Bagian 30

5.3K 499 3
                                        

Venus mencoba memejamkan mata, berharap kedua matanya segera mematuhi perintahnya. Harusnya dia segera bergegas tidur jika tidak ingin berangkat kerja dengan dua kantung mata yang menghias wajahnya. Jika itu sampai terjadi, Venus percaya, manusia pertama yang akan mencemoohnya adalah Winda. Lalu, dia akan merekomendasikan Venus beberapa produk kecantikan penghilang kantung mata. Dan, itu akan sangat menyebalkan.

Melirik ke arah jam yang ada di dinding, jarum menunjuk pada angka sepuluh. Venus masih belum mengantuk juga.

Lalu, nada pesan di ponsel Venus berbunyi.

Segera, Venus meraih ponsel yang ada di atas nakas. Sebuah nama tertera di layar: Romeo.

Selamat tidur.

Hanya dua kata itu, namun itu sudah cukup membuat Venus tersenyum lebar.

***

Seperti biasa, Venus berangkat ke kantor diantar ojek langganannya. Harusnya, hari ini dia memulai pekerjaan seperti biasanya. Namun, ketika dia sampai di lobi, seorang petugas security menghentikannya. Awalnya, Venus mengira dia akan diinterogasi atau apalah. Secara, petugas itu berbadan tinggi besar, membuat Venus mengkerut. Tapi, itu hanyalah bayangan Venus. Ketakutannya tak berdasar, setidaknya dia tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan kantor. Jadi, dia tidak perlu merasa takut.

″Ada apa ya, Pak?″ tanya Venus cemas.

″Ini,″ katanya.

Petugas itu memberikan setangkai mawar merah kepada Venus.

Venus terbengong-bengong dibuatnya. Petugas itu mengangguk singkat dan meninggalkan Venus tanpa penjelasan.

Ada apa ini? Apa Venus Venus baru saja mendapatkan setangkai bunga dari penggemarnya?

Menggelengkan kepala. Venus mencoba mengusir kebingungannya.
Ditatapnya bunga mawar itu. Bunga dengan kelopak besar, sepertinya dari jenis queen rose, mawar yang harganya di atas rata-rata. Jika setangkai mawar biasa dihargai lima sampai sepuluh ribu, maka mawar yang dipegang Venus harganya bisa berkisar di atas lima puluh. Fiuh, mawar yang fenomenal.

Lalu, Venus menyadari satu keanehan. Ada sebuah pesan yang diikat bersama mawar. Tulisannya: Heart beats fast.

Bingung. Venus hanya mengedikkan bahu. Memilih tidak ambil pusing.

Baru selangkah, Venus lagi-lagi dihentikan oleh kehadiran seseorang yang memberikannya sekuntum mawar. Kali ini tulisan yang tersemat di bunga itu ialah, colors and promises.

Heran. Ada apa ini sebenarnya?

Venus menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari kamera tersembunyi. Mungkin dia tengah dikerjai. Huh, saatnya Venus berburuk sangka.

Kembali, Venus mendapatkan sekuntum mawar. Tidak hanya sekali.
Satu per satu, Venus membaca pesan yang didapatnya.

How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone all my doubt sudenlly goes away somehow.
One step closer.

Tentu saja Venus mengenali pola pesan ini. bukan, lebih tepatnya, Venus mengenali lirik yang didapatnya ini. A Thousand Years. Tidak salah lagi.

Kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara musik, dan suara milik Christina Perri mulai mengalun indah melalui pengeras suara.

I have died everyday waiting for you.
Darling don't be afraid I have love you for a thousand years.
I'll love you for a thousand more.
And all along I believed I would find you.
Time has brought your heart to me.
I have loved you for a thousand years.
I'll love you for a thousand more.
One step closer.

Romeo, tersembunyi di antara puluhan pekerja yang berdiri dalam lobi, membawa sebuket bunga tulip berwarna merah. Venus hanya bisa terperangah menyaksikan itu. Musik terus berputar, mengisi ruang yang ada.

Jantung Venus berdebar kencang. Romeo mulai melangkah mendekati Venus yang berdiri mematung.

Lalu, dia berlutut di depan Venus.

″Ven,″ katanya, ″will you marry me?″

Debar di jantung Venus tak kunjung reda, kian lama semakin kencang, seolah jantung hatinya akan meloncat keluar dari tubuh Venus.

Venus menggigit bibir bawahnya. Takjub.

Tanpa terasa Venus menangis.

Tidak. Dia menangis bukan karena merasa sedih, air mata yang kali ini mengalir di wajah Venus merupakan air mata kebahagiaan.

Memeluk erat kumpulan mawar yang didapatnya, Venus menatap Romeo yang masih berlutut di depannya.

″Venus, maukah kau menghabiskan waktu bersamaku?″

Terdengar suara kor dari para karyawan yang merasa tersentuh dengan tindakan Romeo. ″Terima! Terima! Terima! Venus, say yes!″

Romeo mengulurkan sebelah tangannya. ″Maukah kau hidup bersamaku?″

Kali ini, Venus meraih tangan Romeo dan menggenggamnya. ″I will,″ katanya. ″Aku ingin berbagi bersamamu.″

Seulas senyum tersenungging. Romeo segera bangkit dan memeluk Venus, kontan hal itu menyebabkan semua orang yang menyaksikan langsung bertepuk tangan riuh.

″Ven....″

I love you,″ ucap Venus memotong.

Maka, hari itu tidak hanya kedua manusia itu yang merasa bahagia. Semua orang yang menyaksikan lamaran itu juga ikut terharu, berharap suatu saat ada orang yang akan melakukan hal serupa.
Winda pun mulai sesenggukan, melihat Venus dan Romeo yang masih berpelukan.

″Kapan, ya,″ tanyanya, ″ada pria yang mau melamarku seromantis ini?″

Tak lama kemudian, Winda pun mendapatkan jawaban dari Johan yang berdiri di sampingnya. ″Aku mau loh. Tinggal pilih, mau pakek mawar, melati, atau biar puas bunga matahari sekalian saja?″

Pria itu sukses menghancurkan suasana haru yang dirasakan oleh Winda. Satu-satunya hal yang akan dia lakukan sekarang adalah menjauhi Johan.

Venus (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang