Kalau soal maaf doang sih gampang, gue bisa maafin itu. Tapi ini menyangkut hati, siapa sih yang bisa dengan mudahnya hilangin sakit hati? Kasih tau gue pliss, karna gue pengen cepet cepet ilangin sakit hati ini.
Puluhan pesan memenuhi hand phone Nindi sekarang, ia bahkan tak perduli lagi dengan panggilan masuk yang terus berdering tersebut.
Pikirannya kalut dan ia hanya ingin sesekali tak perduli dengan sekitar, namun hati kecil nya tak bisa.
Dengan perlahan tangan tersebut terulur kearah nakas meja dan mengambil nya dengan perasaan yang berkecambuk.
Kenapa baru sekarang Lang, kenapa?
Disaat seperti ini Gilang sibuk mengiriminya pesan dan menelvon nya berkali kali, walau tak mendapat jawaban.
Biasanya Nindi lah orang pertama yang akan memulai mengirimi pesan atau hanya sekedar menelvon untuk mengobrol, walau hanya ditanggapi singkat oleh Gilang.
Hati nya kini terasa sakit, namun perasaannya tak bisa sedikit pun untuk membenci sosok yang sudah membuatnya terpuruk.
Gimana bisa lo bikin gue kaya orang tolol gini, terus mencintai walau tau bagaimana akhirnya nanti. Ya, begini kan akhir nya? Terluka.
Lagi lagi air mata membasahi kedua pipinya. Dalam gelapnya malam yang sunyi dan berteman kerisauan, Nindi masih terjaga.
Ia melirik jam yang berada tepat diatas meja samping tempat tidurnya, pukul dua dini hari.
Bagaimana dengan hari esok, apakah akan sama menyakitkan nya saat melihat kedua pasangan yang akan kembali bersatu setelah lama berpisah?
Helaan nafas pun terdengar didalam kamar yang sunyi tersebut dengan suara isakan yang perlahan memenuhi ruangan.
Tangisan pilu dengan isakan yang menyakitkan.
Sekarang apa yang harus gue lakuin, apa yang harus gue tunjukin ke lo kalo gue bisa tanpa lo. Gue harus apa Tuhan...
Gue emang bego!
Gue tolol!
Gue benci diri gue sendiri!
Gue benci diri gue sendiri yang kejebak sama perasaan cinta sepihak gini!
Kalau dipikir pikir, buat apa coba gue nangis sepanjang hari? Dengan nangis pun semua gak akan berubah. Semuanya udah berakhir.
Kan, terbukti. Gue emang bego!
Kini Nindi pun membaringkan tubuhnya diranjang nya yang empuk, matanya perlahan terpejam berusaha menenangkan diri nya sendiri. Namun dalam sekejap matanya terbuka kembali.
Ia tak bisa tidur sama sekali padahal esok ada jam kuliah pagi dengan dosen yang terbilang galak.
Gue gak bisa kaya gini terus!
Dengan segera ia bangun dari tempat tidur menuju meja belajarnya dan membuka setiap laci dengan gusar. Dan pada laci ketiga ia menemukan kotak obat.
Senyuman tipis terpampang diwajahnya yang kini pucat.
Tangan nya bergerak lincah membuka kotak obat tersebut dan mulai mengobrak abrik isinya. Senyuman nya semakin mengembang saat ia menemukan obat yang ia cari.
Mungkin dengan ini gue bisa tenang sejenak.
Setelah itu ia menaruh kembali kotak obat tersebut kedalam laci ketiga. Kakinya berjalan kembali kearah tempat tidur.
Ia memperhatikan tabung kecil yang didalam nya terdapat banyak pil besar berwarna putih.
Sejenak ia menimbang nimbang, ia tak yakin akan menggunakan obat tersebut namun karena pikirannya yang sedang kacau, ia pun membuka penutupnya dan mulai menuangkan obat tersebut ketangan kiri nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Do You Think It Makes Sense?
RandomApa yang lo rasain saat lo akhirnya pacaran sama cowok yang udah bertahun-tahun lo sukai? Bahagia? Hahaha omong kosong macam apa itu, nyatanya gue cuma dijadiin alat buat dia biar bisa balikan lagi sama mantannya. Gimana rasanya saat ketulusan dibal...
