Senja berganti malam. Liburan akhir semester kali ini aku habiskan dengan mengurung diriku di kamar. Aku tidak pergi liburan sama sekali, Mama dan Papa masih di Bali menikmati paket honeymoon atas rujuknya hubungan mereka. Bang Renan study tour ke Jogja. Sedangkan Nata, jangan ditanya deh. Dia mah keluarga fanatik liburan. Saat ini ia sedang liburan di Aussie bersama keluarganya.
Terlalu lama sendiri aku jadi sering melamun, pikiranku melayang sampai akhirnya aku kembali memikirkannya. Iya 'dia' siapa lagi kalau bukan David. Orang yang sudah bisa membuatku jatuh hati sejak pertama kali melihatnya. Terdengar lebay memang, tapi itulah kenyataannya.
Sampai saat ini aku masih bingung kenapa jantungku seperti ini setiap bertemu dengannya. Rasanya seperti ada bom yang meledak dalam jantungku. Rasanya seperti ada jam weker di dalamnya.
Aghh kenapa bisa begini, kenapa ini harus terjadi. Kami hanya sekedar teman. Teman satu-satunya tapi mengapa aku berharap lebih, cukup Nes, jangan hancurkan semuanya lagi. Kami hanya berteman selama ini, tapi mengapa akhir-akhir ini aku benci melihatnya bersama orang lain.
Kenapa aku seperti ini? Aku tidak boleh egois. Dia hanya temanku, teman, gak lebih gak kurang. Tapi perhatiannya selama ini, apa semua itu hanya bentuk perhatiannya sebagai teman.
Apa semuanya hanya sebatas teman, apa aku salah mengharapkannya lebih. Aku menyadarinya, aku benar-benar menyukainya selama ini. Meski terus menghindar darinya aku tetap merasakannya, perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan saat bersama bang Renan dulu, aku tidak pernah seperti ini.
Jika benar aku menyukainya apa dia akan melakukan hal yang sama padaku? Apa dia akan menyukaiku juga jika aku mengatakannya? Atau justru dia akan menjauh dariku? Ia pasti akan berpikir bahwa aku melanggar janjiku. Memang benar aku melanggarnya, bahkan sebelum janji itu dibuat aku sudah melanggarnya.
Tidak, tidak aku tidak boleh menyukainya. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri meski telah kucoba berulang kali tetap saja aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tidak bisa menghindarinya lebih lama lagi.
Sudah 3 bulan, meski kami duduk bersebelahan kami tak pernah bertegur sapa. Semenjak aku membantunya di ruang musik, semenjak itu pula ia mulai menjauhiku juga.
Aku tak mengerti apa maksudnya, kenapa ia menjauhkan dirinya dariku. Apa salahku padanya, apa ia marah karena aku menghindar darinya. Tapi kenapa ia harus marah, toh kami hanya teman. Apa dia tersinggung atau jangan-jangan...
'Ya ampun Nes, jangan ngarep deh dia juga suka sama lo. Mungkin dia udah bosen temenan sama lo. Makanya dia menjauh' batinku mengingatkan. Walau bagaimanapun juga aku harus tetap menjauh. Tapi, apa aku bisa bertahan lebih lama lagi?
Terlalu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam benakku, bahkan semenjak 6 bulan yang lalu aku mengenalnya, perasaan itu, perasaan yang sama sekali tidak aku harapkan datang begitu saja. Apa dia akan menerimaku pada akhirnya atau malah meninggalkanku, karena perasaanku dapat mengubah status kami. Arghhh kumohon bantu aku, apa aku harus bersikap biasa saja jika bertemu dengannya? Atau sebaiknya aku menghindar lagi darinya?
Terdapat banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di otakku. Dan tiba-tiba handphoneku berdering.
Ali is called you.
Itulah yang tertulis di sana, dengan segera kuangkat telponnya.
"Hai Nes!" Ucapnya dari ujung seberang.
"Iya Li, kenapa?"
"Ehmm Nes," ia terdengar ragu mengatakannya.
"Iya kenapa Li?" ujarku mulai tak sabaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Can't Believe You
Novela JuvenilDavid yang menyukai Agnes sebagai teman. Agnes yang menyukai David lebih dari teman. Kisah mereka sederhana, hanya tentang pertemanan laki-laki dan perempuan yang diikuti dengan perasaan sayang dari salah satu pihak. Sedangkan pihak yang lainnya? E...
