"Aaww! Pelan-pelan Jiae-ya, sakit." Mijoo meringis saat Jiae mengoleskan obat merah menggunakan kapas keatas luka di lututnya.
UKS masih kosong dan perawat yang biasa berjaga sepertinya belum datang ke ruangan ini.
"uhh! Aku benar-benar sudah jengkel dengan kelakuan si brandal pucat satu itu." Jiae berapi.
"Tak bisakah kau sekali saja melawan Mijoo-ya? Atau biarkan aku saja yang melakukannya, akan kupukul hidungnya dan biarkan dia pingsan kehabisan darah."
"Itu yang tadi aku pikirkan, tapi kau tahu bukan? Aku tak akan pernah menang melawannya." Mijoo merengut. Ia sadar sekuat apapun dia, Sehun pasti lebih kuat darinya.
"Apa kau pernah mencobanya?" Jiae menatap Mijoo.
"Tentu, aku pernah mencoba melemparnya dengan bekas kaleng minuman dari atap sekolah kita saat dia sedang bermain basket bersama Chanyeol."
"Lalu?"
"Besoknya aku menemukan sepatuku basah saat kita kembali dari pelajaran olahraga." Mijoo mendesah pasrah.
"ahh~ benar-benar. Apa kau berbuat salah padanya?" Jiae mengkerucutkan bibirnya.
"Entahlah, aku tak yakin. Mungkin aku sedang sial." Mijoo memaksakan senyumnya.
"Apa jangan-jangan dia suka padamu?" Jiae menutup mulutnya sendiri seolah apa yang dia ucapkan adalah berita yang bernilai jutaan won.
"Yak! Itu tak mungkin." Mijoo memukul pelan dahi Jiae.
Mereka berdua tertawa bersamaan seolah lupa akan kejadian tadi. Entah apa yang lucu tapi begitulah mereka, konyol.
"Apa kau tak kesal Mijoo-ya?"
"Tentu saja, rasanya aku ingin pergi saja dari sini, euhh!"
"uhhhh~ temanku yang malang, tenanglah aku disini Mijoo-ya."
Mereka saling memeluk seolah Sehun adalah bencana paling besar di cerita masa sekolah menengah Mijoo.
"Tapi bukankah kalian berasal dari sekolah menengah pertama yang sama?" Jiae melepas pelukannya dan menatap Mijoo.
"Ya, bahkan kita berteman baik saat kita ditahun pertama, kita satu kelas." Mijoo mengkerucutkan bibirnya dan tangannya meraih perban yang sudah selesai ia pakai.
"ah, ini sungguh aneh." Jiae menggelengkan kepalanya dan mengikuti Mijoo yang mulai beranjak dari tempat tidur ruang UKS.
"Ayo!" Mijoo merangkul tangan Jiae
"Kau yakin akan ikut belajar? Istirahatlah Mijoo-ya."
"aeeyy~ aku tak apa-apa, ini hanya luka kecil Yoo Jiae." Mijoo tersenyum dan menyeret Jiae menuju pintu UKS.
"Baiklah."
Mereka berjalan menuju kelas,menaiki tangga dan melewati lorong. Mijoo berharap jam-jam selanjutnya akan berjalan lancar, tak ada lagi Oh Sehun, tak ada lagi kejahilannya. Mijoo bertekad jika Sehun melakukan hal seperti tadi lagi, ia tidak akan segan-segan memukul hidungnya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Falling // osh
FanfictionLee Mijoo perempuan yang paling dipermasalahkan oleh Oh Sehun. ©nyom
