Tahun ajaran baru ini begitu dinantikan oleh aku, Haifa, remaja 14 tahun yang bersemangat sekaligus pemalas, ceria sekaligus moody, dan optimis sekaligus terkadang pesimis. Begitulah aku. Bagaimana pun hariku terjalani begitu riang karena keseharian bersama sahabatku, Mine.Hampir setiap hal kami melakukannya bersama. Tak jarang, aku mengajari Mine tentang materi pelajaran. Namun, Mine yang mengenalkanku dengan Irzan, teman sekelasku. Singkat cerita, Irzan adalah lelaki yang berbadan tinggi semampai, berhidung mancung, bermata sipit, dan berkulit cenderung putih. Sosok Irzan yang pendiam, sulit akrab, sulit bergaul, dan misterius sangat bertolak-belakang dengan aku.
Aku adalah pribadi yang mudah bergaul terutama pada lawan jenis. Tapi sebagai teman, tidak lebih dari itu. Seringkali, aku menjadi bahan candaan teman-temannya yang laki-laki. Tapi, aku membawa santai hal tersebut, karena aku paham itu sebatas candaan belaka. Mudahnya aku bergaul dengan lawan jenis adalah salah satu hal yang Mine ajarkan padaku. Meski begitu, aku tak ingin terjebak dulu pada hal percintaan hanya dengan sering bercanda dan berinteraksi dengan lawan jenis.
Hingga suatu ketika, aku, Irzan, dan teman-temannya sedang bercerita alias gosip bersama di belakang kelas. Aku duduk di tengah Irzan dan teman-temannya. Irzan berada persis di sebelah kananku sambil tengkurap lalu menjadikan tangannya sebagai sanggahan kepala menghadap kepadaku. Mine dan teman-temannya yang perempuan sedang asyik menonton film melalui laptop. Mine menunjuk ke arah ku, sambil seolah merasa ada sesuatu yang aneh di antara aku dan Irzan.
Merasa heran, aku bertanya pada "Mine, Ha? Kenapa Ne? Aku kenapa?"
Mine bertingkah seolah sedang menggodaku, "Eaaaakkk, mantap lah!" Karena kebingungan, aku diamkan perkataan Mine.
Tring!!!!
Bel istirahat kedua berbunyi nyaring. Mine mengajakku makan di kantin. Kita bercerita banyak hal sembari makan. Lalu, cerita kita mengarah pada... Irzan.
Mine spontan bertanya.
"Haifa.. kayaknya anak sekelas ada yang demen sama lu dah...""Hah? Kagak lah... perasaan lu doang kali... siapa emang?"
"Coba sebut dulu, biar gue berpikir
Ihsan? Rafi? Rezky? Irzan..?""Nah... Irzan..."
"Ah masa sih?"
"Emang tadi lu enggaj perhatiin dia apa? Pas cerita bareng lu tadi itu loh!"
"Enggak, emang kenapa?"
"Keliatan banget, Hai!"
"Au dah!" Aku membuang muka tidak peduli.
Mulai saat itu, entah kenapa aku mulai lebih memperhatikan Irzan. Tiap gerak-geriknya ku perhatikan. Sebatas untuk membuktikan perkataan Mine.
Waktunya sholat zuhur. Aku dan Mine sembari menunggu waktu adzan, kami duduk di dekat pintu masjid, nongkrong lebih tepatnya. Tak lama Irzan lewat lalu memukul iseng kepalaku dengan kopiahnya.
Plak!
"Aduhh! apaan sih, Zan?"
Mine berlagak begitu yakin, "Hai... gue semakin yakin, Hai!!"
"Yailah, anak cowok juga sering bercanda gitu yak!"
"Irzan beda Hai... dia pendiem, susah bergaul apalagi sama cewe. Dia enggak mungkin sebatas bercanda isengin elu..."
"Ah bodo amat ah!"
Semakin lama, aku merasa kesal dan tidak nyaman. Aku memang tipikal orang yang mudah merasa risih bila ada yang mendekatiku.
Entah benar karena dia suka, entah hal ini hanya firasat Mine belaka, aku tetap merasa risih. Tidak, aku tidak menjauhi Irzan secara perlahan. Aku jauhi dia secara terang-terangan dan signifikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerpen
Short StoryBaris kata yang terangkai, bukan hanya lembar-lembar berdebu di buku tebal untuk kau simpan dan tak pernah kau baca. Setiap hurufnya memiliki arti. Menceritakan padamu kisah yang begitu membekas di hati. Bagaimana cara sebuah tulisan dapat membuatmu...