Aku menjadi tak konsentrasi saat memikirkannya. Kejadian kemarin, di saat aku mengatakan hal yang benar-benar tidak aku sadari. Namun sayangnya, aku tak dapat menahannya lebih lama lagi.
Yah, coba deh bayangin? Elo suka sama orang yang notabenenya temen lo. Gimana rasanya? Sakit kah? Atau justru biasa aja?
Orang-orang bilang 'gue gak mau ngubah status kita lebih dari temen', dan alasan pasti dari semua itu adalah karena gue gak mau nanti kalo kita putus, hubungan pertemanan kita akan ancur.
Simple banget kan? Jujur aku gak setuju sama semua itu. Karena apa? Karena menurutku, itu sama saja kita membohongi perasaan kita sendiri. Yah bayangin lagi lah. Sama-sama cinta, sayang, suka, atau apalah itu, pokoknya yang menggambarkan hal lebih dari pertemanan. Tapi gak bisa ngapa-ngapain kalo orang itu deket sama orang lain.
Kan sakittt? Ya nggak, hts (hubungan tanpa status) itu lebih menyakitkan dari pada friendzone. Kalo friendzone, kita cuman nyakitin perasaan sendiri karena ulah bodoh kita, tanpa ada perasaan memiliki. Karena, cuma kita yang punya perasaan itu. Tapi kalo hts, udah deh gak kebayang, serasa digantung terus kaya jemuran.
Mau cemburu gak bisa, mau marah gak bisa, mau nuntut penjelasan gak berhak, terus ujung-ujungnya cuma bisa nangis bombay deh.
Mirip sih sama friendzone, tapi yah, dimana-mana orang yang saling suka kan maunya lebih dari teman.
Tapi yaudahlah, ngapain juga aku bahas itu. Sekarang yang lebih penting adalah, 'Masa aku harus ngorbanin pertemanan aku cuma gara-gara perasaan bodoh ini?'
Seharusnya aku gak boleh egois kan? Toh, dia-nya juga gak tau sama perasaan aku. Aduh Nes, lo childish banget sih. Yah, jangan salahin aku lah, salahin aja nih hati, yang gak bisa diajak kompromi.
"Elo sih Nes, pake baperan segala."
"Gaje' pula, mana dia tau kalo lo suka sama dia?"
"Ngapain juga marah? Udah tau cuman temen doang."
Yah, kira-kira itulah yang disampaikan oleh otakku.
"Heh? Lu pikir gampang apa nyembunyiin perasaan terus-menerus?"
"Lu pikir gua robot yang gak punya hati gitu?"
"Gue tuh cape loh, harus waiting terus biar dia peka!"
"Dipikir gak sakit apa?"
Dan itulah jawaban berdasarkan hatiku, dan pada dasarnya cewek. Otak selalu kalah dibanding hati. Karena cewek akan selalu lebih ngegunain hati dari pada otak.
Aku masih melamun dengan perang batin yang berkecamuk di benakku, sampai sebuah suara membangunkanku dari lamunanku.
"Woy Nes, Nat!" ucap Andien yang baru saja datang menghampiri kelasku.
"Heyy Din!" Ucap aku dan Nata berbarengan.
"Nes, lo gapapa kan?" Ucap Andien begitu lembut. Aku mengerti kemana arah pembicaraan ini.
"Iya, tenang aja. Gua gapapa kok" ucapku menenangkan.
"Ahh syukurlah, sumpah gue takut banget pas denger kemaren lo ribut sama David." Yah Andien kemarin sakit, jadi ia tidak mengetahui keributan besar yang terjadi di sekolah.
"Santai ae lah" ucapku tenang. Lagi pula, bukankah bagus kalau aku ribut dengan David. Jadi, rencana move on ku akan berjalan lancar.
"Tapi benerankan lo gapapa?" Kali ini Nata ikut menyaut.
"Gapapa lohh sayang, udah ah jan bahas itu lagi" ujarku tak ingin membahas ini lebih lanjut.
"Oh ya, gue sampe lupa. Nihh!" Andien menyerahkan 2 kartu berwarna silver untukku dan Nata.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Can't Believe You
Teen FictionDavid yang menyukai Agnes sebagai teman. Agnes yang menyukai David lebih dari teman. Kisah mereka sederhana, hanya tentang pertemanan laki-laki dan perempuan yang diikuti dengan perasaan sayang dari salah satu pihak. Sedangkan pihak yang lainnya? E...
