"Kebenaran yang paling menyakitkan adalah kebenaran yang selama ini disembunyikan dan kebenaran itu bagai Kartu As yang sudah dibuka oleh penyembunyi Kartu As itu. Aku kecewa."
-
-
-
-
-
Author POV
Taerin hanya diam memandangi jendela. Yang ia lihat hanya gumpalan awan putih serta langit biru yang begitu cerah serta matahari yang memamerkan cahaya silaunya. Perjalanan menuju California memakan waktu yang tidak sebentar, Chanyeol yang duduk di sebelah Taerin hanya menyandarkan kepalanya dipundak Taerin karena bosan. "Kau baik-baik saja 'kan?" Sudah lebih dari sepuluh kali Chanyeol menanyakan hal yang sama, dan jawaban Taerin tetap saja seperti sebelumnya,
"Aku baik-baik saja." Jawab Taerin. Chanyeol mengangkat kepalanya cepat lalu melipat tangannya, ia menghadap Taerin dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Aku tidak percaya karena setiap aku bertanya. Kau selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Katakan saja, kau kenapa?" Tanya Chanyeol lagi. Taerin menengok, melihat ke arah Chanyeol.
"Aku memang tidak kenapa-napa. Kau yang kenapa?" Tanya Taerin balik, "Dan sejak kapan kau menjadi.. lucu seperti ini?" Taerin mencubit dengan gemas pipi Chanyeol.
Chanyeol sadar. Banyak yang berubah dari dirinya. Ia mulai menjadi Chanyeol yang dulu, bukan lagi Chanyeol yang terpuruk akibat ditinggal cinta, karena cinta-nya yang baru datang lagi. Bahkan lebih indah dari cinta-nya yang lama. Chanyeol merentangkan tangannya, menawarkan Taerin untuk memeluknya tapi melihat ekspresi bingung Taerin membuat Chanyeol tertawa sambil menutup mulutnya.
"Tidak mau aku peluk?" Tanya Chanyeol. Taerin menaikkan sebelah alisnya, karena terlalu lama menunggu, akhirnya Chanyeol langsung memeluk Taerin tanpa persetujuan dari Taerin. "Aku tahu kau masih memikirkan soal tadi. Tapi berjanjilah padaku kalau kau akan melupakan kejadian itu dan jangan membuat dirimu takut lagi." Chanyeol mengelus kepala Taerin dengan lembut. Taerin melingkarkan tangannya dipinggang Chanyeol dan menaruh dagunya dipundak Chanyeol.
"Entah kenapa aku terus memikirkannya." Jawab Taerin sambil menutup matanya, merasakan kehangatan yang Chanyeol berikan untuknya. "Walaupun aku tidak melihat wajahnya tapi aku tahu kalau dia yang memberikan kotak itu." Teringat Taerin kepada sosok yang bersembunyi dibalik tembok, menggunakan pakaian serba hitam serta masker, kacamata, dan topi yang menutupi wajahnya.
"Yang terpenting bagiku. Kau baik-baik saja. Jangan buat aku khawatir karena kau terus memikirkan itu." Jawab Chanyeol tulus, "Setiap orang itu berhak benci, berhak bertindak sesuai keinginannya tapi tidak berhak untuk menyakiti orang lain. Karena Tuhan menciptakan manusia bukan untuk menyakiti atau disakiti, Tuhan menciptakan manusia untuk saling menguatkan, saling menyempurnakan. Karena sebenci apapun orang pada kita, dia tidak berhak menyakiti. Seperti ucapanku dulu, kita akan melaluinya. Together." Lanjut Chanyeol, Taerin mengangguk.
"Kehidupan itu bagai kita melewati tangga. Jika ada saja anak tangga yang rusak, kita tidak bisa melewatinya dan membuat kita terus diam ditempat itu. Kehidupan itu, walau sepahit apapun harus tetap dirasaran, sesusah apapun harus tetap dilewati, seberat apapun harus tetap ditanggung. Walau jika kita menginjak anak tangga yang rusak itu akan membuat kita jatuh kedasar, tetapi kita harus tetap melewatinya. Karena seperti bumi, kehidupan juga berputar. Kehidupan juga berjalan bagai waktu," sambung Taerin, kini Chanyeol mengangguk.
"Hei! Kenapa kita jadi orang-orang puitis seperti ini?" Taerin melepas pelukannya, menatap Chanyeol dengan tanya.
"Tidak masalah. Itu terdengar romantis," Chanyeol kembali memeluk Taerin. Membuat penumpang pesawat lain iri, apalagi sebagian besar dari mereka mendengar percakapan Taerin dan Chanyeol yang terbilang cukup keras tapi terdengar lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Troublemaker
Fanfiction[Complete Story] #105 IN FANFICTION (01.02.17) Dunia ini sempit menurutnya. Bukan salah Tuhan, karena Tuhan mencatat disetiap lembar buku hariannya tentang kehidupan mahluk-Nya. Ada yang seperti ini atau seperti itu. Tapi jika dia menginginkan dunia...
