"Guys, gue minta maaf, gue ngga bisa jadi ketua yang baik selama ini. Gue ngga bisa buat acara yang baik. Ngga bisa buat susunan penugasan yang baik. Gue ngga bisa apa apa. Bahkan acara pagelaran yang kita inginkan jadi yang terbaik, malah dirusak gitu aja sama mereka. Gue ngga bisa jaga acara ini sampe akhir. Semuanya, gue minta maaf. Maaf dari ketua yang ngga bisa ngurus anggotanya. Kalian ngerti kan gimana kerja keras kalian yang hancur karna mereka. Gue ngga bisa ngendaliin acara besar kita. Sekali lagi gue minta maaf." Suara Camel yang menyeruak dari ruang seni musik, mengalihkan fokus siswa kelas 9G yang sedang menyantap makan siang mereka.
"Shuutt.." Elly menenangkan Camel dengan lembutnya. "Mel, lo ngga salah. Dan disini ngga ada yang salah. Ngga ada yang boleh disalahkan. Kita semua keluarga kan? Jadi kita harus selesein masalah kita sama sama." Elly memeluk Camel dan disusul Olla dan kawan kawan.
"Ciye telletubbies!!" Suara Neni mengentalkan suasana. Mereka tertawa. Menertawakan masalah mereka. Bahagia.
"Udah ah cape pelukan mulu. Lanjut makan yok!!" Tutur Fitri yang doyan makan.
"Wuu.. dasar atlet makan." Ejek Elly yang diakhiri dengan tawanya yang khas membuat semua ikut tertawa.
*makan*
"Alhamdulillah. Kenyang kenyang kenyang!" Ucap Fitri menirukan gaya bicara upin dan ipin.
"Betul betul betul!" Sahut Reva.
"Udah kenyang pulang. Ceka ceka ceka!" Kata Neni sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
"Weka weka weka itukan ciri khas anak smp!" Timpal Olla.
"Ayok pulang!" Ajak Via.
Semua yang ada di ruang musik menghempaskan diri keluar. Olla dekaka mengambil sepeda mereka di parkiran.
Dari belakang, Olla ada yang menepuk pumdaknnya pelan. Olla menoleh daan..
"Pulang bareng!" Pinta orang yang menepuk pundak Olla.
"Hufft. Ternyata por por!" Olla menghembuskan nafasnya lega. "Iye iye. Bentar ambil sepeda duly. Lo bawa sepeda kan?"
"Iya. Gue ambil juga." Dimas mengambil seoedanya.
"Udah?" Tanya Olla.
"Yok pulang!" Sahut Dimas.
"Eh guys, gue pulang bareng Por Por yak?" Tanya Olla.
"Huuu.. ngga merakyat lu! Yaudah ati ati ya!" Jawab Hepi.
"Ciye ciyee.. suit suitt"
"Ahoy ahoy dah"
"Nanti bagi pj yak"
"Iya tuh. Jan kek Via sama Alfin!"
"Heh!" Sungut Via.
"Biasa aje kale! Emang bener kan ngga bagi pj lu!" Sorak Hepi
Olla dan Dimas menuntun sepedanya keluar dari area sekolah. Setibanya di depan gerbang, mereka mulai mengayuh sepeda menjauhi sekolah.
***
"Sabar ya!" Semangat Olla.
"Sabar buat?" Tanya Dimas penasaran.
"Ya-iya sabar. Buat show kalian yang kepotong gegara kelas lain" Olla menuntun sepedanya menuju danau kecil yang biasa ia dan Dimas datangi.
"Hh. Iya." Dimas tersenyum lebar selebar lebarnya. Manis. "Duduk sana yuk!" Ajak Dimas. Olla hanya menurut.
"La, lo tau ga cinta itu kaya apa?" Pertanyaan Dimas yang konyol seperti seribu tangan yang mengelitiki Olla.
"Huaaahahahahaha.." Olla terbahak lama.
"Lo kenapa nanya itu?" Olla merubah raut mukanya 180 derajat menjadi muka super serius.
"Ngga. Gue pengen ngerti arti sebenernya aja tentang cinta." Dimas memandang lurus ke depan. Memandangi langit sore yang indah. Perpaduan warna oranye jingga dan kehitaman menggambarkan keagungan sang pencipta. Subbahanalloh..
"Hhh." Olla menghembuskan nafasnya panjang. "Gue juga ngga ngerti apa itu cinta yang bener. Setau gue, cinta itu indaahh banget. Cinta itu mengajarkan kita tentang kesabaran. Sabar itu indah bagi yang ikhlas. Ikhlas dalam segala hal. Jadi cinta itu tentang keikhlasan bagi yang ngejalaninnya." Olla tersenyum lebar sembari memandang lurus ke depan.
"Lo nemu dari mana tu kata kata?" Ledek Dimas sambil memaik turunkan alisnya.
"Idih ngeselin lo!" Sungut Olla.
"Yee.. gitu aja ngambek." Dimas menoyor pipi Olla yang agak chubby.
"Apaan siih ah!" Olla membalas menoyor kepala Dimas.
Suasana kembali hangat. Canda tawa yang mereka keluarkan menambah keindahan suasana sore di danau kecil di kota Jatilawang. Burung burung yang berterbangan kembali kesarangnya setelah seharian bekerja membangun sarang dan mencari makan bersliweran menghiasi langit senja.
Hujan tiba tiba hadir di tengah tengah tawa mereka. Deras. Olla dan Dimas berlari menerobos hujan sambil menuntun sepeda.
"Kita neduh di sana yuk!" Ajak Dimas menuju tepian ruko. Olla hanya mengikui pergerakan Dimas. "Dingin?" Tanya Dimas.
Olla menggeleng. Kedua tangannya memgepal ditempelkan di depan bhidung dan bibirnya. Pucat. Rambutnya yang diikat sepunggung basah kuyup.
"Lo sakit?" Tanya Dimas khawatir. Punggung tanggannya di tempelkan jidat Olla. mengecek suhu tubuh Olla. "Pusing ngga? Ato kita ke rumah sakit aja?"
"Engga usah.. ntar juga mendingan kok." Sanggah Olla.
"Beneran ngga papa? Eh tunggu. Kayaknya gue punya jaket deh." Dengan cekatan Dimas mengambil jaket didalam tasnya dan memakaikan untuk Olla.
*5 menit kemudian*
"Ujannya udah agak mendingan. Pulang yuk!" Ajak Dimas lagi setelah melihat rintik hujan yang melamban.
"Okeh." Olla mengelap hidung yang bersin sedari tadi.
Berdua, mereka berjalan diiringi sepeda dan hujan yang memani perjalanan pulang Olla dan Dimas. Hening. Hanya tetesan air hujan yang membekukan suasana. Dingin mulai menyeruak sampai ke tulang. Tak lama Olla dan Dimas sampai di rumah Olla.
"Masuk yok. Angetin badan dulu. Ntar sakit loh!" Kata Olla.
"Ehmm.. gimana yak? Bentar aja ya, udah maghrib soalnya. Gue mau numpang sholat dulu aja ya!" Kata Dimas.
"Yaudah ayok masuk dulu. Ntar ya gue ganti baju dulu." Olla melenggang ke kamarnya. Meninggalkan Dimas yang duduk di kursi ruang tamu rumah orang tua Olla.
Tak lama Olla datang dengan mengenakan kaos oblong Merah dan celana jeans oblong selutut.
"Nih sarung sama sajadah. Kamar mandinya ada di belakang sebelah kiri. Ruang sholatnya di sebelah kamar gue. Deket tempat makan." Olla menyodorkan sarung biru tua dan peci hitam milk bapaknya.
"Okeh. Maksih. Gue sholat dulu ya! Lo ngga?" Tanya Dimas.
"Hehe peemes. Udah buruan dah!" Usir Olla.
"Iye iyee sabar kali." Sungut Dimas.
*sholat*
*selesai*
"Gue pulang ya La! Oh ya, orang tua lo lagi ke mana?"
"Biasa.. mungkin tugas lembur. Mama gue lagi ke rumah sodara mungkin." Kata Olla.
"Oo kalo gitu salam ya dari gue! Yaudah gue pulang. Byee!" Dimas mengambil sepedanya dan melangkahkan diri ke luar kawasan rumah Olla.
"Ati atiiii!" Teriak Olla dari rumah. Senyumnya melebar seketika. Entah rasa apa yang ia rasakan. Itu indah banget. Ngga bisa di gambarkan dah.
Suasana menghening. Sepi. Olla masuk ke dalam rumah yang kosong. Dan menutup rapat pintu rumahnya.
Edited
Jatilawang,
2 Des 2016
KAMU SEDANG MEMBACA
JHS Love Story
Teen FictionKetika benci menjadi teman dan teman berharap menjadi sayang. Kisah anak SMP yang mengalami cinta pertamanya dan di pertemukan dengan seorang cowok tengil, karena takdir. Pemula :)
