Dengan perasaan kesal yang menguasaiku, kulangkahkan kakiku keluar dari tempat terkutuk itu. Tempat di mana aku harus memutar otakku selama berjam-jam. Kulihat halte tempat biasa aku menunggu bus sedang sangat sepi. Dengan malas ku menunggu, menghitung detik demi detik sembari duduk menopang dagu dengan kedua telapak tanganku.
Tanpa kusadari seseorang duduk di sebalahku dan mulai menyapaku,
"Haii.."ucapnya yang sontak membuat aku tertegun.
Mataku terus menatap tak percaya dengan siapa aku duduk bersebelahan saat ini.
Ku usap-usap mataku mencoba membenarkan diriku sendiri bahwa aku salah melihat. Semakin keras aku mengusap mataku yang mulai kemerahan itu, mataku terus menatap tajam pada sosok di hadapanku ini.
'Arghh, ini tidak mungkin' gumam batinku tidak membenarkan apa yang tertangkap oleh mataku saat ini.
Tanganku tetap saja gatal untuk tidak mengusap mataku sembari mengedip-kedipkan mataku tak percaya, sampai tangannya meraih tanganku menghentikan hal bodoh yang telah kulakukan beberapa waktu yang lalu.
"Bang renan?" ucapku tak sadar namun berharap bahwa penglihatanku sedang tidak baik hari ini. Yeah mungkin efek cape dan kepanasan akibat mos tadi.
"Haii nes, gimana kabar kamu? Aku kangen banget sama kamu, sumpah" ia mengucapkannya terdengar begitu tulus dan meraih lengan dan langsung membawaku dalam pelukannya.
"Ehh jadi bang renan beneran udah balik?" ucapku memandang tak percaya terhadap sosok di hadapanku dan melepaskan pelukannya.
"Iya dek, abang udah pulang. Yuk balik mama pasti udah nungguin kamu dirumah" ia langsung mengambil salah satu lenganku dan menggandengnya.
Dalam perjalanan menuju mobil tak henti-hentinya aku membatin berharap 'tidak akan ada lagi pertengkaran'. Ia yang menyadari akan kecemasan yang kugambarkan melalui mimik wajahku pun menenangkanku dengan mengacak puncak kepalaku sembari tersenyum manis. Senyuman yang begitu aku rindukan selama ini,
"Dek, semuanya baik-baik aja kok" ia berusaha memberiku ketenangan dalam nada bicaranya yang meyakinkanku agar tidak terlalu khawatir.
Aku berusaha tenang selama duduk di sebelah bangku pengemudi mobil jeep ini.
●●●
Ketakutan mulai menghantui diriku saat merasakan hembusan angin semilir yang lewat begitu saja seolah mendukung ketakutanku itu. Ku beranikan melangkahkan kakiku perlahan tapi pasti melewati pintu ini. Seolah semua ini mengulang kejadian 2 tahun yang lalu, kejadian kelam yang merubah hidupku 180°. Merubah setiap aspek dalam hidupku bahkan sampai ke detail terdalamnya.
~
"Aku gak akan pernah terima semua ini, dia gak boleh terus-terusan pacaran sama Renan Ma" sosok menakutkan yang terakhir kali kulihat tengah tersenyum padaku. Tapi ingatan masa kelam itu terus menghantuiku.
"Pa, apasalahnya sih kalo mereka pacaran. Toh mereka saling sayang satu sama lain Pa. Mereka juga udah kenal dari kecil. Kenapa papa gak setuju sih sama hubungan mereka"tangisan mama mulai pecah tak tertahan lagi.
"Ma aku gak mungkin setuju. Dia itu cuma anak jalanan yang aku sendiri gak tau asal-usulnya. Dia gak pantes sama sekali pacaran sama anak semata wayang kita. Aku gak akan ngebiarinin ini terjadi. Renan gak boleh pacaran sama anak gak jelas kaya dia" papa terus menghinaku, menghina asalku mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah kubayangkan keluar dari mulutnya. Mengingat sejak kecil ia memperlakukanku layaknya anaknya sendiri. Tapi tidak pernah kusangka kasih sayangnya selama ini, tidak pernah tulus.
Aku membenci diriku sendiri telah mempercayai sikap manisnya selama ini. Air mataku tak tertahankan mengingat ia mengatakan bahwa aku hanya anak jalanan, aku tidak pantas sama sekali bersanding dengan bang Renan anak semata wayangnya.
"Pa, papa jangan keterlaluan gitu. Walau kita gak tau asal-usulnya tapi dia tetep anak kita. Kita sudah membesarkannya selama 10 tahun Pa. Dia anak yang baik, cantik, berprestasi. Dia selalu jadi juara kelas, dia tidak pernah mempermalukan kita. Apalagi yang kita butuhin, dia bahkan lebih dari sempurna hanya untuk menjadi pacarnya Renan" mama mengucapkannya dengan begitu tulus dan mengeluarkan tetes air matanya yang keluar tanpa ia sadari.
"Papa tetep gak setuju, gimana kalo dia anak haram"
'Plakk.....' mama menampar wajah Papa keras. Membuat Papa meringis kesakitan.
"Mama berani nampar Papa, cuman demi anak kaya dia" ucap Papa yang sadar bahwa sejak tadi aku mendengar pertengkaran mereka. Dan menunjuk ke arahku.
"Tentu saja Mama lebih milih dia, Papa udah keterlaluan. Alasan Papa gak logis sama sekali" ucap mama membelaku, sungguh aku beruntung memilikinya. Dia adalah pelita yang menerangiku dari kegelapan. Dia juga yang menarikku dari lembah kegelapan.
"Oh jadi gitu, heh? Oke kalo memang mama lebih milih dia. Sekarang juga kita cerai!" Aghh sontak air mataku mengalir deras. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini.
Gara-gara aku, semua ini karenaku. Tak seharusnya aku menyukai bang Renan, tak seharusnya aku mengubah status kami lebih dari adik-kakak. Tidak ini semua karena ku, apa yang telah aku lakukan? Aku menghancurkan kebahagiaan mama. Aku menghancurkan keluarga ini. Aku mengubah keharmonisan di rumah ini menjadi pertengkaran hebat.
'Tidak, kenapa aku sejahat ini? Kenapa aku menghancurkan segalanya. Kenapa aku tak bisa membalas jasa baik mereka padaku. Mengapa aku begini?'
~
Pertanyaan itu seolah terngiang kembali di telingaku. Ingatan akan pertengkaran hebat 2 tahun yang lalu. Ingatan yang seakan menyadarkanku akan asal-usulku. Jalanan, itulah asalku. Bidadari yang kini menjadi tempat sandaranku. Bidadari yang menarikku dari kegelapan dan membawaku pergi bersamanya. Menyayangiku sepenuh hati, memberikan segalanya yang tak pernah aku dapatkan dari orang lain.
Aku menatap tak percaya akan apa yang aku lihat saat ini, mama sedang tersenyum padaku dalam keadaan pinggangnya yang didekap erat oleh... 'bisakah aku menyebutnya papa'.
Tidak kucoba tepiskan pikiran burukku itu, dan memaksa tersenyum kepada keduanya.
"Maa..." ucapku lemah menuntut penjelasan dari mulut orang yang telah sangat berjasa bagiku itu.
"Sayang, mama sama papa bakalan rujuk lagi. Papa sama bang Reman bakalan tinggal di sini lagi, kita akan menjadi sebuah keluarga harmonis lagi" mama mengambil telapak tangku dan mengeluskannya lembut. Terlihat wajah penuh harap di wajah cantiknya yang tak lekang oleh waktu walaupun umurnya sudah memasuki hampir setengah abad.
"Aku ngerti kok ma, aku ikut bahagia kalau mama bahagia" aku berusaha tersenyum setulus mungkin tak ingin mengecewakan harapan mama itu.
Walaupun aku tahu hubungan yang sudah retak, tidak dapat kembali utuh seperti sedia kala. Meskipun kembali, harapan akan perasaan yang sama tidak mungkin datang lagi. Tapi tetap saja aku hanya berharap walaupun 'gelas' itu sudah retak namun dapat bersatu lagi.
To be continued
Makasih buat yang udah nyempetin baca cerita aku. Walau masih amatir sebenarnya.
Oh ya maaf juga slow update soalnya lagi sibuk belajar. Maklum baru aja selesai Lun nih. Vote and comment pleaseeee😂
KAMU SEDANG MEMBACA
I Can't Believe You
Teen FictionDavid yang menyukai Agnes sebagai teman. Agnes yang menyukai David lebih dari teman. Kisah mereka sederhana, hanya tentang pertemanan laki-laki dan perempuan yang diikuti dengan perasaan sayang dari salah satu pihak. Sedangkan pihak yang lainnya? E...
