Kelas pagi sudah dibubar sejak setengah jam yang lalu. Namun sialnya, sampai saat ini Prilly masih berada dikampus karena sedari tadi Ia tidak menemukan ada taksi yang lewat dihadapannya. Terlebih lagi, hari ini Aulia juga izin pulang terlebih dahulu karena ada urusan. Ah, lengkap sudah penderitaan Gadis itu hari ini.
"Emang ya nyari taksi didunia nyata nggak segampang disinetron, disinetron mah dikit-dikit taksinya lewat. Pft." Ujar Prilly seraya mengerucutkan bibirnya kesal.
Sesekali Prilly meliukkan tubuhnya agar lebih condong kearah jalanan guna mengetahui ada tidaknya taksi yang akan lewat, namun hasilnya tetap saja nihil. Gadis itu mengulum bibirnya cemas seraya memandang arloji putih yang terlingkar indah dipergelangan kirinya. "Sabar, Pril. Sabar. Kali aja bentar lagi."
Tak berselang lama, pandangan Gadis itu yang semula hanya terfokus pada 2 hal, yaitu; jalanan dan arloji, tiba-tiba saja beralih pada sebuah Honda CB 250R yang saat ini berhenti tepat didepannya. Prilly memicingkan sebelah alisnya memandangi wajah pengendara motor itu yang tak terlalu nampak jelas karena tertutup helm. Tapi bila dilihat dari postur tubuhnya.. Prilly yakin, itu pasti cowok.
Belum sempat Prilly menanyai siapa pengendara itu, namun Ia telah lebih dulu membuka helmnya sehingga memperlihatkan wajah dan rambutnya yang terlihat acak-acakan. Meskipun begitu, tetap saja tidak mengurangi kadar kegantengannya.
"Naik." Perintahnya dengan nada bicara yang serius.
"No way ya, Li!" Balas Prilly to the point seraya menyilangkan kedua tangannya tepat dibawah dadanya.
"Ah yaudah, serah. Dasar, cewek keras kepala." Ali yang geram dengan tingkah Prilly memilih untuk segera menyalakan mesin motornya dan berlalu dari hadapan Gadis itu.
Tanpa Ali ketahui, Gadis itu melongo menatap kepergian Ali dengan tatapan tak percaya. "Dasar, cowok nggak punya perasaan. Gue ditinggal beneran, ish."
"Ayo balik sama Gue!"
Prilly yang hafal betul akan suara itu, langsung berbalik badan dan betapa terkejutnya Ia ketika mendapati Ali telah kembali berada dihadapannya. Melihat itu semua, Prilly hanya menatap bingung kearah Ali.
"Jangan pasang muka bego gitu ah, Pril! Cepetan Naik!" Ali kembali memerintah, namun kali ini jauh lebih tegas dan serius daripada sebelumnya.
"Engh.. Bentar, Lo kok balik lagi?"
"Gue nggak setega itu ya, ninggalin Lo sendirian disini. Luntang-lantung lagi, persis kaya gembel." Balas Ali singkat, dan sukses membuat Prilly terkesiap.
Namun, belum sempat Prilly menimpali kembali ucapan Ali, Pemuda itu kembali melanjutkan kalimatnya. "Naik aja apa susahnya, sih? Apa perlu Gue gendong dulu?"
Prilly yang sudah kelewat kesal pada Ali, akhirnya hanya pasrah dan menuruti permintaan Ali yang menyuruhnya untuk naik. "Bacot ah, Lo."
Setelah Gadis itu benar-benar telah duduk dengan sempurna, Ali kembali menjalankan motornya dengan kecepatan sewajarnya sambil diam-diam mengulum senyum manisnya tatkala Ia melihat ekspresi lucu wajah Prilly yang tercetak jelas dikaca spionnya.
*****
Ali menghentikan laju motornya, saat sudah sampai ditempat tujuannya. Setelah itu, cepat-cepat Ia mencabut kunci motornya, menyimpannya dalam saku, dan beranjak turun kemudian barulah diikuti oleh Prilly yang juga turun dari jok motor Honda CB 250R milik Ali.
"Lah kok nggak pulang sih, tau gitu Gue tadi nunggu taksi aja."
Melihat ekspresi kesal Prilly, Ali hanya meringis seraya berkata. "Ngapain Pulang jam segini, kaya anak TK aja, Lo."
"Udah nggak usah bawel deh, Lo. Ikut Gue sinih." Ujar Ali yang kini melangkah lebih dulu dari Prilly. Sehingga mau tidak mau, Prilly terpaksa mengikuti langkah Ali dari belakang.
Prilly yang merasa sudah tertinggal jauh dari Ali terpaksa mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu berteriak. "Ali! Lo jalan apa maratonan, sih? Cepet banget, tungguin!"
Teriakan Prilly yang kencang cukup terasa menggema di gendang telinga Ali dan membuat Pemuda itu sadar bahwa Prilly tertinggal jauh dibelakangnya. Maka dari itu, Ali segera berbalik dan berlari kecil kearah Prilly."Bawel banget sih Lo, Pril. Sini pegang tangan Gue, nih!" ujar Ali seraya mengulurkan tangannya pada Prilly.
"Nyebelin, Lo!" rutuk Prilly singkat sebelum pada akhirnya Ia menerima uluran tangan Ali.
Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, baik Prilly maupun Ali kini sama-sama berjalan menyusuri jalan setapak yang cukup jauh. Kemudian dilanjutkan dengan menanjak melewati batuan besar, hingga pada akhirnya keduanya telah sampai ditempat tujuan.
Prilly yang baru pertama melihat ini, terlihat begitu terpukau dengan keindahan panorama yang kini tersuguhkan disini. Bagi Prilly, tempat ini sempurna. Beralaskan rumput hijau yang merupakan bukit yang beratapkan langit biru. Terlebih lagi, dipadukan dengan sebuah danau alami yang terbentang luas dikaki bukit.
Prilly tersenyum, lalu merentangkan kedua tangannya dan memejam sejenak. Gadis itu turut merasakan bagaimana semilir angin perlahan menelusup ke celah celah kecil pori-porinya dan menerbangkan uraian rambutnya. Selepas itu, Ia menghela nafasnya dalam-dalam sebelum pada akhirnya Ia hembuskan secara perlahan.
Detik berikutnya,
Gadis itu kembali membuka matanya dan menatap sekeliling.
Tempat ini menenangkan.
Dan juga, menyenangkan.
"Lo nggak nyesel kan, Gue ajak kesini?" Tanya Ali dengan senyum mengembang yang membuatnya terlihat semakin menawan.
Reflek, Prilly segera menggeleng cepat sebagai jawaban atas pertanyaan Ali. Faktanya, Gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya Ia. Bila saja, tadi Ia benar-benar bersikekeuh untuk menolak ajakan Ali.
"Duduk sini deh, Pril." Ujar Ali yang kini menepuk sisi rerumputan disebelahnya.
Prilly mengangguk, sebelum pada akhirnya Ia menghampiri Ali dan duduk disamping Pemuda itu.
"Ini tempat favourite Gue. Tempat ini, selalu bisa nenangin Gue."
"Gue tau, beban hidup Lo terlampau berat. Dan Gue juga nggak bisa banyak ngebantu. Tapi Gue harap, tempat ini bisa." Lanjut Ali tanpa memandang kearah Prilly. Karena saat ini, Pemuda itu tengah sibuk memandangi langit biru diatas sana.
Prilly tersenyum sekilas kearah Ali, sebelum pada akhirnya Ia juga melemparkan pandangannya kearah langit biru diatas. Sama seperti apa yang Ali lakukan saat ini.
"Makasih udah ngenalin Gue tempat seindah ini, Li. Selama ini, Gue lebih banyak ngurung diri dikamar. Dan kalau semuanya udah terlalu berat untuk Gue hadepin sendirian, satu-satunya tempat yang akan Gue datengin cuman Aulia."
Ali diam, tidak menyela atau mencerca seperti biasanya. Tapi sebenarnya, Ali tetap setia mendengar setiap kata yang keluar dari bibir mungil Prilly dengan seksama.
"Aulia itu kaya rumah bagi jiwa rapuh Gue,Li. Karena buat Gue, rumah yang dulu pernah Gue kenal sebagai surga dunia, sekarang nggak lebih dari sekedar neraka terdasar --yang nggak akan pernah Gue sentuh."
"Dan Kenapa dulu Gue mati-matian ngebela Aulia biar Dia nggak dihukum waktu OSPEK ya.. karena itu semua. Gue terlalu sayang Dia, Li. Karena cuma Dia yang Gue punya setelah Mama." rentetan kalimat itu lolos dari bibir mungil Prilly. Dan semakin lama, semakin terdengar bergetar. Hingga tepat saat kalimat itu berhasil Ia selesaikan, Prilly tertunduk dan mulai terisak.
Ali menoleh kearah Prilly yang kini tertunduk disampingnya dengan buliran bening yang sudah mengalir deras membasahi pipi chubby milik Gadis itu. Tanpa banyak kata, Ali segera merengkuh tubuh mungil Prilly dan membawa Gadis itu kedalam dekapannya. Sambil sesekali, Ali mengelus lembut rambut belakang milik Prilly agar Gadis itu sedikit merasa lebih tenang.
"Lo boleh nangis, Pril. Bahkan, nangis sepuas yang Lo mau."
"Tapi Lo harus tahu, kalau mulai saat ini, Gue juga bakal selalu ada buat Lo."
Sesaat setelah kalimat-kalimat itu berhasil Ali bisikkan pada Prilly, Pemuda itu lantas mengecup puncak kepala Prilly dalam kurun waktu yang cukup lama. Dengan cara itu, biasanya Ali selalu mampu menenangkan Kiara. Dan saat ini, Ali harap semoga cara itu juga mampu bekerja pada diri Prilly.
KAMU SEDANG MEMBACA
PERFECT SCANDAL
FanfictionHidup dalam keluarga yang jauh dari kata harmonis, membuat Prilly Axelia enggan untuk jatuh cinta pada siapapun untuk alasan apapun. Bahkan, Ia juga tidak percaya akan adanya cinta. Sampai pada suatu saat, takdir menyadarkannya akan cinta melalui A...
