6. Ali

801 76 1
                                        

Tak lama setelah David mengantarku, kulangkahkan kakiku menuju pintu rumahku. Aku kaget dengan keadaan di dalamnya, ruangan yang biasanya terang benderang saat ini benar-benar gelap temaram. Tak ada setitik cahaya pun yang dapat kulihat.

Kurogoh saku celanaku mengeluarkan handphoneku untuk menerangi jalan. Belum sempat ku hidupkan ponselku tiba-tiba suara seseorang mengagetkanku.

"Nes, kamu udah pulang?" aku belum menjawabnya juga. Kekagetan yang aku alami seolah membuat seluruh aktifitas otakku berhenti.

"Nes, kamu gapapa?" Bang Renan menepuk pundakku, yang sontak membuatku tertegun.

"Ehmm, aku gapapa kok bang" ucapku santai lalu berlalu meninggalkannya menuju kamarku. Ia menghidupkan lampu dan berteriak padaku,

"Nes, kamu belum makan malam kan?" ucapnya berhenti beberapa detik, lalu menimpal lagi. "Aku masakin kamu nasi goreng ya."

Aku mengangguk pelan, lalu terus menaiki anak tangga menuju kamarku. Sesampainya di dalam kamar aku pun menghempaskan tubuhku di sofa empuk berwarna biru laut itu.

Aku melirik ke arah jendela kamarku, gemericik air hujan menggangguku untuk tidak melihatnya secara langsung di balkon. Kubuka pintu kaca balkonku, udara dingin langsung menerpa diriku. Dadaku sesak, seakan tertusuk oleh ribuan jarum. Dingin, sangat dingin, aku tak dapat bertahan berlama-lama di sini. Lalu aku pun meninggalkan balkonku dengan cepat. Memasuki kamarku, dan langsung bergegas ke kamar mandi.

Sesudah melakukan tritment mandi bebekku yang hanya berlangsung selama 5 menit. Aku pun mengganti pakaianku dengan piyama berwarna coklat polos dengan lengan panjang. Dan membiarkan rambut basahku terurai begitu saja.

Kulirik kembali jendela kamarku, di luar masih hujan. 'Bagaimana keadaannya saat ini?' Batinku cemas tak karuan. Hujan begitu lebat bahkan aku yang hanya keluar beberapa menit di balkon dapat merasakan kedinginan. Bagaimana keadaannya? Aku tak dapat menampilkan diriku sendiri bahwa aku begitu cemas akan keadaannya saat ini.

Kuraih handphone yang tergeletak di samping nakas tempat tidurku dan mulai menelpon nomor tidak dikenal yang tadi siang menelponku. Tidak aktif, nomornya tidak aktif. Apa handphonenya lobet ya? Gumamku dalam hati.

Orang yang menyadari kehadirannya tidak diketahui itu pun membuka suara.

"Dek ini nasi goreng seafoodnya" ucapnya sembari memberikan sepiring nasi goreng dengan toping seafood di dalamnya. Aku mengambilnya dan tersenyum simpul pada Bang Reman yang sedari tadi di acuhkan olehku.

"Makasih ya bang, udah repot-repot buatin agnes nasi goreng" ucapku terus menebar senyum dan meraih secangkir susu putih hangat yang diberikan olehnya.

"Sama-sama dek, oh ya boleh nggak aku duduk di sini" ia menunjukkan tempat kosong di sampingku ini. Lebih tepatnya di atas kasurku.

"Ehmm... boleh kok bang, kenapa gak boleh" aku yang menyadari pergerakannya yang berusaha duduk sangat dekat di sampingku pun sedikit menggeser memberi ruang agar kami tidak terlalu dekat.

Aku terus melahap nasi goreng ini dengan lahap, bang Renan tau banget kesukaanku. Nasi goreng seafood emang selalu top di lidahku. Apalagi... yang dimasak dengan penuh cinta oleh bang Renan. Upss, keceplosan deh.

"Dek," ucapnya sambil mengelus puncak kepalaku.

"Hmm?" gumamku singkat padanya.

"Dek aku masih sayang banget sama kamu" apa yang kudengarkan barusan? Ini gak mungkin pengakuan cintanya bang Renan kan. Aku yang kaget akan ucapannya sontak tersedak dan dan terbatuk-batuk. Bang Renan segera memberikanku secangkir susu putih hangat yang dibuatnya tadi untukku.

I Can't Believe YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang