23

11.5K 467 1
                                        

"huuh huuh.. Tenang Jaaan! Tarik nafas, buang nafass tatik nafas, buang nafas" begitu yang selalu Jany lakukan saat ia merasakan hal aneh yang mulai memanas lagi didalam tubuhnya.

Mencoba menenangkan dirinya sendiri yang masih duduk seorang diri dimeja makan dan setepah merasa panas darahnya mulai menurun, Jany segera berdiri dan membereskan piring kotor dan dapur yang sempat ia kacaukan saat memasak tadi.

Beribu pikiran aneh berputar-putar diotak Jany sekarang. Tentang apa yang ia pikirkan selama ini tentang Apex, perasaannya yang salah hingga kelakuannya yang semakin tak bisa juga ia tahan saat didepan Alex.

Jany terus memikirkan itu tanpa menyadari bahwa ia sekarang sedang mencuci piring di wastafel. Alhasil......

"Aaaaaaa!" teriak Jany kaget saat mendengar suara kaca pecah dan ternyata suara itu berasal dari tumpukkan gelas yang tak sengaja disenggolnya dengan siku karena pikirannya yang entah dimana.

Alex yang berada diruang tengah pun segera berlari dengan cepat saat mendengar teriakan Jany dari arah dapur

"ada ap-- oh astagaa!" Alex melangkah mendekat dimana Jany berdiri dengan berhati-hati karena pecahan gelas yang sudah tergeletak dimana-mana.

"Gak apa-apa ka" ucap Jany yang masih berdiri didepan wastafel tapi tanpa bisa disembunyikan, Jany menahan badannya agar tidak terduduk dengan memegang ujung wastafel dengan erat dan kedua tangannya bergetar hebat akibat syok dengan pecahan gelas yang berserakan dimana-mana dan sesuatu yang dibawah sana menjadi korban akibat dari beling-beling itu.

"tetap diam disana. Jangan bergerak sedikitpun. kakak ambil sendal yang lebih tebal dulu. Bentar" Alex kembali mundur dari langkahnya tadi dan berlari dengan cepat keluar rumah mengambil sendal halaman yang lumayan tebal dari sendal dalam rumah yang tiap hari mereka pakai dan kembali berlari ke dapur.

Alex menunduk untuk mengganti sendalnya dengan sendal yang lebih tebal, tapi ia melihat suatu cairan yang mulai mengalir melalui pecahan - pecahan beling. Cairan yang berhasil menarik matanya dari kakinya dan mengikuti arah cairan itu berasal dan tepat berhenti di kaki kiri Jany.

Saat itu Juga Alex bergerak dengan cepat dan lincah tanpa memerdulikan pecahan yang masih berserakkan dimana-mana.

Alex yang sudah berada disamping Jany segera memutar balikkan badan Jany yang masih terus membelakanginya dan terus menghadap wastafel.

Diluar dugaan Alex, Jany sekarang bergetar hebat saat Alex melepaskan tangan Jany dari pegangannya di wastafel dan dengan cepat pula Alex memegang kedua bahu Jany dan menggendong Jany layaknya putri.

Alex terus berjalan mantap dengan menaiki tangga menuju kamar Jany dan mendudukkan Jany di ujung tempat tidurnya lalu Alex keluar mengambil kotak P3K yang berada dikamarnya.

Dengan cepatnya Alex turun lagi kebawah mengambil baskom kecil yang berisi air hangat dan handuk kecil lalu kembali lagi ke kamar Jany dan mengangkat kaki Jany yang terluka.

Mengobatinya dengan telaten dan tenang. Jany masih terus menunduk sedangkan Alex masih dengan kekesalan dan kekecewaan pada dirinya sendiri.

Baru tadi siang ia mengatakan tak akan membuat Jany terluka dan sakit lagi, tapi sekarang apa? Jany dengan terang-terangan didepan matanya terluka dan mengalami hal yang seperti tadi.

Ia kembali teringat beberapa saat kemarin saat Jany terluka. Jany juga terluka disebabkan hal yang sama yaitu karena pecahan beling dan semuanya karena nya. Kalau saja saat itu ia tidak membuat Jany emosi, pasti hal itu tidak akan terjadi dan sekarang pun begitu, seandainya saja ia tidak menyuruh Jany buat memasakkan ia makanan, Jany juga tidak akan mengalami hal serupa pula.

I LOVE YOU, BROTHER! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang