Malam semakin larut namun Mijoo belum juga menapakkan kaki kerumahnya. Ia masih bersama dengan Sehun yang sejak tadi terus saja menarik pergelangan tangannya kemanapun ia melangkah. Mijoo kehilangan rasa takutnya pada Sehun, entah kenapa ia sejak tadi tak menolak saat Sehun terus membawanya. Kini mereka sudah berada di tengah lapangan berumput hijau yang tertata rapih. Sehun melepas genggamannya pada tangan Mijoo dan membaringkan tubuhnya di atas rerumputan.
Mijoo masih berdiri dan memperhatikan Sehun yang kini memejamkan matanya setelah ia menghembuskan nafasnya kasar. Malam ini langit memang tak berawan sehingga bintang-bintang terlihat jelas. Mijoo akhirnya mendudukan dirinya tak jauh di samping Sehun. Ia memandang langit dan menyamankan posisinya, lalu melepaskan genggamannya dari tali leher yang dipakai anjing kesayangannya, membiarkan anjingnya ikut menikmati malam ini.
"Kau masih ingat dulu kita pernah kemari bersama Kyungsoo dan Jieun?" Sehun menghapus keheningan diantara mereka, membuka mata dan mengikuti arah pandang Mijoo.
"Benarkah? Entahlah, aku lupa." Mijoo menarik nafas lalu menghembuskannya.
Mijoo membaringkan tubuhnya seperti apa yang Sehun lakukan, matanya tak henti memandang tebaran bintang yang kini seolah semakin bersinar. Sehun yang sejak tadi memperhatikan gerakan Mijoo kini terpaku pada wajah Mijoo yang berada di sampingnya, entah sejak kapan degupan jantung Sehun semakin cepat.
"Apa kau lupa bahwa dulu kita sering bermain bersama?" Sehun mengalihkan pandangannya.
"Tentu tidak, tapi kurasa tak semua hal bisa kuingat."
"Bagaimana denganku?"
"Maksudmu?" Mijoo memutar kepalanya kearah Sehun yang masih memandang langit.
"Aniya."
Mereka kembali terdiam dengan segala sesuatu yang terlintas dipikiran mereka masing-masing. Memandang langit yang dipenuhi bintang dan menikmati hembusan angin membuat Mijoo lupa akan rasa dingin yang tadi ia rasakan.
"Ayo, ku antar kau pulang." Sehun dengan cepat berdiri dan menggenggam erat tali leher anjing Mijoo.
Mijoo ikut berdiri dan tak menolak ajakan Sehun untuk mengantarnya pulang, ia memang takut jika harus pulang dalam keadaan gelap dan malam memang sudah cukup larut ia rasa. Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang cukup untuk seseorang mengisi tempat diantara mereka. Dalam keheningan Sehun sungguh tidak bisa membohongi perasaannya bahwa saat ini dia sungguh menikmatinya. Memakan ramen dan memandang langit bersama tidak pernah sekali pun terlintas dipikirannya sejak ia keluar dari pintu rumah.
Beberapa menit mereka habiskan untuk menuju rumah Mijoo, kini mereka sudah tepat berada di depan pagar halaman rumah Mijoo. Sehun menyerahkan tali leher anjing putih kepada Mijoo. Mereka masih saling terdiam dan seolah tak ada yang mau lebih dulu meninggalkan satu sama lain.
"Terimakasih." Mijoo memandang ujung sepatu kets yang ia kenakan. Terlintas dalam pikirannya, mengapa ia harus berterima kasih.
"Masuklah."
Mijoo menyentuh ujung pintu kecil pagar halamannya yang setinggi pinggang. Membuka kunci tangan di bagian dalam dan mendorongnya perlahan. Sehun mulai memundurkan langkah dan memutar tubuhnya lalu berjalan lurus menuruni jalan yang tadi ia lewat.
Tapi seolah ada sesuatu yang menahannya, entah apa itu, Sehun tak mengerti. Dengan segera ia memutar tubuhnya dan berlari kembali ke arah rumah Mijoo. Di sana, Sehun melihat Mijoo sudah berada di halaman rumahnya dan sedang berjalan menuju pintu utama rumahnya.
"Lee Mijoo! ... Johahae."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Falling // osh
Hayran KurguLee Mijoo perempuan yang paling dipermasalahkan oleh Oh Sehun. ©nyom
