[29] Life must go on.

7.3K 573 70
                                        

Tiga hari ini, Prilly lebih banyak menghabiskan waktunya didalam kamar. Mengurung diri, juga menonaktifkan ponselnya. Ia hanya sempat mengirimkan pesan singkat kepada ibunya bahwa Ia sedang sibuk sehingga untuk beberapa hari kedepan mungkin akan sedikit susah untuk dihubungi. Semoga saja, ibunya mengerti.

Tidak banyak yang Gadis itu lakukan, selain duduk melamun diatas tempat tidur. Menatap kosong kedepan dengan pikirannya yang sibuk berkelana.

Ketika Ia mendengar deritan suara pintu dibuka, Prilly menengok kearah sumber suara dan menemukan Kinan sedang tersenyum hangat kearahnya. Prilly tersenyum balik, kemudian menggeser duduknya untuk memberi ruang bagi Kinan duduk.

"Gimana kondisi kamu, Dek? Udah baikan?" Tanya Kinan lembut, memancarkan sikap kedewasaannya yang begitu kentara sekarang. Berbeda dengan yang biasanya kerap kali Ia tonjolkan didepan Keano.

"Lumayan, Kak. Udah ngerasa lebih tenang dibanding kemarin-kemarin. Makasih ya, Kak." ujar Prilly dengan senyum khasnya.

Sejak Prilly tinggal di rumah Keano, hampir setiap malamnya Prilly masih dihantui oleh bayang-bayang insiden malam itu yang kerap kali membuat Prilly menangis tengah malam.

Keano memang menenangkannya. Namun yang benar-benar menemani Prilly dalam tidur lelapnya itu adalah Kinan. Prilly bersyukur mengenal Kinan yang begitu baik, tidak jauh berbeda dengan Keano. Begitupula Kinan, gadis yang mendambakan seorang adik perempuan itu begitu senang akan kehadiran Prilly dan menyayanginya dengan tulus.

"Sama-sama, Adek. Ngeliat kamu udah bisa senyum manis kaya tadi aja, bikin Kakak seneng. Apalagi Keano."

"Dia ngerasa bersalah aja, kenapa malam itu Dia nggak berhasil bujuk kamu buat tinggal disini aja buat semalam. Buat nenangin diri kamu yang waktu itu kacau karena Ali nembak Kiara."

Perkataan Kinan membuat Prilly terhenyak. Selama perjalanan menuju appartment Ali, Keano telah berusaha membujuk Prilly berulang kali untuk tidak usah bermalam di appartement Ali untuk malam itu. Ia memberi beberapa alternatif lain untuk Prilly bermalam, seperti dirumah Aulia. Bahkan hingga dirumahnya. Tidak tanggung-tanggung, lelaki itu juga sampai mengirimkan pesan singkat pada Ali yang mengabarkan bahwa untuk malam itu, Prilly akan tinggal bersama nya dan Kinan. Hanya saja, Prilly tidak mengindahkannya dan tetap bersikeras untuk kembali ke appartement Ali.

"Dia berharap banget, Kamu bisa kembali kaya Prilly yang dulu. Jangan murung kaya gini, bikin Dia sedih." Lanjut Kinan yang membuat Prilly semakin yakin atas keinginannya untuk bangkit. Dan berusaha melupakan trauma yang dialaminya.

Prilly menghela nafasnya dalam, lalu berhamburan jatuh dipelukan Kinan."Prilly janji kalau Prilly enggak akan nyerah sama keadaan ini. Prilly kuat dan Prilly bakal bisa ngehadapin semuanya kan, Kak?"

Kinan tersenyum. Mengelus lembut rambut belakang milik Prilly dan menyemangati gadis itu lagi dan lagi. "Pasti, dong."

*****

Ini hari ketiga Kiara terbaring diranjang putih dengan bau obat-obatan yang menyeruak di hidungnya tiap kali Ia menghela nafas. Iya, gadis itu masih dirawat dirumah sakit sampai hari ini meskipun kondisinya sudah jauh membaik.

Matanya mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang ada untuk mendapatkan fokus pengelihatan yang jelas. Objek pertama yang dilihatnya masih sama seperti tiga hari belakangan ini, yaitu adalah Ali yang sedang tertidur pulas sambil duduk disampingnya. Tangan pemuda itu, terasa mengenggam erat tangan kanan milik Kiara. Terasa nyaman dan menenangkan.

"Anak mama udah bangun, ya. Gimana badan kamu, Ra?" Pertanyaan Diva yang baru saja terlontar, membuat Kiara terkesiap dan beralih memandang ibunya itu sambil tersenyum. Mengisyaratkan bahwa Ia baik-baik saja. "Udah baikan banget kok, Ma. Tenang aja."

PERFECT SCANDALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang