Langkah Andro mendadak terhenti ketika ia berpapasan dengan gadis itu. Sama dengan dirinya, cewek yang masih memakai seragam sekolah itu pun tampak begitu kaku. Hingga untuk beberapa sekon waktu berlalu, keduanya hanya bisa saling pandang.
"Eh, Andro?"
Meski nada suara dan tatapannya dingin, Andro merasa amat lega. Lantas tanpa memikirkan egonya lagi ia pun berkata, "Lo lagi cari Brianda juga, ya?"
"Hmmm."
"Gue udah cari dia ke beberapa tempat latihan taekwondo. Gue bahkan minta bantuan adik-adik gue buat nyari dia. Tapi hasilnya masih nihil."
Ail mengurai senyum sesaat. Barusan Andro bilang dirinya meminta bantuan adik-adiknya. Well, bagus juga idenya. Adiknya Andro kan banyak. Kalau tak salah ada tujuh. Yang satu masih merah banget soalnya baru lahir. Dari sisanya itu, lumayan bisa diandalkan.
"Omong-omong, kita minum dulu, yuk," Andro mengajak. Dibawanya si Nona Es itu menepi ke pinggir, dimintanya pada penjual minuman dua botol air mineral.
"Thanks," kecap Ail setelah Andro mengangsurkan minumannya.
"Lo udah cari ke mana aja?"
Ail tak langsung menjawab. Terlebih dahulu ia mengeksekusi air mineralnya. Setelah pelepas dahaga itu bersisa seperempat, barulah ia berkata, "Baru beberapa tempat."
Andro tahu, beberapa tempat yang disebut Ail pasti bukan sekadar beberapa. Bisa jadi cewek ini sudah mencari seputaran Jakarta. Bisa jadi pencariannya mulai ke luar kota. Bagaimanapun, Andro sangat paham tabiat sahabatnya ini. Ail sering merendah untuk meroket. Tipe-tipe talk less do more.
"By the way, lo nggak mau mita maaf sama gue?" cetus Andro.
Ail mengangsurkan tangan lalu mengecapkan maaf. Sebenarnya sudah lama Ail berdamai dengan waktu. Egonyalah yang maha kuat. Ia merasa tak enak saat harus menampakkan sikap tak peduli pada teman-temannya.
Jujur, ia sering kebat-kebit kalau bertemu mereka di jalan. Di satu sisi ia ingin menyapa —atau paling tidak, tersenyum sebagai tanda dirinya sudah tak marah—namun di sudut lain, niat itu selalu belok lantaran egonya terlalu mahal.
Ia tak mampu mengekspresikan diri di hadapan siapapun. Sama seperti Andro. Meski di luar terlihat tidak peduli, di dalam hati punya arti berbeda. Ketika Brianda diberitakan hilang, sejujurnya mereka amat khawatir. Di hari itu juga Ail dan Andro mencari si Tomboi dengan cara masing-masing.
Andro memakai jasa adik-adiknya yang masih kecil. Ia mengomando keenam bocah itu supaya menemukan Brianda. Entah itu di sekolah mereka, entah itu di tempat mereka biasa main. Sedangkan Andro sendiri, ia berusaha melalui jaringan teknologi. Seandainya ponsel Brianda menyala, sudah pasti Andro bisa menemukannya hari itu juga.
Beda Andro, beda pula Ail. Cewek yang irit ngomong itu menggunakan tenaganya sendiri untuk mencari Brianda. Ia nekat bolos belajar rutin, bahkan mangkir dari sambilan barunya sebagai kasir. Ah, seandainya Davan atau Naomi tahu kenapa Ail semakin sering tidur di kelas, kenapa jaketnya bau matahari, kenapa seragam sekolahnya cepat kotor, mungkin mereka akan sadar. Bahwa, Aila Elektrika Rivani tidak sejahat yang dikira.
"Abis ini kita mencar apa gimana?"
Sebelum Ail menjawab, getar panjang di saku Andro menginterupsi. Cepat-cepat cowok itu minta izin untuk mengangkat panggilan. Dan belum selangkah ia beranjak, denting satu kali muncul dari saku kemeja Ail. Ada pesan baru.
Brianda ada sanggar karate di jln wangi no 24
Ail tak sempat menjawab pesan tersebut sebab Andro sudah selesai menelpon. Ada yang aneh dari si kacamata ini. Mukanya amat begitu pias.
KAMU SEDANG MEMBACA
Underground Rascal
AksiIngin hukum musuhmu tapi tak punya kekuatan? Jangan risau! Segeralah : 1. Buka website kami. 2. Tulis apa saja ulahnya. 3. Transfer dananya. 4. Nikmati kehancuran dia! Tertanda. Underground Rascal.
