Aku terdiam, menatap kedua matanya dengan tanda tanya besar. Aku berharap apa yang dia katakan bukanlah suatu lelucon. Deruan nafasnya terasa hangat saat ia mencoba untuk mendekat, lalu memeluk tubuhku. Lengan besarnya melingkar. Dapat ku rasakan ia mengusap punggungku sebentar, menimbulkan rasa nyaman.
Rintik hujan pada akhirnya membuat kami melepaskan satu sama lain. Kami mencari tempat untuk berteduh. Sayang sekali, padahal aku masih ingin memeluknya.
Aku melipat kedua tangan di depan dada saat merasakan angin yang berhembus menusuk kulit. Pada waktu yang sama, aku menyadari seseorang tengah menyelimutiku dengan mantel tebal. Tanpa menoleh sedikit pun, aku sudah tahu siapa yang melakukannya.
Beberapa menit telah berlalu, namun tidak ada satu pun dari kami yang berbicara. Hujan masih turun, membuat kami kesulitan bergerak, lantaran ruang yang menjadi pelindung untuk kami tidaklah luas. Seperti tahu apa yang aku pikirkan, Mr. Styles langsung mendekapku. Aroma mint dari tubuhnya semakin menyeruak.
"Apakah ini lebih baik?" Ia bertanya, suaranya terdengar serak.
Aku hanya mengangguk pelan di dalam dekapannya. Bisakah waktu berhenti untuk beberapa saat agar aku dapat terus merasakan dekapannya?
"Kau bisa memiliki mantel milikku jika kau mau." Ucapnya.
"Kau tidak keberatan?"
Dia menggeleng pelan, "tentu tidak."
Aku tersenyum, kemudian menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. Beberapa menit kemudian, hujan telah berhenti. Kami memutuskan untuk pergi ke kedai kopi. Jalanan yang basah akibat hujan membuat boots milikku terasa licin, sehingga beberapa kali aku hampir tergelincir, namun beruntung Mr. Styles selalu siap untuk membantuku.
Setibanya di kedai, kami langsung menempati sebuah kursi. Masing-masing dari kami memesan kopi hangat dengan rasa yang berbeda.
"Tentang ucapanku tadi, apa kau merasakan hal yang sama?" Ia buka bicara, saat aku sedang sibuk mengamati daftar menu yang ada.
Aku sempat terdiam cukup lama, berusaha meyakinkan diriku jika aku memang mencintainya. "Kau ingat dengan jawabanku? Tidak ada hal yang perlu aku sesali selama aku menyukai hal tersebut. Jadi, jawabannya adalah ya, aku mencintaimu, Mr. Styles."
.....
Hari berikutnya aku kembali melakukan aktivitas seperti biasa, mengikuti kelas dan berkumpul bersama dengan teman-temanku di kafeteria, membicarakan berbagai macam masalah, mulai dari kasus salah seorang mahasiswa yang dikabarkan masuk penjara hingga Mr. Styles.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini aku lebih banyak diam. Aku hanya mengamati ke-empat temanku sambil sesekali meneguk jus lemon yang ku pesan tadi.
Saat sedang terdiam, aku merasakan adanya getaran dari saku celanaku. Aku merogoh ke dalam untuk mengambil ponselku. Ada satu pesan masuk dari Luke.
'Bisa kau temui aku di koridor belakang? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.'
Setelah membaca pesan tersebut, aku langsung menyambar tas beserta mantel milik Mr. Styles. Sejak saat itu aku tidak bisa melepaskan mantel ini dari genggamanku. Mungkin karena aroma yang ditimbulkan sama dengan aroma Mr. Styles.
Tes sempat berteriak memanggilku lantaran aku pergi tanpa mengatakan apa-apa pada mereka, namun aku tidak menjawab dan segera berlari hingga mencapai koridor paling akhir.
Sepi, tidak ada satu pun orang di tempat ini. Apakah Luke sedang bermain-main denganku tadi? Memutar tubuh, aku berniat untuk pergi, namun seseorang secara tiba-tiba menghalauku. Dia Luke, dengan membawa sebuah bungkusan besar di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Scandal [h.s]
FanfictionA story between student, teacher and their scandal. Cover by : @mariestylesx
![The Scandal [h.s]](https://img.wattpad.com/cover/54688982-64-k904039.jpg)