Thank's a lot, buat yang kemarin udah baca cerita ini. Terlebih lagi untuk yang udah bersedia ngevote. Aku seneng banget kalo respon dari kalian bagus.
So, happy reading guys^^
-----------------------------------------------------
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali saat setitik cahaya masuk melalui celah kelopak mataku. Yah, mimpi aneh itu harus terpotong oleh suara nyaring dari jam weker di nakas sebelah tempat tidurku.
"Lagi-lagi,"gumamku singkat.
Mimpi aneh itu selalu terpotong sebelum mencapai endingnya. Aneh, hampir setiap malam Aku memimpikan hal itu.
~
Hamparan rumput hijau terpampang jelas di mataku. Saat ini, Aku seperti tengah berada di padang rumput hijau nan menyejukkan hati. Di sela-sela kenikmatan menikmati pemandangan ini, suara gemericik air mengganggu gendang telingaku. Sontak saja, tanpa berpikir panjang aku pun menghampiri sumber suara, ternyata benar tebakanku, ada mata air di sekitar sini.
Air sungai mengalir dengan derasnya, sampai-sampai suaranya terdengar cukup keras, namun hal itu tidak menjadi point minus kali ini. Justru suara itu menjadi pelengkap yang sangat tepat untuk menghiasi tempat ini.
Aku berjalan mengitari sepanjang sungai ini. Seolah mencari hilir dari air yang mengalir ini. Aku masih terus berjalan sampai sebuah suara serak menghentikan langkahku.
"Jangan, jangan pergi lagi" ucapnya getir. Sontak aku membalikan tubuhku untuk memandang sosok yang sedang mengajak bicara.
David? Aku tertegun cukup lama. Apa arti dari semua ini?
"Vid, lo kenapa?" Aku segera menghampirinya. keadaannya sangat kacau saat ini, rambutnya acak-acakan bajunya basah seperti terguyur air.
"Nes, kenapa? Apa salah gua?" Ucapnya parau. Sungguh, aku hampir saja menitikkan air mata melihat keadaannya saat ini.
"Maksudnya?" Aku bertanya, karena sungguh aku tak mengerti arti dari ucapannya barusan.
"Every body is liar. Kenapa mereka bohongin gua?" Ujarnya masih terdengar getir di telingaku.
~
Tepat saat aku ingin bertanya lebih lanjut padanya, jam wekerku berbunyi. Arghh, aku kesal memikirkannya terus-terusan. Akhirnya aku pun mencoba menepiskan mimpi aneh itu dari benakku.
******
"Woyy Nes, dari mana aja lo?" Sosok yang ada mimpiku sedang ada di hadapanku saat ini. Aku masih tidak merespon ucapannya justru menjauh darinya.
"Ehh, ditanya malah kabur" ucapnya, yang tanpa ba-bi-be-bo telah merangkul pundakku.
"Apaan sih Vid, lepas ihh!" aku mencoba menjauhkan lengan panjangnya dari pundakku, namun ia menahan tanganku.
"Lo kenapa sih Nes?" ucapnya, merasa aneh dengan sikapku.
"Udah ah lepas, ngapain lo megang-mengang gua?!"
"Lah, emang napa sih? Biasanya juga gapapa" ucapnya dengan nada santainya, yang membuatku sungguh kesal.
"Iya dulu emang gapapa, tapi sekarang, jangan harap lo bisa nyentuh gue barang secuil aja!" Ucapku ketus, menghentakkan tangannya kasar dari pundakku, dan melangkah hampir berlalu meninggalkannya, jika saja ia tidak menghentikan langkahku.
"MAU LO APA SIH?!" Tanyaku dengan nada suara meninggi sedikit.
"Nes, lo kenapa sih?" Ucapnya keheranan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Can't Believe You
Teen FictionDavid yang menyukai Agnes sebagai teman. Agnes yang menyukai David lebih dari teman. Kisah mereka sederhana, hanya tentang pertemanan laki-laki dan perempuan yang diikuti dengan perasaan sayang dari salah satu pihak. Sedangkan pihak yang lainnya? E...
