kamarnya dan meninggalkan aku duduk di tepi ranjangnya.
Tak berapa lama, laki-laki itu kembali bersama suara berderit kursi kayu yang tersendat-sendat karena diseret melewati kabel dan hamparan kumparan di atas lantai. Jimmy terlihat kewalahan setelah meletakkan benda itu di sebelah kursinya di depan layar.
Aku tidak berani berkomentar. Hanya mampu memperhatikan waktu dia menenangkan napasnya yang sedikit tidak beraturan seolah dia habis lari keliling gedung.
"Baiklah, Mia sekarang kau duduk di sini." Katanya menunjuk ke arah kursi di sebalahnya. Akupun langsung berdiri dan duduk di kursi kayu tersebut.
Mata Jimmy terus memperhatikan wajahku dengan tatapan menilai setelah aku duduk disampingnya. Menilai hasil kerjanya menata penampilanku.
Jimmy mengangguk dan tersenyum puas, "Oke, kurasa sudah pas. Sekarang semuanya tergantung dengan aktingmu."
"Apa yang harus ku katakan?" tanyaku begitu Jimmy memutar kursinya ke arah depan dan mulai bekerja.
Dia bergumam tampak berpikir, walaupun tidak mengalihkan pandangannya dari layar di depannya, "Hmm... sepertinya tidak perlu pakai basa-basi karena Davine sudah tahu sejak dua hari yang lalu tentang jadwal pertemuan ini. Dia pasti sudah menyiapkan jawaban terbainya sekarang. Tapi dia tidak tahu kalau kau juga akan ikut muncul. Jadi langsung tanyakan saja kapan dia akan menjemputmu. Katakan padanya perlakuan apa yang kau terima di sini. Gunakan imajinasimu seliar mungkin, kau juga mau lihat reaksinyakan? Apa dia benar-benar peduli padamu, atau tidak." Perkataan Jimmy bagaikan tinju yang menghantam langsung ke titik paling menyakitkan. Dia seperti tahu apa yang kupikirkan hingga aku tidak berani membantah sedikitpun perkataannya.
"Kau siap?" kepalanya menoleh.
Aku mengangguk. Membuatnya tersenyum lagi sebelum keheningan menguasai kamar ini. Tiada ada yang bicara diantara kami lagi untuk lima belas menit paling menjengahkan dalam hidupku.
"Dia mulai bisa mendengar kita." Bisiknya pelan, membuatku semakin waspada. Lalu tak berapa lama, wajah Davine bisa kulihat dari layar. Air mukanya langsung terkejut dan tidak percaya waktu dia melihatku. Davine nyaris menerjang layarnya dengan ekspresi horor.
"Mia!"
Bibirku mulai bergetar menahan tangis begitu melihat wajah kakak laki-lakiku, murni karena hatiku yang bergetar dan bukan karena perintah untuk berakting.
"Apa yang sudah kalian lakukan padanya dasar brengsek! Sudah kubilang untuk menjaganya dengan baik!" dia mulai memaki Jimmy.
"Hei tenanglah, Kami juga bukan satu-satunya yang melanggar janji di sini." Jimmy tersenyum, membuat Davine lebih marah dan memaki lebih keras lagi. Seandainya saja Davine ada disini, dia pasti sudah memukul Jimmy.
"Aku tidak melanggar janji, sudah kukatakan tunggu, jadi tunggu mengerti? TUNGGU! Itu bukan berarti kalian bisa menganiaya adikku seperti sekarang! Dimana belas kasih kalian!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Wall (Behind The Wall Trilogy #1)
Fiksi IlmiahCover By @an-apocalypse Bayangkan, dengan keadaan survivor di luar dinding yang mulai kehilangan rasa kemanusiaannya. Dan sanggup membunuh hanya demi sebotol air, rasanya hampir mustahil untuk gadis 17 tahun yang tuli, lemah dan penakut sepertiku un...
