2. Classmate

1.6K 103 1
                                        

Classmate

"Ehmm.. vid lo kelas apa?" Aku memulai memecah keheningan di antara kami. Sejak tadi kami saling berdiam diri tanpa ada sepatah kata pun yang terlontar.

"Oh, gue kelas X-C, lo sendiri?" ia menatap ku penuh dengan tanda tanya di wajahnya.

"Eghh, gue gak tau juga sih tadi belum sempet ngeliat, eh udah ninju perut lu lagi" jawab ku sambil menyengir tersenyum malu-malu padanya.

"Ohh gitu, yaudah liat aja lagi, sana!" ucapnya sambil menunjuk ke arah kerumunan di depan mading. Yah, saat ini kami sudah tidak lagi, berada di kerumunan mading. Saat ini kami tengah berdiri di depan aula.

Tanpa pikir panjang aku pun langsung pergi sembari tersenyum dan berlalu meninggalkannya. Dengan sigap aku pun langsung memaksa masuk ke dalam kerumunan itu. Setelah menelaah namaku di daftar itu untuk yang kedua kalinya, akhirnya aku menemukan namaku.

"Ehmm kelas X-C, waww berarti gue sekelas sama david dong" gumamku dalam hati tanpa disadari aku pun tersenyum-senyum sendiri.

Saat kembali ke tempat sebelumnya, aku tidak lagi melihat David di sana,

"Yahh kurasa dia sudah pergi"gumamku sangat pelan.

Aku pergi setengah berlari menuju kelas ku, saat pertama kali masuk ke pintu besar dan tinggi itu aku pun menghembuskan nafas yang menandakan ketenangan ku sembari menutup mata ku. Belum sempat aku membuka kedua kelopak mataku, lagi-lagi ada orang yang mendahuluiku sambil menepuk pundak ku dengan cukup keras.

"Gak nyangka, ternyata kita satu kelas ya" aku masih menatapnya dengan tajam dan sedikit bergumam

"Yahh sepertinya begitu" ucapku sembari menganggukkan kepalaku dengan malas.

Lalu aku pun menatap bangku kelas dengan malas. Sampai akhirnya aku pun tertegun melihat apa yang ada di hadapan ku saat ini.

"Apa-apaan ini! masa tinggal bangku paling depan doangg yang tersisa" ucapku kesal melihat keadaan yang sedang kuhadapi saat ini. Bagaimana aku tidak kaget coba? Bayangkan, hanya bangku paling depan yang tersisa sedangkan bangku lainnya sudah diduduki oleh para siswa.

Dengan terpaksa aku memilih antara ketiga pasang bangku yang ada di hadapanku. Samping kanan-kiri dan tengah. Yah apa boleh buat aku pun memilih bangku samping kanan yang terdapat jendela yang mengarah pada lapangan futsal dan basket. Dia pun mengikuti langkah ku dan duduk di sebelah bangku ku.

"Lo kenapa? Bukannya bagus ya kalo kita duduk di depan" yah lagi-lagi 'dia', anak yang mengajakku berkenalan beberapa saat yang lalu.

"Apaan sih lo, apanya yang bagus coba? Kita duduk di depan, diperhatiin sama guru. Gak bisa nyontek kalo ulangan, terus gak bisa ngobrol lagi! Ughhh, nyebelin banget kan?" nadaku penuh penekanan, yang seolah meminta sedikit persetujuan darinya.

"Gak juga sih sebenernya, itu sih cuma alasan buat anak-anak yang kurang pinter aja, kalo gua sih fine-fine aja duduk di depan" ia sungguh membuat ku mengernyitkan dahi.

"Terserah lo ajalah tapi gue akan usahain buat pindah dari bangku ini" aku pun membalasnya dengan nada pertidaksetujuan atas jawabannya tadi.

Tettttt! tetttt!

Suara bel masuk mengejutkanku. Beberapa siswa masuk dengan terburu-buru. Tak lama setelahnya, ada seseorang yang mengetuk pintu kelas dan memasuki ruang kelas ini. Seorang wanita paruh baya dengan memakai baju dinas masuk dan langsung duduk di bangku terdepan kelas ini.

"Selamat pagi anak-anak, selamat datang di sekolah ini. Dan selamat menempuh pelajaran selama 3 tahun ke depan" wanita itu memulai kelasnya hari ini dengan sapaan yang menurutku lebih kepada peringatan.
Ia menyambung lagi,

I Can't Believe YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang