Keputusan

333 18 3
                                        

Helia merebakan tubuhnya ke ranjang tempat tidurnya. Ia masih memikirkan kejadian tadi, apa yang dimaksud tante Lily ? Siapa yang mirip dengannya ?
entah apa yang dipikirkan Helia, ia merasa, semakin dirinya berajak dewasa, rasanya semakin sulit untuk menjalani hidup, terkadang kebahagian datang kepadanya, tapi dalam sekejap kebahagiaan itu bisa menjadi kesedihannya.

Helia menerawang langit-langit dikamarnya. Ia merasa bersalah, atas apa yang ia lakukan kepada Alan hari ini. tidak seharusnya ia mencampakan Alan, atau memberi harapan palsu ini kepadanya, padahal diluar sana banyak sekali wanita-wanita yang menginginkannya, tapi Helia.. ia justru menyia-nyiakan Alan.

Rasanya aneh, mungkin sudah saatnya ia membuka hati untuk yang lain, selain Tyo. Rasanya sudah cukup ia menunggu seseorang yang sejak kecil ia cintai, bahkan sampai detik ini rasa itu masih ada, tetapi kenyataannya seseorang itu pergi begitu saja, bahkan dia juga hanya menganggap sebagai sahabatnya.

Rasanya sudah cukup ia membuang-buang waktu, untuk memikirkan dia yang belum tentu memikirkannya, Rasanya sudah cukup juga ia memendam perasaan yang membuatnya selalu menangis.

dan mungkin, apa yang Alan berikan padanya adalah sebuah ketulusan, kepedulian, kasih sayang, arti mencintai, dan kebahagiaan.

Dan mungkin, sudah saatnya juga ia menghargai pengorbanan Alan, dan mungkin, sudah seharusnya yang berkorban yang harus dipertahankan, walau sulit mencintai, tapi Helia tahu bahwa hal yang dicintai lah yang akan berujung bahagia.

Dan mungkin ini saatnya aku berhenti mengaguminya. Berhenti mengharapkan dia diam-diam. Berhenti menyukainya. Berhenti tersenyum ketika melihatnya dan. Berhenti dari apapun soal dirinya.
Iya aku berhenti mengharapkanmu Tyo.

☀☀☀☀

Hari minggu adalah hari dimana Helia libur kuliah. Ia sibuk membuat kue bersama adiknya, Rena. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan bunda dan ayahnya.

"Dek bahan-bahan apa lagi, yang harus dimasukin ?" Tanya Helia.

"Bentar ka, lagi loading !" Rena bergerutuh kesal, dengan ponselnya yang sangat lambat, lebih tepatnya sih, karena kartu yang di pakai Rena, signalnya sangat jelek membuat semuanya menjadi lambat.

"Makanya ganti tuh kartu, kartu seribu umat dipakai. Pakai handphone kakak nih." Helia memberikan ponselnya.

Rena tertawa, "Namanya juga anak SMA, nggak peduli signal jelek yang penting murah." Rena mencoba membela diri.

"Iya murah, tapi bikin gondok." Sambung Helia.

Rena hanya bisa diam, sebenarnya yang dibilang kakaknya memang benar, dia selalu kesal, jika SMS dengan pacarnya selalu dibalas dengan lama, dan rasa curiga pun selalu mencul dibenaknya, padahal semua itu terhambat oleh signal yang jelek karena habis terkena hujan.

Sebenarnya, Helia dan Rena tidak bisa memasak apa pun, selain mie rebus dan air rebus, karena semua pekerjaan rumah dan masak sudah di urus Bi Minah.

Tapi sejak kecil, permainan favorit Helia dan Rena adalah bermain masak-masakan, bahkan dahulu Rena bercita-cita, dia ingin sekali menjadi seorang koki terkenal, entah seiringnya waktu, ketika mereka berdua sudah berajak dewasa semua hobby dan cita-cita ketika kecil, berubah begitu saja.

"Non lagi bikin apa ?, udah biar Bibi aja yang bikin, sini." Bi Minah yang baru saja pulang dari supermarket, langsung terkejut saat melihat Rena dan Helia ada di dapur, dengan keadaan dapur yang cukup berantakan, karena tepung yang Rena buka tumpah kelantai.

"Stopppp !" Teriak Rena dan Helia ke Bi Minah. "... Bibi sekarang nggak perlu masak, karena hari ini aku dan kakak, mau bikin kejutan untuk bunda dan ayah, sekarang Bibi istirahat aja." Ujar Rena, Helia mendorong Bi minah untuk keluar dari dapur, lalu membiarkan Bi Minah duduk di depan televisi.
Bi Minah hanya menggelengkan kepala, ketika melihat Rena dan Helia yang saat ini begitu akrab, karena Rena dan Helia sejak kecil selalu saja bertengkar.

SUN ☀Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang