chapter 7

7K 457 2
                                        

Tatapanku terus mengitari ruangan yang dinominasi oleh warna abu-abu tua dan putih. Terlihat sexy dan mewah.

Pemilik ruangan ini, maksudku Nathan, dia lebih memilih memandang kertas-kertas sialan itu. Dan membiarkan aku seperti orang bodoh yang terperangkap di dunia tanpa suara.

Sudah 30 menit nenek meninggalkan aku diruangan ini. Katanya, beliau ada urusan mendadak. Aku tau hanya akal-akalan beliau saja. Sengaja meninggalkan aku berdua saja dengan Nathan. Tapi lihatlah, aku bahkan tak kasat mata dibuatnya.

Flashback

"Kau sudah makan ?" Tanya nenek setelah kami memasuki ruangan Nathan.

"Belum nek, masih banyak pekerjaan yang harus Nathan selesaikan" ucapnya.

"Ini sudah jam berapa, sudah lewat jam makan siang dan kau belum makan?" Ucap nenek sambil melirikku.

"Kau kan sudah punya istri, suruh saja dia mengantarkan makan siang buatmu. Iya kan Riana?" Sekarang apa lagi nek? Ku mohon jangan berkata yang tidak-tidak.

"Aku tidak ingin merepotkannya nek" ucap Nathan.

"Merepotkan apanya? Dia itu bosan berada dirumah terus. Makanya kau harus memberinya sedikit kesibukan dengan mengantarkan makan siang buatmu. Ini makanlah kuenya, tadi Riana yang beli. Lumayan untuk mengganjal perut, nanti kalian pergilah makan di luar. Sudah, nenek pulang dulu. Ada urusan mendadak" pamitnya tiba-tiba dan menatapku seolah mengatakan 'semoga berhasil'. Apanya yang semoga berhasil, pikirku.

Flashback off

Majalah ini tidak memberikan efek apapun untuk menghilang bosan, malah semakin menjadi.
Lebih parahnya, mataku kini memberat. Ku sandarkan kepalaku disandaran sofa. Beristirahat sebentar tak apakan. Lagian pria itu juga mengacuhkanku.

***

Punggungku rasanya nyaman sekali, seperti tidur di atas kasur yang empuk dan lembut. Kurapatkan guling yang peluk ini. haaah, hangatnya. Tapi, kenapa gulingnya lebih besar dari tubuhku? Tunggu...
Kasur?
Guling?
Bukannya tadi aku tidur disofa?

Mataku terbuka seketika. Dan kulihat aku berada diruangan yang berbeda dari ruangan Nathan. Aku dimana?

Perlahan kulirik lengan yang memeluk pinggangku. Tatapanku naik ke wajah yang berada diatas kepalaku sekarang. Ya Tuhan, Nathan!

Jadi yang ku kira guling itu, Nathan? Dan, lihatlah posisi kami. Sudah seperti gurita yang saling membelit. Lengannya melingkar erat dipinggangku dan kepalaku berada di cerukan lehernya.

Kilirik jam yang tergantung diruangan ini. Jam 7? Oh Tuhan, berarti aku sudah tertidur 3 jam. Tapi sejak kapan Nathan memindahkan aku kesini ? Dan ini ruangan apa? Kenapa bisa ada tempat tidur?

Lamunanku buyar karena pelukan dipinggangku semakin kuat. Mungkin Nathan mengiraku guling, sepertiku tadi.
Seperti kebiasaanku, ku tatap wajah yang sedang terlelap itu. Wajahnya menyiratkan bahwa dia lelah. Selalu saja begitu.

Dia tak pernah mau membagi bebannya padaku. Walaupun hubungan kami tidak seperti pasangan suami istri lainnya, paling tidak dia bisa menganggapku temannya kan?.

Krrrrkk

Aku lapar.

Tapi Nathan masih tidur, aku tak enak membangunkannya.
Jam terus berputar dan perutku terus memberontak. Ah biarlah dia marah. Mau sampai kapan kami tidur disini. Bisa-bisa sampai besok pagi.

"Nathan" ucapku sepelan mungkin takut mengejutkannya.

"Nat, Nathan" ulangku.

Bukannya membuka mata, dia malah mengeratkan pelukannya. Lama-lama aku bisa kehabisan nafas dibuatnya.

"Nathan" ulangku sambil menggoyangkan badannya. Dan berhasil. Pelukannya perlahan mengendur, dan mata itu terbuka.

Dia seperti anak kecil jika bangun tidur.

"Emh, sudah jam berapa?" Tanyanya

"Jam 7" jawabku.

Dia hanya bergumam dan kemudian bangkit dari tempat tidur. Aku pun hanya mengikutinya.

Krrrkkkk

Ah perutku. Dasar tidak tau situasi.

Dan sepertinya Nathan juga mendengarnya. Memalukan!

"Kau lapar?" Tanyanya

Aku hanya menjawab dengan anggukan.

"Kita cari restoran didekat sini saja. Tapi, bersihkan dulu ilermu" ucapnya sukses membuatku mematung.

iler??
ILER??
Aaaakkhhhh!!!

Memalukan, memalukan, memalukan!!!

***

Selama perjalanan aku tak sanggup mengeluarkan suara bahkan memandangnya saja berat. Aku sudah tidak punya muka sekarang.

Dia mendengar suara perutku dan melihat ilerku juga. Ada hal yang lebih memalukan dari itu??

Tak lama kami sampai di sebuah restoran bergaya Italy. Restoran ini terlihat sangat mewah. Tak banyak pelanggan yang datang. Tapi ada beberapa pasangan yang mengisi restoran ini.

Restoran yang sengaja dibuat dengan lampu redup temaram. Terkesan romantis. Aku seperti diajak untuk Candle Light Dinner.

Nathan memilih meja yang letaknya sedikit tersudut dan lebih privacy.
Kami masih tak mengucapkan apapun, kulihat Nathan sedang memainkan hanphonenya.

Kami tak mungkin seperti ini terus. Seperti dua orang yang tak mengenal. Seharusnya kami berbincang layaknya pasangan lainkan?

Aku harus memulainya.

"Nathan" panggilku dan aku berhasil membuatnya mengalihkan pandangan dari handphone sialan itu.

"Iya?"

"Emh, soal tadi. Maaf aku dan nenek datang tiba-tiba dan mengganggu pekerjaanmu"

"Tak apa, tapi lain kali jika ingin datang beritahu aku dulu" ucapnya yang sekarang sudah sepenuhnya memandangku.

"Apa aku... aku boleh mengantarkan makan siang ke kantormu?" Tanyaku, sebenarnya aku takut menanyakannya. Tapi jika tidak, aku akan menyesal.

"Boleh saja, asal tidak membuatmu repot"

"Tidak, aku tidak repot kok. Aku bosan jika dirumah terus, setidaknya dengan mengantarkan makan siang untukmu bisa mengurangi bosanku. Jadi, aku boleh mengantarnya besok?" Tanyaku lagi.

"Iya, boleh"

Aku harus mengingat hari ini. Hal mengejutkan baru saja terjadi. Aku diperbolehkan lebih dekat dengannya. Ya Tuhan, senangnya.
Semoga menjadi hal yang baik buat pernikahan kami.




Thank you for reading.
Love you, para penghayal
Jangan lupa vote ya :)

RianaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang