Hari ini aku berniat membuat makanan spesial untuk Nathan. tak terasa sudah hampir 3 bulan aku mengantarkan makan siang untuknya. Tak ada yang terlalu berubah dari hubungan kami. Hanya saja sekarang dia sudah lebih sering menatapku.
Semuanya sudah kupersiapkan, kotak makan siang yang kubungkus rapi dan tak lupa dengan kado yang sudah kubeli kemarin. Ya, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama.
Aku tak tau, Nathan ingat atau tidak. Tapi seingatku, tadi pagi dia tidak mengucapkan hal istimewa padaku. Jadi, bisa disimpulkan. Dia tidak ingat.
Bagiku tak masalah dia ingat atau tidak. mungkin dia terlalu sibuk dengan pekerjaanya atau memang dia sengaja tak ingin mengingatnya.
Memikirkan itu membuat hatiku meringis. Mengingat kembali perjalanan pernikahan kami yang hanya diisi dengan keheningan. Terkadang, ada rasa untuk menyerah, dan berhenti saja. Tapi, itu bukan jalan keluar yang baik. Kalau dia tidak bisa membuat pernikahan ini menjadi sedikit lebih manis, biarlah aku yang akan membuat pernikahan ini berharga dan layak untuk dipertahankan.
Aku tak akan membuat pernikahan yang sakral ini rusak karna tak bagusnya komunikasi kami. Dan aku siap untuk memperbaiki itu.
Sampai kapanpun aku tak akan membiarkan pernikahan ini berantakan, Nathan. Kecuali jika kau yang menginginkannya.
***
Aku sengaja tidak meberitahu Nathan jika aku akan datang lebih cepat dari biasanya. Biar ada sedikit kejutan, pikirku.
Diperjalanan aku terus menyungginggakan senyuman, rasanya masih tak percaya aku sudah menikah selama setahun dengan Nathan.
Kumohon Tuhan, di hari ulang tahun pernikahan kami ini, semoga kami bisa melewati apapun cobaan-Mu. Kuatkan kami untuk mempertahankan pernikahan ini sampai Kau yang memisahkan kami. Doaku.
Aku turun dari taxi yang membawaku selama 20 menit. kulihat jam masih menunjukkan pukul 11. Masih ada satu jam lagi untuk makan siang. Kulangkahkan kakiku dengan mantap menuju lift.
Senyuman masih setia dibibirku, bahkan sekarang sudah menjadi senyuman tiga jari.
Sebeginikah rasanya bahagia. Aku seperti merasakan kupu-kupu terus berterbangan diperutku.
Ting.
Pintu lift terbuka, dan kembali ku langkahkan kakiku. Seperti biasa, aku menghampiri meja siska menanyakan Nathan ada atau tidak. Tapi, kenapa mejanya kosong?
Dia kemana pada jam kerja ?
Ah mungkin dia sedang ke kamar mandi.
Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke arah pintu dan perlahan membukanya.
aku melihatnya.
Aku melihatnya bersama...
Sepertinya, aku datang diwaktu yang salah.
Atau, lebih baik aku memang tidak usah datang.
Tadi aku yang berencana membuat sedikit kejutan buatnya, tapi ternyata dia sudah memberikan kejutannya duluan padaku.
Pantas saja, Nathan slalu mengatakan beritahu dia dulu jika ingin ke kantornya.
Ternyata seperti itu.
Ternyata, itu yang dia lakukan selagi aku belum datang.
Aku tau sekarang, ternyata ini maumu.
Olalaaaah.
Hayo Nathan sama siapa ?
Terus baca ya
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Riana
Любовные романыSenyum itu yang membuatku terikat, sampai pada akhirnya aku terjebak dalam ikatan itu. Tapi, sampai kapan aku bisa bertahan? Riana Wulandari Bukan aku yang menyuruhmu untuk mendekat, jadi jangan salahkan aku bila kau sampai terluka Nathan Alvedro ...
