10 : Flashback

4.1K 388 31
                                        


Seoul South Korea, 2001

Aku menggigit bibir bawahku ketika melihat satu-persatu teman-temanku di usir dari tempat tinggal kami. Menoleh ke sisi kiri-ku melihat Bibi Rin, yang selama ini menjaga kami hanya bisa menangis tanpa berbuat apa-apa. Satuhal yang menjadi pertanyaanku:

Kemana aku akan pergi setelah ini?

Dengan pelan aku berjalan menghampiri Bibi Rin kemudian wanita yang berusia tidak lagi muda itu mendekap tubuhku dengan erat. Berusaha menenangkanku, meski tubuhnya bergetar hebat. Tangisku pecah, hampir seperti meraung. Tidak banyak yang tersisa dari tempat tinggal kami. Bibi Rin mengatakan bahwa dia memiliki saudara di Gangnam dan kami akan pergi menumpang disana. Namun aku menggeleng, aku tidak ingin ke Gangnam. Aku ingin di Seoul, aku ingin mencari kesuksesanku disini. Bibi Rin terlihat menolak keputusanku, namun melihat kegigihanku akhirnya beliau melepasku pergi. Kami berpisah di stasiun, aku melambaikan tangan pada sekitar 10 anak yang berusia di bawahku dan 3 anak yang sepantar denganku. Bibi Rin lagi-lagi menangis, tapi beliau tetap tersenyum menenangkanku dari dalam kereta.

Aku memandang sendu pada kereta yang berjalan semakin cepat pergi dari pandanganku, kuhembuskan nafas pelan mencoba berfikir, kemana aku akan pergi?

Aku hanyalah seorang anak berusa 15 tahun yang tidak memiliki siapapun disini, jadi aku memutuskan untuk duduk sejenak di pelataran stasiun menekuk kedua kakiku dan menyembunyikan wajahku di dalamnya. Aku mencoba berfikir keras, sesekali aku terisak. Sambil terus menggigit bibir bawahku agar aku tidak menangis.

*

"Apa kau tersesat?" aku mendongak mendengar suara lembut itu. Mendapati seorang wanita berpostur tinggi dengan senyum memikatnya, kini tersenyum kearahku. Aku menghapus sisa-sisa air mataku dengan kasar.

"Kau tersesat?" tanya wanita itu lagi. Aku mengangguk tapi kemudian menggeleng. Dia tertawa pelan. lalu berjongkok mensejajarkan dirinya denganku.

"Aku Jung Seo Yoon. Siapa nama-mu anak manis?"

"Y-yoona. Im Yoona" jawabku gugup. Dia mengusap kepalaku dengan lembut. "Jadi Yoona, apa kau tersesat? Dimana keluargamu?"

"Aku yatim piatu, panti asuhan kami akan di gusur besok. Jadi para kondektur mengusir kami hari ini untuk meninggalkan tempat itu" Seo Yoon, wanita itu menatap iba kearahku.

"Lalu dimana ibu panti dan teman-temanmu yang lain?" aku menggeleng. "Mereka dan aku berpisah. Mereka ke Gangnam, tapi aku tidak ingin. Aku ingin meraih kesuksesan di sini"

Lagi-lagi wanita itu tersenyum menatapku. "Kau bisa tinggal denganku jika kau mau."

Aku berbinar menatapnya. Benarkah semudah itu?

"Tapi adahal yang harus kau ketahui jika kau ingin ikut denganku Yoona" dia menatapku sekilas. Raut wajahnya berubah serius. Dia menghela nafas. "Aku adalah seorang PSK, lingkungan tempat tinggalku bukanlah lingkungan yang pantas untuk kau tinggali. Tapi aku juga tidak mungkin tega membiarkanmu disini. Semua terserah padamu"

PSK? Pelacur?

Aku menatap wanita itu dengan intens, bagaimana mungkin wanita secantik dirinya ternyata melakukan pekerjaan kotor. Sebenarnya aku membutuhkan tempat tinggal. Tapi aku ragu, bagaimana jika Seo Yoon juga menjerumuskan aku ke sana?

"Seo Yoon?" panggilku. Wanita itu kini menatapku lagi. Masih dengan senyumnya.

"Jika aku memilih ikut denganmu, apa itu artinya. Suatu saat aku juga harus menjadi sepertimu?"

Scattered (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang