¤Chapter 8: Christmas Disaster¤

7.6K 1K 163
                                        

(A/N: Yuhuu miss me? Haha, miss you too. Uh hampir 1k, love you all♡♡. Prepare yourself for PLOoooooOT TWIST! You gonna hate Ron now, really. Happy Reading! Enjoy)

Hermione menerjang badai salju mencari Malfoy, tanpa tongkat sihir. Ia mengutuki diri sendiri, dasar bodoh, bodoh, bodoh. Ia bahkan tidak tahu Malfoy ada di mana, bisa saja sekarang ia sudah ber-appearate menjemput maut di sungai atau laut entahlah. Tapi ia tidak berhenti mencari. Ia harus menemukannya.

Entah sudah berapa lama ia mencari, ke pusat perbelanjaan, pasar, kedai kopi atau apapun, tapi tidak ada tanda-tanda Malfoy. Ia mulai kedinginan. Baju hangat yang ia pakai tidak menghangatkannya.

Bagian rasional dari dirinya sudah ingin pulang, tapi sebagian dirinya ingin menemukannya. Bukan hanya karena tanggung jawabnya tapi karena--entahlah, ia ingin menemukannya. Hermione larut dalam pemikirannya sendiri.

Hermione beristirahat di dekat sungai, ia mulai putus asa. Ia kedinginan, tubuhnya gemetar. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah silinder panjang di dekat sana, tongkat sihirnya. Tongkat sihirnya ada di sini berarti Malfoy ber-appearate ke sini lalu dengan bodohnya ia membuang tongkat Hermione.

Kalau saja tidak ada badai pasti akan lebih mudah menemukannya, ia tinggal mengikuti jejaknya saja, tapi badai menghapus jejaknya. Ia menggumamkan beberapa mantra dan mengikuti firasatnya.

"Malfoy!" teriaknya. Ia menemukannya. Malfoy sedang duduk di pembatas jembatan, ia merenung di sana. Hermione berlari ke arahnya. "Malfoy apa yang kau lakukan?!" tanyanya. Malfoy tidak mengacuhkannya. Ia mendekat, ia mendengar Malfoy menggumam, "Tidak berguna, aku orang tidak berguna. Lebih baik aku mati saja,"

"Draco Malfoy! Jangan lompat! Malfoy! Jangan berani-beraninya kau..."

"Mudblood, pergi! Pulanglah! Aku tidak butuh bantuanmu! Aku tidak butuh rasa kasihanmu! Aku benci kau! Aku benci dunia ini!" potongnya. Hermione berusaha mendekat, tubuhnya benar-benar kedinginan sekarang, giginya bergemeletuk.

"Aku tidak akan pulang tanpamu!" bantah Hermione. Tubuhnya gemetar, tapi Malfoy tidak memperhatikan. "Kalau begitu kau akan mati kedinginan juga," katanya.

"Tidak, ma..maaf, t..tapi j..jangan..." Hermione berusaha berbicara, tapi tubuhnya gemetar kedinginan sesaat kemudian pandangannya gelap. Ia pingsan.

Perlu beberapa detik bagi Malfoy untuk menyadari kalau suara Hermione sudah hilang. "Pada akhirnya kau pergi juga," gumamnya. Ia kecewa. Ia baru sadar, tidak ada langkah kaki yang terdengar. "Granger?" panggilnya. Tidak ada jawaban. Ia menoleh ke belakang.

Hermione tergeletak di sana, salju menumpuk di rambutnya. Ia mencoba mrmbangunkannya tapi tubuhnya dingin, bibirnya membiru. "Oh, sial," kata Malfoy. Ia mengambil tongkat Hermione dan ber-appearate ke rumahnya.

Malfoy menidurkan Hermione di sofa depan perapian. Ia menyalakan perapian berharap itu dapat menghangatkan Hermione. Kemudian ia berlari ke kamarnya, mengambil selimut, dan menyelimuti Hermione. Ia memeluknya.

Hermione masih gemetar kedinginan di pelukan Malfoy. Ia meraih jemarinya yang sedingin es. Beberapa menit, mungkin setengah jam Hermione berhenti gemetar.

Tapi bibirnya masih membiru. Malfoy kehabisan ide. Ia mencium Hermione, memeluknya berharap itu dapat menghangatkannya. Bibir Hermione yang dingin mulai menghangat.

Mereka berciuman beberapa menit sampai Hermione membuka mata dan menghadiahkan tamparan di wajah Malfoy. "Apa yang kau lakukan?!" tanyanya marah sambil mengusap-usap bibirnya.

"Menyelematkan dirimu, bodoh! Kau tadi terkena hipotermia," jawab Malfoy santai. Hermione berusaha terlihat marah tapi wajahnya yang pucat tidak mendukung. "Apa?" tanyanya.

"Hipotermia, Granger, H-I-P-O-T-E-R-M-I-A," kata Malfoy lagi. Hermione tidak menjawab. Malfoy beranjak dari sofa. "Kalau kau sudah baikkan, aku mau pergi lagi, tidak usah mencari, Granger. Sudah ku bilang!"

"Kau kira aku keluar mencarimu di tengah badai hanya untuk melihatmu pergi lagi..." ujar Hermione. Malfoy terdiam sejenak, "Lalu?" katanya.

"Kau tidak boleh pergi begitu saja bodoh!" Hermione menaikan suaranya. "Aku tidak akan membawa tongkatmu kali ini, Granger," ucap Malfoy.

"Tidak, jangan pergi! Lagipula aku kedinginan di sini, bisa beri pelukan lagi?" kata Hermione tiba-tiba. Malfoy mendekat, ragu-ragu ia mengulurkan tangan untuk memeluk Hermione. "Kau hangat," bisik Hermione di telinganya.

"Iya, dan kau dingin," mereka tersenyum. Hermione sudah terlihat lebih baik tapi Malfoy tidak ingin melepaskan pelukannya, tidak juga Hermione. Mereka berpelukan dalam diam, mendengar retihan api di perapian dan badai di luar.

"Aku turut berduka atas ibumu, aku tahu itu tidak cukup, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan," kata Hermione. Mafloy berusaha menahan emosinya. Ia ingin menghancurkan segala-galanya, seperti dunia menghancurkan hidupnya. Tapi, "Iya, kau sudah melakukan sesuatu yang lebih dari cukup untukku,"

Hening...

"Aku harap aku tahu di mana orang tuaku sekarang," ujar Hermione lenuh damba. "Aku yakin kita bisa menemukannya"

"Apa kau tadi baru bilang kita? Apa maksudmu?"

"Aku akan membantumu menemukan mereka, Hermione,"

"Tunggu kau baru memanggiku Hermione?"

"Uh-oh, tidak, Granger,"

Tok! Tok! Tok! Pintu diketuk. Hermione melepaskan diri dari pelukan Malfoy tapi Malfoy menahannya. "Diamlah disini, biar aku saja yang membukakan," katanya. Hermione mengangguk. Malfoy beranjak dari sofa. Ia membukakan pintu.

Ron tengah tersenyum di ambang pintu. Senyumnya lenyap begitu ia melihat Malfoy yang membukakan pintu. "Apa yang kau lakukan di sini? Pelahap Maut brengsek?!" tanyanya meledak-ledak.

"Liburan, Weasley," Malfoy menjawabnya enteng. "Hermione! Kau menghabiskan liburan dengan Pelahap Maut brengsek ini?! Satu rumah?! Aku kira kau itu orang baik, ternyata aku salah. Kau tidak lebih dari PEREMPUAN MURAHAN!" Buk, tinju Malfoy mendarat di wajah Ron, meninggalkan bekas kebiruan. Entah mengapa ia merasa sangat marah.

"A..apa?" Ron terlihat sangat terkejut dengan pukulan tanpa peringatan tadi. "Itu untuk menghajarku waktu itu!" kata Malfoy penuh kebencian.

"Kau serius, Hermione? Kau membiarkan Pelahap Maut ini menghajarku begitu saja? Kau bukan sampah seperti dia!" Ron masih berusaha mendapat perhatian dari Hermione.

"Tadinya aku datang untuk meminta maaf atas perlakuanku waktu itu, tapi ternyata itu sungguhan, hubungan gelap dengan sampah di dunia sihir? Kau pernah lebih baik dari ini!"

Hermione berusaha bangkit dari sofa. Ia menyerbu ke arah Ron, air mata menggenang di wajahnya. "Kau.. kau pernah lebih baik dari ini! Kau tahu apa yang terjadi? Dia menyelamatkan nyawaku lagi!" Hermione mengatakan kata terakhir dengan penuh penekanan.

"Sekarang kau pergi dari rumahku," katanya sambil mendorong Ron keluar. Sayangnya tenaganya belum sepenuhnya pulih, ia kehilangan keseimbangan. Ia pasti akan terjatuh Ron tidak cukup gesit untuk menahannya.

"Kau sakit? Oh ya Tuhan, wajahmu pucat, dan kau sangat dingin. Apa yang terjadi?" tanya Ron, suaranya melembut.

"Hipotermia," bisik Malfoy. Ron bahkan tidak repot-repot menoleh ke arahnya. "Hermione, kita harus pergi ke St. Mungo sekarang," kata Ron.

"Tidak, tidak, aku tidak apa-apa," Hermione berusaha berdiri tegak. "Tidak apa-apa bagaimana? Kita harus pergi, sekarang," desak Ron. Entah secara sadar atau tidak, Hermione menoleh ke arah Malfoy. Malfoy mengangguk "Pergilah," bisiknya. Lalu mereka ber-disappearate meninggalkan Malfoy sendirian.

Malfoy merasakan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang baru ia temukan hilang. Kehangatan, yang baru ia dapatkan seakan terbang terbawa badai.
____________________________________

Hai hai maaf, maaf lama baru update lagi udah sekolah soalnya. Huehehe, Maloy udah berani cium Hermione nih. Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi.

Btw ada yang punya lagu favorit yang kira-kira bisa dijadiin cerita selanjutnya? Comment aja! (Lagi butuh referensi)

Huh, hampir 1k seneng banget=D Love you all♡. Stay Tunned (^O^)V

One Simple SpellTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang