16. Study Tour

624 60 17
                                        

Hari ini adalah hari keberangkatanku ke Puncak. Dan aku pun sudah mempersiapkan semuanya.

"Nes, jaga kesehatan kamu ya selama di sana" ucap Mama sambil mengelus puncak kepalaku.

"Argh, Mama. Aku kan bukan anak kecil lagi" Ucapku memperlihatkan wajah sebalku.

"Sumpah Ma, ini berlebihan banget" Ucapku melihat semua barang yang tersusun rapi di meja riasku. Semua itu telah disiapkan oleh Mama. Lengkap, bagaikan aku akan pindah rumah saja. Mulai dari baju yang menumpuk bergunung, hair dryer, perlengkapan mandi, boneka, dan lebih banyak lagi barang, yang kuanggap sangat tidak 'penting'.

"Mama berlebihan banget deh" ucap batinku.

"Sayang, ini tuh udah lengkap banget. Kamu bisa bawa semuanya, dan Mama jamin deh gak bakalan ada yang kurang" ucap Mama enteng.

"Iya Ma, emang gak ada yang kurang, tapi yang ada berlebihan" batinku tak menyetujui ucapan Mama.

"Tapi Ma," ucapanku tertahan, sungguh aku tidak ingin meyakiti perasaan Mama.

"Yaudah, minimal kamu pilih salah satu-lah, dari semua yang udah Mama persiapin" ucap Mama lesu.

Aku pun mengambil sepatu keits berwarna biru, yang terletak di atas meja. Dan mengambil beberapa lembar uang yang terletak di sampingnya.

"Cuma itu?" Tanya Mama, sedikit memiringkan kepalanya.

Aku mengangguk pasti.

"Bawa ini Nes!" Ucap Mama sembari mengulurkan tas kecil padaku.

"Ini apa Ma?" Tanyaku heran.

"Di dalamnya ada kotak P3K, buat jaga-jaga" aku memicingkan sebelah mataku.

"Buat apasih Ma, gak penting ah" aku menolaknya dan menaruhnya kembali ke atas meja rias. Dan segera meraih tas ransel besar di atas sofa.

"Ihh, kamu ini, yaudah kalo gak Mau dibawa. Tapi, kamu kok bawa ransel sih Nes? Mama kan udah nyiapin koper buat kamu" ujar Mama saat melihatku menggendong tas ranselku.

"Ma, Agnes tuh cuma mau ke puncak. Bukan ke luar negeri" ucapku sembari mengikat tali sepatuku.

"Yahh, terserah kamu-lah Nes, mama capek" ucap Mama berlalu meninggalkan kamarku.

Handphone ku bergetar, dan segera kulihat. Ada notifikasi LINE di sana.

Nata: "Nes, udah siap belum?"

Agnes: "Udah, lo dimana?"

Nata: "Tunggu, bentar lagi kitorang nyampe."

Agnes: "Oke" balasku singkat dan menggendong ranselku keluar kamar.

******

Saat Nata dan Andien telah sampai di rumahku, aku pun langsung pamit pada Mama, dan mengecup pipinya.

"Lahh, kok ada lo sih?" Tanyaku heran melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Vio, bule cabe yang udah mengusik kehidupanku selama 2 bulan terakhir.

"Ehh iya Nes, tadi Vio nelpon gue, dia bilang gak ada yang nganter. Yaudah deh dia nebeng sama kita, kan kebetulan banget, dia searah sama kita" ucap Andien santai, yang membuatku hanya bisa ber 'oh' ria.

Aku pun duduk di kursi belakang pengemudi, dengan perasaan sangat 'terganggu'. Bagaimana tidak? Nih bule cabe, ada di samping gue. Persis, di samping gue. Ya Allah, kuatkan batin hamba, jangan sampe hamba mencakar nihh orang sok kecakepan." Ucap batinku dramatis, yah kalo mengingat apa yang dilakukan sama Nih orang, emang bawaannya mau nyakar aja.

I Can't Believe YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang