Ternyata benar, Jogja sudah banyak berubah. Jalan-jalan semakin lebar dan ramai. Hampir di setiap lampu merah, terlihat mobil berbaris panjang. Motor pun memadati beberapa ruas jalan.
Semakin banyak toko yang berdiri. Hotel dan beberapa rumah sakit pun direnovasi menjadi lebih besar. Padahal baru dua tahun, tapi dapat kulihat perkembangannya.
Perjalanan dari Umbul Martani ke Malioboro, dulu biasa kutempuh hanya dalam waktu tiga puluh menit, sekarang bisa mencapai empat puluh lima menit. Itu pun dengan kondisi jalan yang tidak terlalu padat.
Begitu memasuki kawasan Malioboro, mulai terasa kepadatannya. Selama beberapa menit, taksi yang kunaiki terhenti di depan Malioboro Mall. Kata pak supir, kemacetan biasa terjadi di jam-jam sibuk seperti ini.
Berdasar informasi yang kudapat dari supir taksi, letak Butik Batik tak jauh dari Malioboro Mall. Oleh karena itu, aku memilih untuk turun di sini, dan melanjutkannya dengan berjalan kaki.
Sudah hampir sepuluh tahun aku tinggal di Jogja, tapi seingatku baru sekali atau dua kali aku ke Malioboro. Aku tidak suka keramaian. Di ruas kanan jalan, masih saja berderet kereta kuda–kami menyebutnya andong. Banyak orang yang keliru dengan menamainya dokar. Padahal antara andong dan dokar berbeda. Letak perbedaannya ada pada jumlah roda, bila andong memiliki empat roda, maka dokar hanya punya dua roda.
Di Malioboro–sejauh yang aku tahu–andong ini dipergunakan sebagai alat transportasi. Biasanya pelancong, baik dalam maupun luar negeri, ingin berkeliling kota Jogja atau mencari oleh-oleh Bakpia Pathok. Dengan mengendarai andong, mereka tidak perlu capek berjalan kaki.
Aku dapat melihat papan nama Butik Batik, hanya sekitar lima belas meter dari tempatku saat ini. Entah mengapa, aku merasa tidak asing dengan jalan yang kulalui. Seolah aku sudah sering kemari.
"Wah, tumben Mbak Nessa baru dateng? Kerinan* tho, Mbak?" (*bangun kesiangan)
Aku memandang bingung pada seorang ibu pedagang sandal kulit yang menyapaku, tapi dia memanggilku Nessa. Apa dia pikir aku ini Vanessa? Aku hanya balas tersenyum, demi sopan santun.
"Mbak Nes, tatto maneh yo. Tak kei diskon seket persen wes*." Seorang pemuda–yang sepertinya adalah tukang tatto temporer–itu pun menyapaku dengan Nes. (*Tatto lagi ya. Aku kasih diskon lima puluh persen deh)
Vanessa sepertinya sering ke sini, tapi kenapa mereka mengira bahwa aku adalah Vanessa. Aku menghentikan langkah di depan kaca etalase Butik Batik. Dadaku terasa bergemuruh, ada ragu yang terselip, tapi rasa keingintahuanku lebih besar. Aku menarik napas panjang, sebelum membuka pintu kaca.
"Mbak Nes, tuh Si Nyonya dari tadi udah marah-marah mulu. Dari mana aja sih, Mbak, jam segini baru dateng?" Seorang wanita yang kutaksir berumur dua puluh tahunan menyapa begitu kakiku menapak di dalam butik.
"Maaf, Mbak, sa-saya ingin bertemu dengan Mbak Kirana. Apakah ada?" tanyaku sesopan mungkin pada gadis itu.
Dia malah memandangku aneh, seolah aku adalah sesosok alien. Namun, gadis itu langsung tertawa.
"Wah, Mbak Nessa ngajak gojegan*. Wes sana, sudah ditunggu Mbak Kirana di dalem," ucap gadis itu sambil geleng-geleng, senyum geli masih saja menghiasi bibirnya. (*bercanda)
Di dalam? Dalam sebelah mana? Tapi tunggu dulu, kenapa kakiku melangkah sendiri, seolah dia sudah sangat hafal dengan tiap sudut ruang dari butik ini.
Aku membiarkan kakiku yang menuntun. Aku benar-benar takjub dengan yang kualami ini, semisal saat ini mataku ditutup, aku yakin masih bisa menemukan di mana Mbak Kirana berada.

KAMU SEDANG MEMBACA
ALTER EGO (TAMAT)
General FictionTuhan sangat ndak adil. Aku sudah kehilangan segalanya. Kebahagiaan, hidup tenteram, mahkota yang paling berharga, bahtera rumah tangga bahkan buah hatiku tercinta. Aku benci hidup ini. Benar-benar benci. Aku berada dalam dasar terbawah dari rotasi...