1
"Ughuk. .ughukk. . uwoo. . ."
Aku merasa kalau tubuhku melayang, dan begitu aku membuka mata tubuhku memang baru saja berhenti melayang. Di atas air, alias mengapung. Dan sekarang aku terseret ombak ke pantai yang sepi meski sebagian besar tubuhku masih berada di dalam air.
Aku melihat ada bangunan di kejauhan di antara pepohonan, tapi aku tidak melihat ada orang. Atau lebih tepatnya penglihatanku sudah sangat kabur bahkan sampai pada level di mana tangan yang ada di depanku saja hanya kelihatan seperti bayangan di balik cermin berkabut.
"Aku selamat?."
Kemungkinan selamat dari berondongan senjata raksasa dari doll-doll raksasa itu adalah hampir sama dengan nol. Kekuatan yang bisa digunakan untuk meratakan tanah, menembus pertahanan kapal perang, dan menghancurkan gedung tentu saja lebih dari cukup meremukan tubuh seorang manusia kecil sepertiku.
Tapi aku selamat.
"Maya! lokasi. . "
Ah . . . tentu saja ada alasan kenapa aku bisa selamat setelah diserang dengan senjata super kuat dan ditenggelamkan entah berapa kilo ke dalam laut lalu didorong entah berapa kilo lagi ke arah yang sama.
"Selalu saja begini pada akhirnya. . ."
Aku merasakan ada berat yang lebih pada tangan kananku.
"Tapi kali ini, meski tidak sadarpun aku tidak melepaskanmu."
Aku memegang erat telapak tangan Maya yang tubuhnya benar-benar berada di berada di bawah air karena pelampungnya yang sudah tinggal sisa-sisanya saja disebabkan pertempuran kami. Aku segera mengangkat tubuhny dan menarik tubuh kami berdua mendekati tepi pantai
Sebab Maya dan ponselku tidak berfungsi aku tidak tahu sekarang kami ada di mana, tapi aku tidak punya pilihan selain membawa tubuh kami berdua untuk keluar dari air.
Di saat-saat terakhir dia mungkin memaksakan diri untuk menggunakan sisa energinya untuk membuat perlindungan untuk kami. Dan begitu level energinya sudah berada di bawah batas toleransi, sama seperti kejadian sebelumnya sistemnya akan secara paksa melakukan shutdown untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
"Ugh. . .?."
Suara tidak mau keluar dari mulutku.
Badanku sakit, tenagaku sudah semakin hilang, lalu tangan dan kakiku sudah sangat lemas sampai rasanya keduanya sudah seperti mau lepas begitu saja. Tapi meski begitu aku tidak bisa berhenti bergerak. Jika aku berhenti bergerak dan kehilangan kesadaran lagi, siapa yang akan merecharge Maya?.
Sial. .
"Khk. . ."
Saat bertempur kami sudah bergerak cukup jauh dari titik awal jatuh kami. Setelah itu kami juga dilempar ke laut dengan tembakan railgun. Aku tidak bisa melihat siluet dari doll-doll itu, jadi mungkin kami sudah bergerak sejauh sepuluh atau lima belas kilo dari mereka.
"Huuhh. . . .Hhuuuhhh. . ."
Giliran nafasku yang mulai tidak teratur. Kalau ini terus berlanjut. . . aku . .
"Kak Ricky. . "
Suara ini. Aku mencoba mengangkat kepalaku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Dan yang bisa kulihat dengan mata kaburku hanyalah sepasang kaki kecil yang berada di depanku.
"Luna . . . ."
Aku tidak perlu melihat hanya untuk tahu kalau yang ada di depanku adalah Luna. Dan jika aku bisa bertemu dengannya, itu berarti kali ini aku tidak terdampar di pulau antah berantah. Sekarang harusnya aku berada di tanah Inggris.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOLL
Ficțiune științifico-fantasticăRicky Axioo memicu perang dunia ke tiga pecah, dan hal itu membuatnya jadi target untuk dibunuh. Untuk melindunginya, sebuah DOLL (Digital prOgrammed Long Lasting android) bernama Maya dikirimkan untuk melindunginya.
