David POV
3 Bulan yang lalu....
Sepulang dari mengantarkan Agnes, aku pun langsung melajukan motorku ke rumah. Suasana sepi kembali melandaku, jika orang berpikir rumahku istanaku, tapi tidak denganku. Rumah bagiku, adalah pemberhentian terakhir ketika tidak ada tempat lain lagi bagiku.
Suasana seperti ini sudah aku dapatkan sejak kecil. Di saat orang-orang memiliki masa kecil bahagia, mendapat perhatian lebih dari kedua orang tua. Tapi sayang, itu tidak berlaku bagiku. Karena bagiku setiap masa dalam hidupku 'sama'. Mengapa aku beranggapan begitu? Karena setiap saat bahkan sejak aku dilahirkan, seolah tidak ada yang pernah mengharapkanku hadir di dunia ini.
Sejak kecil, kasih sayang Mama dan Papa selalu diberikan kepada Ali. Kenapa? Apa karena Ali lebih tua dibandingkan aku? Atau karena ia terlalu sempurna dibandingkan denganku? Kenapa? Kenapa Mereka memperlakukanku seperti itu? Bukankah aku juga anak Mereka? Lalu kenapa mereka hanya memberikan kasih sayang mereka untuk Ali? Apa mereka berpikir aku tidak membutuhkan kasih sayang mereka?
Sejak kecil, Mama dan Papa selalu sibuk mengurusi perusahaan dan pekerjaan yang mereka kelola. Tapi setiap mereka pulang, Mereka selalu ingat. Ada Ali yang butuh mereka perhatikan. Karena itu, setiap mereka pulang, mereka pasti bersenang-senang bersama. Saat itu Mama pasti akan langsung membuatkan masakan kesukaan Ali, membelikan semua keinginan Ali, dan masih banyak lagi kasih sayang yang Mereka berikan pada Ali, Bukan padaku.
Aku bahkan pernah merasa bahwa aku bukan anak Mereka. Aku bukan kembaran Ali. Aku bukan bagian dari keluarga ini. Dan pada akhirnya, aku tau Kenyataan yang sesungguhnya. Sehingga membuatku memutuskan untuk mengganti nama panggilanku, Ale nama panggilan yang mereka berikan padaku sudah berganti atas keinginanku menjadi David. Jujur aku lebih menyukai nama David, karena dengan nama itu, aku tidak lagi merasakan menjadi anak Mereka dan menjadi kembaran Ali.
Tapi tidak sekarang, dengan berjalannya waktu aku tahu bahwa di dunia ini ada satu orang yang mengharapkanku. Satu orang yang ada bersamaku setiap saat. Seseorang yang berjanji untuk menjadi teman satu-satunya dalam hidupku.
Satu orang, dan orang itu kamu Agnes Amanda Baskoro. Teman yang selalu bersamaku, walau aku baru mengenalnya tapi aku merasa nyaman. Jujur aku sangat nyaman. Entah kenapa, aku nyaman sekali berada di sisinya. Ia membuatku kembali ke jati diriku, ia membuatku tersenyum, tertawa, dan hal yang jarang aku dapatkan dari orang lain. Ia membuatku merasa diinginkan di dunia ini.
Meski memiliki banyak orang di sisiku, aku tetap merasakan hal yang sama. 'Kesepian' meski aku telah melampiaskan rasa sepiku dengan berubah dan memiliki banyak kekasih. Tapi tetap tak dapat kupungkiri bahwa aku kesepian.
Aku berharap, dan akan selalu berharap seperti ini. Ada, walau hanya satu orang di sampingku. Agar aku tidak kesepian.
●●●
Entah kenapa? Aku merasa saat ini Agnes menjauhiku. Saat mengajak bicara dengannya tadi, ia seolah tuli dan membisu. Saat mengajak pergi ke kantin ia justru menghindar dengan pergi bersama sahabatnya Nata.
"Argh ya Tuhan, kumohon jangan lagi, jangan mengambil satu-satunya teman di hidupku" batinku cemas tak karuan.
Aku pun memutuskan untuk ke ruang musik, entahlah, aku selalu nyaman di sana. Salah satu tempat kesukaanku, dimana terdapat satu hal yang membuatku tenang. Piano, aku suka bermain Piano.
Tidak seperti biasanya, Hari ini aku bermain sangat lembut dan menghayati lagu yang kumainkan. Aku membawakan partitur dari Chopin-Nocture 9 lagu kesukaanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Can't Believe You
Teen FictionDavid yang menyukai Agnes sebagai teman. Agnes yang menyukai David lebih dari teman. Kisah mereka sederhana, hanya tentang pertemanan laki-laki dan perempuan yang diikuti dengan perasaan sayang dari salah satu pihak. Sedangkan pihak yang lainnya? E...
