Super Dav dan Nona Es

10.4K 1.8K 221
                                        

Keesokan harinya saat jam istirahat. Di gudang yang menjadi markas, Brianda dan yang lainnya masih menanti si ratu es yang tengah menghadap wali kelasn. Awalnya Brianda masih bisa sabar —entah sambil ngebanyol, gosipin kaum borju, atau ngomongin para guru—tapi lama-lama ia kesal juga sebab makhluk dingin yang satu ini belum muncul padahal jam istirahat berakhir tujuh menit lagi.

Elektrika! Lo di mance? Brianda mengirim pesan pada Ail. Keburu shubuh, woyyyy!

Dua menit berikutnya tak ada jawaban. Ail bahkan belum membaca pesan tersebut.

"Mungkin hal serius makanya lama banget," Davan berujar santai. "Ya udah, kita rapat bertiga aja."

Andro dan Brianda setuju. Mereka lekas duduk lebih rapi.

"Serangan berikutnya harus dilaksanain paling lambat minggu ini," ujar Davan diikuti anggukan Brianda dan Andro. "Menurut kalian, si Zian harus diapain lagi?"

"Masih sama, Dav. Kita goyahin hatinya dulu," Andro berusul. "Bikin dia malu semalu-malunya. Kalau perlu, congkel hal tabu yang dia alamin."

"Bener kata Andro." Brianda menjentikkan jari. "Congkel hal tabu dari si kupret. Gue tahu banget apa hal tabunya."

Sebelum Brianda menambahkan, pintu ruangan mendadak terbuka. Tentu saja ketiganya kaget. Pasalnya, yang masuk ke ruang rahasia ini hanya Underground Rascal. Dan mereka berempat wajib memberi ketukan khas kalau mau masuk.

"Duileh, Non! Lo macam ayam aja," Andro sewot setelah rasa kagetnya lenyap lantaran yang masuk ternyata Ail.

"Diapain sama wali kelas?" Davan bertanya setelah Ail duduk di sebelah Andro.

"Ngomongin nilai," jawab Ail seperti biasa. Pendek namun jelas.

"Kenapa nilai lo? Turun?"

"Mau ngomongin nilai atau ngelanjutin rapat, nih?" Ail berujar ketus.

Andro melemparkan senyum ledekan untuk Brianda. Emang enak disentak ratu es?

"Bri, silakan dilanjut," kecap Davan. "Tadi kamu bilang tahu hal tabu dari Zian. Bisa dijelasin apa maksudnya?"

"Kalian pernah denger insiden Zian di PON, kan? Nah, kita jadiin masalah tersebut sebagai tombak pertama," katanya dilengkapi gestur penjelas. "Kalau kausalitasnya bisa kita dapetin, si Zian pasti KO. Gue jamin itu."

Davan dan Andro mengangguk.

"Ntar biar gue yang cari info lewat akademi karatenya," Brianda berusul. "Gimana? Kalian setuju?"

"Gue setuju," tukas Andro yang diiyakan oleh Davan.

Brianda menunggu jawaban Ail. Tapi rupanya pikiran gadis itu sedang berkelana. Lihat saja! Ia menatap tembok tanpa mengedip. Sorotannya datar, dipanggil pun tetap diam.

"AILA ELEKTRIKA RIVANI!" Andro menyahut tepat di kuping cewek itu. Sontak Ail kaget sehingga nyaris saja dirinya terjungkal. "Ngelamunin apa, sih?"

Ail diam saja. Ia mendengus kesal karena diteriaki begitu. Tak tahukah Andro kalau telinga manusia tidak boleh menerima audio terlalu tinggi? Kalau koklea rusak bisa parah, tahu! Dasar Andro begok!!!

"Wah-wah, kalau muka si Ail kayak gini, gue tahu alasannya. Pasti naskahnya ditolak lagi," Andro menebak. "Udahlah, Ail. Mungkin jadi penulis bukanlah takdir lo."

"Jangan sotoy!" ketus Ail.

"Ini fakta, bukan sotoy!" Andro ngeles. "Sekaranggini, otak lo kompeten dan nilai lo bagus. Tapi pas lo coba di bidang lain,hasilnya nol besar! Lo selalu gagal dalam hal menulis." Andro merasa benar. "Gagal,Ail. Selalu. Lo nggak ada bakat sama sekali untuk jadi penulis. Jadiberhentilah mimpi di siang bolong."    

Underground RascalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang